SINGARAJA, BALI EXPRESS - Ketersediaan darah masih menjadi pekerjaan rumah panjang di banyak daerah, termasuk di Kabupaten Buleleng. Meski capaian donor terus meningkat setiap tahun, angka ideal yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih belum terpenuhi sepenuhnya.
WHO menekankan bahwa setiap negara idealnya memiliki ketersediaan darah setidaknya dua persen dari total populasi untuk menjamin kebutuhan transfusi yang aman dan berkelanjutan.
Mengacu pada standar tersebut, dengan jumlah penduduk Buleleng tahun 2024 mencapai 826.193 jiwa (BPS), kebutuhan darah ideal di wilayah ini mencapai sekitar 16.524 kantong per tahun.
Namun, data dari Unit Donor Darah (UDD) PMI Kabupaten Buleleng menunjukkan bahwa pengumpulan darah sepanjang 2024 baru mencapai 13.366 kantong, masih ada kekurangan sekitar 3.158 kantong darah untuk mencapai standar ideal.
Kebutuhan darah di Buleleng rata-rata mencapai 30 hingga 35 kantong per hari, yang sebagian besar digunakan untuk pasien kecelakaan, operasi besar, ibu melahirkan, serta penderita penyakit kronis seperti gagal ginjal dan talasemia. Kondisi ini menggambarkan bahwa meski kesadaran masyarakat untuk donor meningkat, stok darah tetap berada di bawah ambang aman.
Kekurangan darah tersebut mendorong berbagai pihak untuk terlibat aktif dalam aksi kemanusiaan. Salah satunya dilakukan oleh Polres Buleleng, yang menggelar kegiatan donor darah serentak dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-74 Humas Polri, Rabu (22/10).
“Kami rutin melaksanakan donor darah, khususnya dalam momentum seperti Hari Jadi Polri, Humas Polri, atau kegiatan sosial lainnya. Tapi kalau melihat kebutuhan darah yang masih tinggi, tentu perlu kolaborasi yang lebih luas agar kekurangannya bisa terpenuhi,” ujar Kasi Humas Polres Buleleng IPTU Yohana Rasalin Diaz.
Baca Juga: Polsek Busungbiu Sambangi Sekolah, 18 Motor Pelajar Terjaring
IPTU Yohana menambahkan, kegiatan donor darah kali ini juga menjadi kesempatan bagi jajaran kepolisian untuk berdiskusi langsung dengan pihak PMI terkait kondisi riil kebutuhan darah di Buleleng.
“Kemarin beberapa rekan kami juga melakukan donor karena ada permintaan mendesak dari masyarakat. Ke depan kami akan berupaya agar bisa berkontribusi lebih besar demi kemanusiaan,” imbuhnya.
Menurut WHO, negara berpendapatan menengah ke atas—kategori yang kembali disandang Indonesia sejak Juli 2023 menurut klasifikasi Bank Dunia—memiliki tingkat median 16,4 donasi per 1.000 penduduk dengan rata-rata 9.300 donasi per unit layanan darah per tahun. Artinya, Indonesia masih perlu memperkuat budaya donor darah sukarela di masyarakat agar pasokan lebih stabil, terutama di daerah yang kebutuhan medisnya meningkat pesat.
Faktor meningkatnya kebutuhan darah juga tak lepas dari lonjakan kasus kecelakaan lalu lintas dan peningkatan jumlah penderita penyakit kronis. Pasien gagal ginjal, kanker, hingga talasemia membutuhkan transfusi darah rutin untuk bertahan hidup. Selain itu, operasi besar dan komplikasi persalinan juga sering menjadi alasan utama permintaan darah di rumah sakit.
Di tengah situasi itu, langkah Polres Buleleng menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi lintas sektor dapat memperkuat sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Donor darah bukan hanya kegiatan sosial, tetapi juga bentuk solidaritas kemanusiaan yang berdampak langsung pada keselamatan nyawa.
“Setetes darah bisa jadi penentu hidup dan mati bagi seseorang. Kami berharap masyarakat ikut menjadikan donor darah sebagai kebiasaan, bukan sekadar kegiatan seremonial,” tutup Yohana. ***
Editor : Dian Suryantini