BALIEXPRESS.ID-Duka mendalam menyelimuti warga Desa Karang Rejo, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat, atas kabar meninggalnya Argo Prasetyo (25) di Kamboja.
Pemuda tersebut ditemukan dalam kondisi penuh luka lebam dan kritis, sebelum akhirnya meninggal dunia pada Selasa, 30 September 2025, di Syavrieng Provincial Hospital, Kamboja.
Kabar tragis ini pertama kali mencuat melalui sebuah unggahan warga negara Vietnam di media sosial, yang menampilkan foto seorang pria dengan luka parah di wajah dan tubuh. Belakangan, korban dalam foto itu dikonfirmasi sebagai Argo Prasetyo.
Menurut keterangan sang adik, Ega Prasetya, Argo meninggalkan rumah pada April 2024 tanpa memberi tahu keluarga secara jelas tujuannya.
Beberapa bulan pertama, Argo sempat rutin menghubungi keluarga dan menyebut dirinya bekerja di sebuah restoran di Kamboja.
Baca Juga: Kecelakaan Kerja Bongkar Muat di Celukan Bawang, Pelindo dan Dinsnaker Lakukan Evaluasi Total
Namun, sejak awal 2025, komunikasi mulai jarang. “Awal-awal masih sering video call. Tapi masuk tahun ini mulai menghilang. Terakhir katanya restoran tempat dia kerja tutup,” ungkap Ega saat ditemui di rumah duka, Jalan Lintas Stabat–Tanjungpura, akhir pekan lalu.
Belakangan, keluarga mendapat informasi bahwa Argo sebenarnya tidak bekerja di restoran, melainkan di sebuah kantor scam di Kamboja.
Hal ini terungkap setelah seseorang mengirimkan foto Argo dalam kondisi kritis ke pihak keluarga.
“Kami baru tahu kenyataan itu setelah ada yang kirim foto abang saya dalam keadaan penuh luka. Waktu itu sudah sangat parah,” ujar Ega dengan mata berkaca-kaca.
Kabar mengejutkan datang pada Senin, 29 September 2025, saat Ega menerima pesan WhatsApp dari seseorang asal Vietnam yang mengaku menemukan dan menolong Argo.
Baca Juga: Dirjen Pajak Pecat 26 Pegawai Gegara Terima Uang Haram, Menkeu Purbaya: Bukan Zamannya Main-main
Dalam pesan tersebut disertakan foto Argo dengan wajah lebam, luka di kepala, dan leher.
Disebutkan bahwa Argo sempat menjalani perawatan selama empat hari di rumah sakit, namun keluarga baru mengetahui kondisinya pada hari kelima.
“Dia sempat hilang ingatan dan sulit bicara karena luka di kepala. Tapi nyawanya nggak tertolong,” kata Ega dengan nada lirih.
Kasus meninggalnya Argo menyoroti kembali nasib tragis pekerja migran non-prosedural yang kerap berujung menjadi korban eksploitasi dan kekerasan di luar negeri.
Keluarga berharap pemerintah Indonesia bisa membantu pemulangan jenazah Argo, sekaligus menindaklanjuti jaringan perekrutan tenaga kerja ilegal yang diduga memberangkatkan korban ke Kamboja.
Editor : Wiwin Meliana