Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Buleleng Mantapkan Langkah Menuju Kabupaten Layak Anak, Kolaborasi Lintas Sektor untuk Hapus Kekerasan

Dian Suryantini • Rabu, 29 Oktober 2025 | 21:29 WIB

Plt. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KBP3A) Kabupaten Buleleng, Made Supartawan.
Plt. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KBP3A) Kabupaten Buleleng, Made Supartawan.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS —Pertemuan Koordinasi dan Kerjasama Lintas Sektor  menjadi wadah strategis bagi berbagai instansi, lembaga, dan organisasi untuk duduk bersama memperkuat sistem perlindungan perempuan dan anak. 

Plt. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KBP3A) Kabupaten Buleleng, Made Supartawan, menyampaikan, perlindungan anak bukan sekadar program, tapi investasi masa depan. 

“Anak adalah potensi penentu kualitas sumber daya manusia kita. Jika mereka tumbuh tanpa perlindungan, mereka bisa menjadi generasi yang lemah dan kehilangan daya saing,” tegasnya, Rabu (29/10).

Supartawan menekankan pentingnya mempercepat terwujudnya Kabupaten Layak Anak (KLA). Menurutnya, konsep ini bukan hanya slogan, melainkan upaya sistematis agar anak-anak Buleleng dapat hidup, tumbuh, dan berkembang dalam lingkungan yang aman, ramah, dan bebas dari kekerasan.

“Kami tidak ingin pertemuan ini sekadar acara seremonial. Harus ada hasil nyata yang bisa dirasakan anak-anak di rumah, di sekolah, dan di lingkungan tempat mereka tumbuh,” ujarnya penuh penekanan.

Baca Juga: Pemerintah Buleleng Perpanjang Promo Merdeka dan Pemutihan Pajak Kendaraan, Warga Diimbau Manfaatkan Kesempatan

Dalam forum yang berlangsung hangat itu, berbagai isu sensitif ikut mengemuka. Mulai dari meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga, kasus anak berhadapan dengan hukum, hingga kebiasaan merokok di kalangan pelajar. Semua itu dianggap sebagai tantangan nyata yang harus dihadapi bersama.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Karakter anak-anak sekarang berbeda dari dulu. Mereka tumbuh di era digital, dan kita semua harus siap beradaptasi,” tambah Supartawan.

Pertemuan ini juga membahas strategi bersama untuk menekan angka tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan perkawinan anak—dua persoalan yang masih menghantui sejumlah wilayah di Buleleng. Dengan memperkuat koordinasi lintas sektor, diharapkan upaya pencegahan dan penanganan dapat berjalan lebih cepat, tepat, dan berdampak nyata.

Supartawan yakin, kolaborasi lintas sektor yang kuat akan membawa Buleleng selangkah lebih maju menjadi daerah yang benar-benar layak bagi perempuan dan anak.

“Ketika anak-anak merasa aman dan bahagia, masa depan Buleleng pun akan bersinar,” tutupnya. ***

Editor : Dian Suryantini
#perlindungan perempuan dan anak #DP2KBP3A #perlindungan anak #sumber daya manusia #KLA