Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Terancam Erosi, Puluhan Hektar DAS di Badung Rusak

Putu Resa Kertawedangga • Senin, 20 Oktober 2025 | 00:14 WIB

Kondisi DAS Tukad Mati, Kelurahan Legian, Kecamatan Kuta.
Kondisi DAS Tukad Mati, Kelurahan Legian, Kecamatan Kuta.

BALIEXPRESS.ID - Kondisi darerah aliran sungai (DAS) di Kabupaten Badung banyak mengalami kerusakan.

Bahkan lahan kritis mencapai puluhan hektar dan banyak ditemukan di kawasan hulu.

Kondisi ini pun dapat menyebabkan erosi dan memparah kerusakan lingkungan jika tidak mendapatkan rehabilitasi atau reboisasi secepatnya.

Baca Juga: Tingkatkan Kunjungan Wisatawan, Museum Bom Bali Diharpakan Segera Dibangun

Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Pertamanan DLHK Badung, I Wayan Narayana, Minggu (19/10).

Menurutnya, berdasarkan data yang telah dihimpun lahan di DAS mengalami kerusakan mencapai 70,6 hektar.

Meski demikian, Pemkab Badung disebutkan telah menyiapkan langkah penanganan melalui reboisasi terpadu.

Baca Juga: Tak Sekadar Adu Cepat, Trek-Trekan di Klungkung Disinyalir Jadi Arena Taruhan hingga Puluhan Juta

“Lahan kritis di Kabupaten Badung sudah mencapai 70,6 hektar,” ujar Narayana.

Pihaknya menyebutkan, kondisi terparah malahan terjadi di Kecamatan Petang dengan luas lahan kritis mencapai 66 hektar.

Kondisi ini disusul Kecamatan Kuta seluas 2,2 hektar, Abiansemal 1,9 hektar, Kuta Selatan 1,4 hektar, Kuta Utara 1,2 hektar, dan Mengwi 0,5 hektar.

Baca Juga: Buleleng Matangkan Persiapan Jadi Tuan Rumah Kejuaraan Dunia Vovinam 2025

Jika tidak direhabilitasi, ia menilai kondisi lahan kritis berpotensi menimbulkan erosi, degradasi tanah, serta penurunan kualitas ekosistem sungai.

DLHK Badung pun telah merancang program penanaman pohon di radius maksimal 50 meter dari sungai dengan jarak tanam 4x4 meter, atau setara 625 pohon per hektar.

“Dari perhitungan itu, dibutuhkan sekitar 44.149 pohon untuk merehabilitasi seluruh DAS di Kabupaten Badung,” ungkapnya.

Dalam upaya reboisasi atau rehabilitasi, juga telah dilakukan kajian oleh PPLH Universitas Udayana (UNUD).

Hasilnya Kecamatan Petang memerlukan sebanyak 41.264 pohon, Mengwi 313 pohon, Abiansemal 1.188 pohon, Kuta 1.385 pohon, Kuta Selatan 850 pohon, dan Kuta Utara sebanyak 700 pohon.

Untuk memastikan keberhasilan rehabilitasi, ia mengaku, akan menggunakan kombinasi pohon konservasi dan produktif.

Komposisinya 60 persen konservasi dan 40 persen produktif. Hanya saja untuk pelaksanaannya, Mantan Perbekel Penarungan ini menyampiakan akan menunggu koordinasi dengan pemerintqh provinsi Bali.

“Pohon konservasi seperti bambu, beringin, trembesi, waru, mahoni, dan suren. Sementara untuk produktif antara lain durian, alpukat, kelapa, mangga, dan kakao. Fokus utamanya adalah zona riparian sejauh 50 meter dari sungai untuk menahan erosi dan memperbaiki kualitas air,” jelasnya. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#lahan kritis #Kabupaten Badung #Aliran sungai