Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kebisingan Ganggu Kenyamanan, Warga Datangi PLTGU Pemaron Malam-malam

Dian Suryantini • Rabu, 15 Oktober 2025 | 14:00 WIB

Warga yang mendatangi kantor PLTGU Pemaron karena resah dengan kebisingan dari mesin pembangkit listrik.
Warga yang mendatangi kantor PLTGU Pemaron karena resah dengan kebisingan dari mesin pembangkit listrik.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Suara bising dari Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Pemaron, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, kembali memantik keresahan warga sekitar. Mereka mengaku sudah terlalu lama menahan kebisingan yang tak kunjung reda, meski berbagai janji telah diucapkan oleh pihak pengelola dan pemerintah.

Maryono, salah satu warga, dengan nada penuh emosi menyampaikan keluhannya. “Kami datang untuk menyampaikan keluhan atas gangguan dari PLTGU. Suaranya sangat bising sekali. Menyakitkan hati, menyakitkan warga semua. Bikin gelisah, bikin resah. Semuanya mereka yang bikin,” ujarnya, saat melakukan aksi protes, Selasa (14/10) malam.

Maryono bersama beberapa warga mendatangi PLTGU Pemaron. Sekitar pukul 21.30 wita, mereka berada di depan pintu masuk PLTGU. Suara mesin dari pembangkit listrik itu pun terdengar hingga ke jalan raya. Maryono menuturkan, kebisingan dari pembangkit tersebut sudah berlangsung selama setahun terakhir. Warga, katanya, sudah berulang kali diberi janji akan ada perbaikan, peredam suara, bahkan kompensasi. Namun semua itu belum dirasakan hingga kini.

“Katanya jam 7 malam selesai, tapi nyatanya seperti ini. Katanya ada gangguan di Gilimanuk, terus di Celukan Bawang. Ada saja alasannya. Kami merasa dipermainkan,” tambahnya.

Kebisingan yang ditimbulkan bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berdampak pada kesehatan dan psikologis warga. Banyak anak-anak dan lansia yang sulit beristirahat karena suara mesin yang terus berdengung hingga malam hari.

“Kami tidak menuntut banyak, kami hanya ingin ketenangan. Kami banyak anak kecil, banyak lansia sakit. Tersiksa kami,” ucap Maryono.

Ia menegaskan, warga tidak ingin bertindak anarkis. Mereka hanya menuntut kejelasan dan tindakan nyata dari pihak PLTGU maupun pemerintah daerah. “Kami tidak mau anarkis, tidak mau kekerasan. Tapi ini sudah satu tahun. Dijanjikan ini-itu, kami iya saja. Katanya ada kompensasi, ada peredam suara. Gak nyampe ke telinga kami,” keluhnya.

Maryono bahkan menyebut, jika ketenangan tidak bisa dikembalikan, warga berharap pemerintah atau pihak pengelola membeli saja aset rumah mereka. “Kalau tidak bisa mengembalikan ketenangan itu, beli aja aset kami. Ganti rugi, beres sudah,” katanya tegas.

Kondisi lingkungan sekitar PLTGU disebut semakin tidak layak huni. Selain kebisingan, warga juga merasakan getaran dan polusi udara.

“Getaran, polusi, kebisingan, semua kami rasakan. Kami sudah bosan mendengar itu. Ini sudah tidak normal,” ujarnya.

Kekecewaan warga semakin besar setelah mengetahui bahwa sebagian besar suplai listrik dari PLTGU justru dialirkan ke wilayah Bali Selatan.

“Kebutuhannya kan di Bali Selatan, tapi kenapa harus di sini yang jadi tumbal? Menurut pak wakil bupati, suplai listrik di Buleleng gak kekurangan. Katanya ini untuk suplai di selatan,” kata Maryono.

Meski sudah berulang kali mengadu, hingga kini warga belum merasakan penanganan nyata. Mereka tetap bertahan di rumah masing-masing sembari menunggu kepastian penyelesaian.

“Selama ini belum ada penanganan, kami masih tetap di sini sampai ada penyelesaian. Kami tidak nyaman di rumah. Rumah saya 40 meter dari PLTGU ini. Jangankan suara mesin, orang kencing di sana aja kedengaran kok di rumah saya,” tutupnya. ***

Editor : Dian Suryantini
#pembangkit listrik #emosi #pltgu #Resah #pemaron #buleleng