BALIEXPRESS.ID - Para tahanan di Rutan Kelas IIB Negara, Kabupaten Jembrana, menunjukkan hasil positif dari program pembinaan kemandirian. Hari ini, mereka berhasil memanen ikan lele yang telah dibudidayakan selama dua bulan terakhir.
Baca Juga: Melebihi Target, Pendapatan PKB dan BBNKB di Badung Surplus
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pembinaan keterampilan dan kemandirian yang rutin digelar pihak Rutan, bertujuan agar warga binaan memiliki kemampuan berwirausaha setelah bebas nanti.
Sejak bulan Agustus lalu, sekitar 10.000 bibit lele disebar di empat kolam budidaya di dalam lingkungan Rutan. Para tahanan dilatih untuk mengelola seluruh proses budidaya, mulai dari penebaran benih, perawatan, hingga panen dan pemasaran hasilnya.
Baca Juga: Makna Sate Gayah dalam ritual Hindu di Bali: Disusun dari Tulang Hewan, Simbol Dewata Nawa Sanga
Kepala Rutan Kelas IIB Negara, I Gusti Agus Putra Mahendra, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan semata-mata mencari keuntungan, tetapi berorientasi pada proses pembinaan.
“Bentuk pembinaan di Rutan Negara ini tidak mengutamakan hasil, tapi prosesnya. Tujuannya agar warga binaan memiliki keterampilan dan kemandirian saat kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga: Program Beasiswa, Biaya Kuliah, Laptop, Hingga Kos Bakal Ditanggung Pemkab Badung
Dari hasil panen kali ini, lebih dari dua kwintal lele berhasil dipanen. Dengan harga jual Rp20.000 per kilogram, total pendapatan mencapai lebih dari Rp4 juta.
Dana hasil penjualan lele tidak hanya disetor ke kas negara, tetapi juga sebagian diberikan kepada para tahanan sebagai bekal selama menjalani masa hukuman, atau disalurkan kepada keluarga mereka.
Selain budidaya lele, Rutan Kelas IIB Negara juga mengembangkan berbagai kegiatan produktif lainnya, seperti budidaya ayam petelur, sapi, kambing, ikan nila, babi, serta bercocok tanam.
Melalui program ini, pihak Rutan berharap pembinaan yang dilakukan mampu memberikan dampak positif dan membentuk mental mandiri bagi warga binaan, sehingga setelah bebas nanti mereka bisa berkontribusi secara produktif di tengah masyarakat. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana