Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mesin Pengolah Sampah Jadi Bahan Bakar RDF di Jembrana Gagal Beroperasi Optimal, Rencana Ditarik ke Jakarta

I Gde Riantory Warmadewa • Minggu, 19 Oktober 2025 | 16:17 WIB
Mesin pengolahan sampah menjadi RDF milik PT WGS yang ada di TPA Pesh, Jembrana.
Mesin pengolahan sampah menjadi RDF milik PT WGS yang ada di TPA Pesh, Jembrana.

BALIEXPRESS.ID - Mesin pengolahan sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) milik PT Wisesa Global Solusindo yang terpasang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Peh, Banjar Peh, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, rencananya akan ditarik oleh pihak perusahaan.

Langkah ini diambil karena mesin yang didatangkan sejak Juli 2024 tersebut tidak dapat beroperasi secara optimal.

Sejak tiba di Jembrana, mesin RDF itu hanya sempat berfungsi satu kali, kemudian berhenti akibat kendala bahan baku berupa sampah kering, sementara fasilitas pendukung seperti hanggar penyimpanan belum tersedia.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jembrana, I Dewa Ary Candra Wisnawa, membenarkan adanya rencana penarikan mesin oleh pihak perusahaan.

“Mesin RDF itu memang sejak datang baru sempat beroperasi sekali. Kendalanya pada kebutuhan sampah kering, sementara saat itu Pemkab belum memiliki hanggar atau tempat penampungan yang memadai,” jelasnya, Jumat (17/10/2025).

Menurut Ary, penarikan mesin tersebut bukan karena pengembalian oleh Pemkab, melainkan inisiatif PT Wisesa Global Solusindo untuk membawa mesin ke Jakarta guna dilakukan perawatan dan servis.

Adapun perjanjian kerja sama (PKS) antara Pemkab Jembrana dan pihak perusahaan masih berlaku.

“Pihak perusahaan sempat datang ke kantor kami. Mereka menyampaikan bahwa karena mesin belum dipakai, akan dibawa ke Jakarta dulu untuk diperbaiki dan dirawat. Kami memahami itu, karena kalau dibiarkan di sini tanpa beroperasi juga akan rusak,” ujarnya.

Ary menambahkan, kendala utama mesin RDF adalah kebutuhan bahan baku berupa sampah kering dengan tingkat kelembapan rendah, yang sulit dipenuhi terutama saat musim hujan.

“RDF itu tidak bisa bekerja maksimal jika bahan bakunya basah. Kalau terkena hujan, proses produksinya jadi percuma,” jelasnya.

Meski demikian, Pemkab Jembrana memastikan bahwa sistem pengolahan sampah berbasis RDF tetap akan diterapkan.

Saat ini, pemerintah daerah tengah membangun hanggar baru dan menunggu kedatangan mesin RDF bantuan dari Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Provinsi Bali.

“Kami sedang menyiapkan solusi. Hanggar sedang dibangun, dan mesin RDF bantuan dari BKK Provinsi Bali sedang dalam proses pengadaan. Rencananya pada akhir Desember nanti akan diuji coba terlebih dahulu,” terangnya.

Nantinya, Pemkab Jembrana akan melakukan evaluasi terhadap efektivitas mesin RDF baru tersebut. Jika hasilnya memadai, kemungkinan besar mesin milik PT Wisesa tidak lagi diperlukan.

“Setelah uji coba, baru kami putuskan apakah akan tetap menggunakan mesin RDF dari PT Wisesa sebagai pendukung, atau cukup dengan mesin baru dari BKK Provinsi Bali,” pungkas Ary. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#RDF #sampah #jembrana