SINGARAJA, BALI EXPRESS - Tubuh penari Bali adalah cermin peradaban yang bergerak. Begitulah cara I Made Tegeh Okta Maheri—akrab disapa Dekgeh—memandang dunia tari yang digelutinya sejak muda. Dalam setiap karyanya, Dekgeh selalu berangkat dari akar tradisi Bali, terutama gerak tubuh yang penuh makna simbolik, lalu mengolahnya menjadi bentuk baru tanpa mengaburkan identitasnya.
“Hampir semua karya saya lahir dari tubuh tradisi Bali,” ujarnya tegas dalam sebuah diskusi seni, belum lama ini. “Tubuh penari Bali punya karakter khas yang tidak bisa digantikan oleh gaya modern mana pun,” imbuhnya.
Pandangan itu mencerminkan keyakinannya bahwa modernitas bukan alasan untuk meninggalkan akar budaya. Justru, menurutnya, tubuh tradisi menjadi pondasi utama dalam menciptakan karya baru.
“Jangan berasumsi bahwa tari kontemporer berarti menghilangkan tubuh tradisi kita. Tradisi itu adalah fondasi yang memungkinkan kita melompat lebih tinggi,” katanya.
Baca Juga: Layanan Pajak Zaman Now, BPKPD Buleleng Rilis PBB SATSET untuk Pelayanan Sekejap
Dekgeh dikenal sebagai sosok yang tekun menelusuri dan mengolah identitas tubuh Bali Utara—sebuah wilayah dengan karakter tari yang penuh stilisasi, ketegasan gerak, dan spirit kekuatan tubuh. Ia mengakui ciri khas itu tetap melekat, bahkan ketika ia bereksperimen di ranah kontemporer.
“Rasa tubuh Bali Utara itu kuat. Mau dibawa ke mana pun, ia tetap muncul,” katanya sambil tersenyum.
Dalam perjalanan kreatifnya, Dekgeh juga tak menutup mata terhadap perkembangan teknologi. Ia mengakui bahwa dunia tari modern tak bisa lepas dari pengaruh visual, pencahayaan, dan teknologi panggung. Namun, baginya, teknologi hanya pelengkap, bukan pusat dari pertunjukan.
“Teknologi memang memengaruhi karya tari masa kini, tapi saya lebih percaya pada kekuatan tubuh penari. Teknologi hanya sebagai pelengkap—misalnya permainan lighting agar sesuai dengan tema,” jelasnya.
Pandangan itu ia buktikan lewat salah satu karya besar yang pernah digarapnya, I La Galigo, adaptasi dari epos Bugis dan Luu. Dalam pertunjukan tersebut, digunakan ribuan lampu, layar, dan efek visual spektakuler. Namun Dekgeh menegaskan, semua teknologi itu bukan untuk menutupi tubuh penari, melainkan memperkuat narasi dan emosi karya.
“Tubuh penari tetap menjadi pusat ekspresi. Teknologi hanya membantu cerita agar terasa lebih hidup,” ujarnya.
Di balik ketegasannya dalam mempertahankan identitas budaya, Dekgeh juga menunjukkan sikap rendah hati terhadap dunia seni pertunjukan. Ia menilai bahwa karya seni tidak perlu diperlombakan, karena esensi seni bukan tentang menang atau kalah, melainkan tentang hidupnya gagasan dan dialog yang lahir darinya.
“Sebagai pelaku seni, saya pribadi tidak terlalu senang jika tari dilombakan. Tapi kalau karya itu dibicarakan—baik positif maupun negatif—artinya karya itu hidup,” ujarnya. ***
Editor : Dian Suryantini