BALIEXPRESS.ID-Sebuah video yang memperlihatkan kondisi memprihatinkan sumur komposter atau yang dikenal sebagai teba modern viral di media sosial.
Dalam video yang dibagikan akun Facebook bernama Gus Tulang, terlihat sumur-sumur komposter di sebuah lapangan di Tabanan, Bali justru dipenuhi sampah plastik dan residu anorganik.
Baca Juga: Tips Membeli iPhone 17 Pro
Padahal, sesuai fungsinya, sumur komposter seharusnya hanya menampung sampah organik untuk kemudian diolah menjadi kompos.
Mirisnya, dalam video tersebut, teba modern yang dirancang menyerupai meja dengan kursi untuk bersantai itu malah digunakan sebagai tempat pembuangan sampah tak terurai.
"Sedikit masukan untuk pengelola lapangan: perlu ditambahkan media edukasi dan cara penggunaan di sekitar lokasi sumur komposter, disediakan tempat sampah daur ulang dan residu, serta petugas pengawas yang bisa sekaligus mengedukasi pengunjung," tulis Gus Tulang dalam unggahannya dikutip pada Selasa (14/10/2025).
Baca Juga: Nasib Sial Warga Seririt Buleleng, Honda Scoopy Hilangg saat Ditinggal Menyemprot Rumput di Kebun
Ia menambahkan, lokasi yang ramai dikunjungi masyarakat sebenarnya bisa menjadi peluang untuk edukasi pengelolaan sampah berbasis sumber dengan biaya yang jauh lebih murah dibandingkan menggelar seminar atau ceramah khusus.
"Tanpa bermaksud menggurui, semoga masukan ini bisa sampai ke pengelola atau instansi terkait dan diterima dengan baik. Semoga ya. Yuk bisa yukkk," lanjutnya.
Unggahan ini langsung mengundang berbagai reaksi dari warganet. Banyak yang menyayangkan kurangnya edukasi tentang penggunaan sumur komposter tersebut.
"Yang dimaksud dengan teba modern itu adalah tempat ngutang sampah hasil kegiatan dari orang-orang modern," sindir salah satu warganet.
Baca Juga: Bupati Sanjaya Sampaikan Empat Ranperda Strategis dalam Rapat Paripurna DPRD Tabanan
Komentar lain menyoroti kurangnya papan informasi di lokasi. "Kurang papan petunjuk penggunaan jadi masyarakat salah kaprah. Bahkan kadang setelah dikasih papan petunjuk pun, masih sering salah fungsi karena masyarakat yang malas membaca,"tulis warganet.
Fenomena ini kembali menyoroti pentingnya edukasi dan pengawasan dalam implementasi teknologi pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Tanpa pemahaman dan partisipasi publik, program sebagus apapun bisa kehilangan fungsinya.
Editor : Wiwin Meliana