Dosen upakara Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan, Dr. Wayan Murniti, M.Pd menyebut Gayah berasal dari disusun dari tulang-tulang hewan umumnya babi yang ditata kembali menyerupai bentuk semula, melambangkan proses “menghidupkan kembali” yang disebut bangun urip.
Pada bagian atas, deretan sate yang beraneka jenis ditancapkan secara simetris sebagai simbol senjata para Dewa, kekuatan penciptaan, serta lambang kesuburan dan kemegahan alam semesta.
Susunan Gayah terdiri atas beberapa jenis sate yang masing-masing memiliki makna filosofis. Pertama adalah sate pengideran, yaitu deretan sate yang melambangkan senjata dari sembilan Dewa penguasa arah mata angin atau Dewata Nawa Sanga.
Dalam mitologi Hindu Bali, sembilan Dewa tersebut menjaga kesetimbangan semesta dari segala arah utara, selatan, timur, barat, dan titik-titik di antaranya. Setiap jenis sate pengideran mengandung lambang kekuatan Dewa tertentu.
Misalnya, sate sepit gunting melambangkan trisula, senjata Dewa Sambhu yang berkuasa di arah timur laut. Sate pipid atau suduk ro melambangkan angkus, senjata Dewa Sangkara di barat laut. Sate cakra adalah lambang senjata Dewa Wisnu di utara, sementara sate jepit babi mewakili bajra atau genta milik Dewa Iswara di timur.
Di barat, terdapat sate jepit balung yang melambangkan nagapasa milik Dewa Mahadewa. Di tenggara, sate penyeneng melambangkan dupa Dewa Maheswara, sedangkan di barat daya, sate pras menjadi simbol moksala senjata Dewa Rudra.
Sate gada di selatan menjadi lambang Dewa Brahma, dan pada bagian puncak berdiri sate kuung bungan duren atau sate bagia/dangsil, melambangkan padma bunga teratai suci senjata Dewa Siwa, penguasa arah tengah.
Selain itu, terdapat sate hiasan yang berfungsi sebagai simbol isi bumi atau Bhuana Agung. Jenis ini terdiri atas sate kuung tunggal melambangkan kesuburan tumbuhan plawa, sate bingin melambangkan keagungan, sate cepaka dan sate jepun mewakili keindahan dan keasrian, sementara sate nagasari dan sate lawangan menjadi simbol kemegahan dan gerbang dunia.
Seluruh sate hiasan tersebut memperindah tampilan Gayah sekaligus menegaskan makna estetis dan kosmologisnya.
Komponen penting lainnya adalah sate pengurip-urip yang berfungsi menunjukkan jumlah urip atau energi hidup dari masing-masing Dewa Nawa Sanga. Jenisnya antara lain sate kablet, sate asem, dan sate lembat. Ketiga sate ini memiliki makna penciptaan dan penyambung kehidupan, sekaligus menjadi ornamen yang mempercantik susunan Gayah.
Bagian paling menarik dari pembuatan Gayah adalah tahap penyusunan tulang hewan kurban yang dikenal dengan sebutan bangun urip. Dalam tahap ini, tulang-tulang babi seperti kaki (balung batis), tulang kering (balung linggis), tulang paha (balung ketupang), rusuk (balung ige), punggung (balung gegending), serta tengkorak dan ekor disusun kembali menyerupai bentuk semula.
Penataan ini bukan semata teknis, tetapi juga simbolis: tindakan “menghidupkan” kembali jasad hewan sebagai persembahan kepada para Dewa, menandakan penghormatan terhadap kehidupan yang telah dikorbankan.
Setelah kerangka selesai, bagian kepala babi menjadi tempat menancapkan deretan sate pengideran dan sate hiasan. Penataan dilakukan dengan ketelitian tinggi, menyesuaikan arah mata angin dan urip Dewa yang disimbolkannya. Setiap pembuat Gayah atau tukang banten memiliki gaya artistik tersendiri, menjadikan setiap Gayah unik dalam bentuk dan tata hiasnya.
Sesuai dengan tingkatan upacara dalam sistem nista, madya, dan utama, Gayah dibagi menjadi tiga jenis: Gayah Sari, Gayah Utuh, dan Gayah Agung. Ketiganya berbeda dalam bahan, jumlah sate, serta tingkat kerumitan bentuknya.
Gayah Sari disebutnya berbentuk paling sederhana. Alasnya terbuat dari kelapa, dengan sembilan sate pengideran lengkap dan tambahan beberapa sate hiasan sesuai kreativitas pembuatnya. Puncaknya menggunakan sate kuung bungan duren. Jenis ini digunakan pada upacara tingkat nista atau sederhana, misalnya dalam bebangkit gerombong.
Gayah Utuh memiliki susunan yang lebih rumit. Alasnya menggunakan kepala babi, dengan sate pengideran dan sate hiasan lengkap serta tambahan sate pengurip-urip yang mengikuti jumlah urip dari masing-masing Dewa Nawa Sanga. Sebagai contoh, Dewa Wisnu di utara memiliki urip 4, Dewa Iswara di timur 5, Dewa Brahma di selatan 9, hingga Dewa Siwa di tengah dengan urip 8.
