BALIEXPRESS.ID – Meski sempat mengalami pasang surut, budidaya rumput laut di Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, masih menjadi sumber penghidupan utama bagi sebagian masyarakat.
Salah satunya dijalani oleh Wayan Suwarbawa, Ketua Kelompok Budidaya Rumput Laut Segara Raksa, yang sudah menekuni usaha ini sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
Suwarbawa menceritakan, dirinya sudah mulai membantu orang tua membudidayakan rumput laut sejak tahun 1984, saat masih kelas IV SD. “Waktu itu saya ikut bantu-bantu orang tua. Saat SMP masih aktif, tapi setelah SMA dan kuliah sempat berhenti karena harus fokus belajar. Baru tahun 2001 saya kembali ke Lembongan dan mulai serius di budidaya rumput laut,” kenangnya.
Menurutnya, dahulu ada tiga jenis rumput laut yang dibudidayakan, yakni cottoni, spinosum, dan alvarezii. Namun, dalam dua tahun terakhir hanya jenis Cottoni yang masih bertahan. “Spinorum sekarang permintaannya sedikit dan harganya murah, sedangkan alvarezii rentan diserang hama ikan. Hanya Cottoni yang bisa bertahan sampai sekarang,” ujarnya.
Suwarbawa menilai perairan Lembongan sangat cocok untuk pengembangan rumput laut karena memiliki arus dan kondisi suhu yang stabil. Tahapan budidaya dimulai dengan pemilihan lokasi berpasir dan berbatu dengan gelombang tidak terlalu besar. Setelah itu dilakukan pemasangan patok dan tali induk, lalu bibit diikat dan ditanam di tali tersebut.
“Perawatannya cukup sederhana, hanya perlu rutin membersihkan lumut dan gulma. Penyakit yang sering muncul biasanya batang busuk, tapi itu tergantung musim,” jelasnya.
Harga bibit rumput laut saat ini berkisar Rp85 ribu per bentang (sekitar 5 meter). Dulu ia sempat menanam hingga 30 are atau sekitar 3.000 bentang, namun kini hanya mampu mengelola sekitar 500 bentang akibat berkurangnya tenaga dan lahan.
Suwarbawa mengakui dukungan pemerintah terhadap pengembangan rumput laut di Lembongan cukup besar, terutama sejak dibentuknya kelompok tani budidaya. Ia menuturkan, pada tahun 2017 aktivitas budidaya sempat menurun, namun tahun 2018 Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta melakukan kajian untuk memastikan kelayakan perairan Lembongan.
“Hasil kajian menunjukkan masih layak, dan pada 2019 masyarakat kembali bersemangat membudidayakan rumput laut. Waktu pandemi Covid-19, hampir 100 persen masyarakat terjun ke usaha ini,” katanya.
Kini harga rumput laut mencapai Rp16 ribu per kilogram, namun jumlah pembudidaya terus berkurang. “Saat Covid-19 ada sekitar 950 orang yang menanam, sekarang paling hanya 200 orang yang masih aktif,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah kembali memberikan perhatian, khususnya dalam hal pengadaan bibit unggul agar budidaya rumput laut di Lembongan bisa kembali bergairah dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. “Kalau ada bibit bagus dan dukungan terus berlanjut, saya yakin Lembongan bisa kembali berjaya lewat rumput laut,” pungkasnya. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana