Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

I Komang Artayasa, Pemuda Pembuat Dodol dari Desa Julah

Dian Suryantini • Jumat, 17 Oktober 2025 | 17:59 WIB

I Komang Artayasa saat menjual dodol buatannya di salah satu even di Singaraja.
I Komang Artayasa saat menjual dodol buatannya di salah satu even di Singaraja.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Asap putih mengepul pelan dari tungku tanah di dapur terbuka rumah I Komang Artayasa di Desa Julah, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Di balik kepulan asap itu, tangan pemuda 29 tahun ini terus bergerak ritmis, mengaduk adonan dodol di dalam kuali besar. Api dari kayu bakar menjilat dasar kuali, menyalurkan panas alami yang membuat dodol perlahan mengental dan mengilap. 

“Kalau pakai kompor, rasanya nggak sama,” ujarnya sambil tersenyum. Tangannya tak henti mengaduk.

Begitulah keseharian Komang—pemuda yang kini menjadi penerus usaha dodol tradisional milik keluarganya, Dodol Bali Mula Mesari. Sejak pagi ia sudah bergelut dengan tepung ketan, gula, santan, dan pewarna alami dari kayu secang. Semua bahan ia olah secara manual, tanpa mesin, tanpa alat modern.

“Rahasia dodol itu di adukannya. Harus sabar, nggak boleh berhenti sampai adonan berat,” katanya. Untuk satu kilogram tepung, ia butuh waktu sekitar satu setengah jam mengaduk hingga matang sempurna.

Bagi masyarakat Julah, dodol adalah bagian dari kehidupan, terutama dalam ritual keagamaan. Saat hari suci Galungan, misalnya, dodol menjadi persembahan wajib di setiap rumah, bersanding dengan kue satuh.

“Kalau di Julah, biasanya pakai tepung injin, atau ketan hitam,” terang Komang. Dodol dianggap simbol rasa syukur, ketulusan, dan manisnya kehidupan yang dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Namun di balik manisnya dodol yang kini mulai dikenal banyak orang, perjalanan Komang justru berawal dari masa lalu yang getir. Ia mengaku sempat tak peduli pada usaha ibunya, Wayan Sarining, yang sudah membuat dodol sejak 2005.

“Dulu saya nggak mau bantu. Kakak yang bantu ibu. Saya malah sering mabuk-mabukan,” kenang pria kelahiran 14 Juli 1996 ini.

Baca Juga: Rona Rasa di Pagi Motley, Kisah Anya dan Kain Bermotif Perasaan

Hidup membawanya merantau ke banyak tempat. Ia pernah bekerja di percetakan di Karangasem, pindah ke Singaraja, lalu bergabung di Bali Pure—sebuah usaha lokal pengolahan minyak kelapa dan rempah-rempah tradisional di Sembiran. Tujuh tahun bekerja di sana membuatnya memahami arti kerja keras dan ketekunan.

“Dari situ saya mulai berubah. Saya pikir, kenapa nggak bantu ibu aja?” ujarnya.

Keputusan itulah yang mengubah hidupnya. Komang kembali ke rumah dan memutuskan menekuni pembuatan dodol. Ia bukan hanya membantu, tapi juga memperluas jangkauan usaha ibunya. Kini, Dodol Bali Mula Mesari diproduksi setiap hari, dari satu kilogram adonan di hari biasa, hingga delapan kilogram menjelang hari-hari besar keagamaan.

Yang membuat dodol mereka unik bukan hanya rasanya, tapi juga cara membungkusnya. Alih-alih plastik, Komang dan ibunya tetap menggunakan kelobot jagung sebagai pembungkus alami.

“Kulit jagung ini kami datangkan dari Karangasem. Di sini susah, orang udah jarang tanam jagung,” jelasnya.

Setiap potong dodol kemudian dikemas dalam besek atau keranjang bambu, menghadirkan tampilan yang sederhana namun berkarakter. “Kami ingin tetap mempertahankan nuansa Bali-nya,” kata Komang.

Tak heran, dodol buatannya kini mulai dikenal luas. Ia memasarkan produknya lewat media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Facebook. Dari sana, pesanan datang dari Denpasar, Ubud, Singaraja, hingga Lombok. “Pernah juga dibawa ke Inggris sebagai oleh-oleh,” ujarnya bangga.

Varian rasanya pun beragam—nangka, durian, hingga kayu secang dengan warna merah alami yang khas. Rasa dodolnya manis, lembut, dan legit tanpa berlebihan. Cocok disantap dengan secangkir kopi di pagi hari atau menjadi teman ngobrol sore. Namun sebelum dodol itu dijual, Komang selalu mengambil sedikit untuk diletakkan di palinggih di samping dapurnya. “Untuk persembahan. Biar berkah,” katanya pelan. ***

Editor : Dian Suryantini
#kompor #tejakula #kayu bakar #Julah #dodol #galungan #bali mula