Selanjutnya, pada Puncak Gayah Utuh menggunakan sate dangsil bertingkat tiga hingga lima, mencerminkan hierarki kosmos. Gayah jenis ini biasanya dipersembahkan dalam upacara tingkat menengah (madya), seperti bebangkit bogem atau mecagak.
Adapun Gayah Agung merupakan bentuk tertinggi dan paling megah. Selain memakai semua unsur sate pengideran dan sate hiasan, jumlah sate disesuaikan dengan urip masing-masing Dewa secara penuh. Struktur Gayah Agung juga dilengkapi dengan badan bungkur — alas menyerupai bangunan pura, dihiasi ukiran Bali seperti karang boma, karang goak, dan simbar.
“Puncaknya menjulang dengan dangsil bertingkat tujuh, sembilan, hingga sebelas, menandakan kesempurnaan semesta. Gayah Agung ini digunakan dalam upacara besar atau tingkat uttama,” kata Murniti.
Posisi Penting Gayah dalam Yadnya
Gayah digunakan dalam berbagai jenis Panca Yadnya atau lima bentuk persembahan suci: Dewa Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra Yadnya, Rsi Yadnya, dan Bhuta Yadnya. Masing-masing memiliki bentuk dan tingkat Gayah yang disesuaikan dengan tujuan upacara.
Dikatakan Murniti, pada Dewa Yadnya, seperti odalan di pura atau mapedagingan, Gayah digunakan secara lengkap dengan sate pengideran, pengurip-urip, dan sate hiasan. Posisinya diletakkan di depan pelinggih atau di piyasan tempat banten utama. Untuk odalan nyatur atau upacara besar, Gayah ditempatkan di bawah surya atau pengubengan sebagai lambang pemanggilan Dewa.
Begitu juga dalam Manusa Yadnya, seperti upacara metik atau perkawinan, Gayah Sari dan Gayah Utuh sering digunakan. Sate pengideran dapat dikurangi, cukup disertai sate hiasan dan penguripan sebagai simbol restu kesuburan dan kesejahteraan bagi manusia.
“Kalau upacara Pitra Yadnya, khususnya pengabenan sawa preteka atau pengabenan tingkat utama, digunakan Gayah Utuh dengan semua sate pengideran namun tanpa dangsil. Fungsi Gayah di sini adalah sebagai penghantar roh menuju penyatuan dengan alam Dewa” paparnya.
Rsi Yadnya, seperti upacara medwi jati bagi para sulinggih, memakai Gayah Sari atau Gayah Utuh dengan lima jenis sate pengideran. Penempatannya di bawah surya atau ayaban, melambangkan penghormatan terhadap guru rohani.
Sementara dalam Bhuta Yadnya, seperti caru tawur gentuh, manca wali karma, atau ekadasa rudra, Gayah berfungsi menyeimbangkan energi alam. Jenis Gayah yang dipilih sari, utuh, atau agung disesuaikan dengan tingkat bebangkit dan besarnya upacara.
Lebih jauh, Gayah tidak hanya dipandang sebagai benda ritual, tetapi juga miniatur kosmos. Dalam konsepsi Hindu Bali, semesta terbagi menjadi tiga tingkatan atau Tri Bhuana: Bhur Loka, Bwah Loka, dan Swah Loka. Ketiga dunia ini diwujudkan secara simbolik dalam struktur Gayah.
Bagian bawah, yaitu alas gayah yang tersusun dari tulang babi, melambangkan Bhur Loka dunia bawah tempat para bhuta kala atau energi kasar. Bagian tengah, badan gayah, tempat deretan sate pengideran dan sate hiasan ditancapkan, melambangkan Bwah Loka dunia manusia yang dipenuhi aktivitas dan dinamika kehidupan. Puncak Gayah, tempat berdirinya sate bagia atau sate kuung bungan duren, mewakili Swah Loka atau alam para Dewa.
Bahkan hiasan pada bagian belakang Gayah Agung yang menyerupai kayonan atau gunungan menggambarkan gunung sebagai sumber kehidupan dan pusat jagat raya. Dengan demikian, Gayah merupakan representasi utuh dari alam semesta, tempat semua unsur hewan, tumbuhan, manusia, dan Dewa menyatu dalam satu kesadaran sakral.
Ia menambahkan, ecara religius, Gayah adalah simbol persembahan total manusia kepada pencipta. Proses penyusunan tulang dan sate bukan hanya kerja tangan, tetapi juga sebagai simbol menghidupkan kesadaran akan kesatuan antara hidup dan mati, antara tubuh dan roh, antara alam bawah dan alam atas.
Sedangkan dari sisi estetika, Gayah menjadi bukti tingginya seni ritual masyarakat Bali. Setiap bagian Gayah ditata dengan keseimbangan visual dan nilai simbolik. Warna sate, tekstur tulang, dan ornamen hias menunjukkan perpaduan antara fungsi religius dan cita rasa keindahan, sehingga Gayah bukan sekadar benda upacara, tetapi juga karya seni spiritual. (dik)
Editor : I Putu Mardika