Konferensi internasional ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai negara, termasuk Malaysia, Cina, Taiwan, Filipina, Spanyol, Mauritius, Norwegia, dan Indonesia. Ajang ini mempertemukan para akademisi, peneliti, dan praktisi pendidikan digital dari seluruh dunia untuk berbagi gagasan dan inovasi dalam bidang pendidikan di era teknologi.
Di tengah puluhan presentasi ilmiah yang digelar selama dua hari penuh, presentasi yang dibawakan oleh Trika, berjudul “TrikaIndoDyslexic: A Special Font with a Mnemonic Concept as an Intervention Tool for Children at Risk of Visual Dyslexia,” berhasil mencuri perhatian peserta konferensi.
Dengan gaya penyampaian yang komunikatif, berbasis data, dan menyentuh sisi kemanusiaan, Trika sukses menunjukkan bagaimana teknologi bisa berperan besar dalam menciptakan pendidikan yang lebih inklusif.
Penelitian yang dilakukan Trika berangkat dari keprihatinan terhadap anak-anak yang mengalami disleksia visual, yaitu kesulitan mengenali huruf-huruf yang memiliki bentuk mirip, seperti b dan d, p dan q, u dan n, atau i dan l.
Dalam konteks bahasa Indonesia, huruf-huruf tersebut sering kali menjadi sumber kebingungan bagi anak-anak yang mengalami gangguan ini, sehingga menghambat proses membaca dan menulis mereka.
“Disleksia sering disalahpahami sebagai bentuk kemalasan atau ketidakmampuan anak dalam belajar. Padahal, mereka memiliki cara kerja otak yang berbeda. Mereka bukan tidak cerdas, hanya membutuhkan pendekatan yang sesuai,” ungkap Trika dalam wawancara seusai konferensi.
Melihat kenyataan itu, Trika mengembangkan sebuah font khusus bernama TrikaIndoDyslexic. Font ini merupakan hasil penelitian pengembangan (developmental research) dengan model Successive Approximation, yaitu proses berulang yang terdiri atas tiga tahap utama: evaluasi, desain, dan pengembangan.
Penelitian ini dilakukan bersama lima anak yang teridentifikasi memiliki kecenderungan disleksia visual. Melalui serangkaian observasi, wawancara, dan dokumentasi, Trika menemukan bahwa dalam konteks bahasa Indonesia, huruf-huruf yang paling sering tertukar adalah:
- b dan d
- I dan l
- w dan m
- u dan n
- i dan j
- p dan q
- serta huruf e yang diucapkan [e] dan e yang diucapkan [ə].
Temuan ini menjadi dasar dalam merancang bentuk huruf yang berbeda secara visual agar lebih mudah dibedakan oleh anak-anak dengan disleksia visual. Namun, keunggulan utama TrikaIndoDyslexic bukan hanya pada bentuk hurufnya, melainkan juga pada konsep mnemonik (daya ingat visual dan auditori) yang diterapkan.
Font disleksia sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya, dunia telah mengenal beberapa font khusus disleksia seperti OpenDyslexic, Dyslexie, dan EasyReading. Font-font ini dibuat untuk membantu pembaca disleksia melalui modifikasi bentuk huruf yang lebih berat di bagian bawah atau diberi jarak antarkarakter yang lebih lebar.
Namun, menurut Trika, pendekatan tersebut masih bersifat visual semata sehingga belum sepenuhnya bisa membantu anak disleksia untuk meningkatkan kemampuan membaca.
“Berdasarkan beberapa hasil penelitian, font khusus yang telah ada sebelumnya tidak mampu membantu anak disleksia secara signifikan dalam meningkatkan kemampuan membaca, terutama kelancaran membaca, karena hanya berfokus pada perbedaan bentuk huruf. Sehingga, anak-anak disleksia, yang mengalami permasalahan dalam short term memory dan working memory, masih sering mengalami kesulitan untuk mengingatnya. Itulah mengapa saya ingin membuat font yang tidak hanya membedakan bentuk huruf, tetapi juga membantu anak mengingat huruf melalui asosiasi gambar dan bunyi yang sesuai dengan konteks Indonesia,” jelasnya.
Konsep mnemonik yang digunakan pada TrikaIndoDyslexic Font memungkinkan anak-anak untuk mengaitkan huruf-huruf mirip dengan visual dan bunyi tertentu. Misalnya, huruf b diasosiasikan dengan besar dan buncit, atau huruf yang paling besar dan bentuknya seperti perut buncit, sementara d diasosiasikan dengan daun.
Begitupula dengan bentuknya yang dibuat sedemikian rupa menyerupai perut buncit dan ukuran yang paling besar untuk huruf b dan bentuk menyerupai daun untuk huruf d. Dengan demikian, ketika anak melihat huruf, mereka tidak hanya mengingat bentuknya, tetapi juga citra dan suara yang melekat pada huruf tersebut.
Pendekatan ini dikenal sebagai multisensory approach, yaitu pembelajaran yang melibatkan lebih dari satu indera, visual, auditori, dan kinestetik, yang terbukti efektif membantu anak dengan kebutuhan belajar khusus seperti disleksia.
Selama sesi presentasi di iDEC 2025, inovasi yang dikembangkan Trika mendapat sambutan hangat dari para peserta dan panitia penyelenggara. Banyak yang memuji gagasan tersebut karena menggabungkan teknologi, linguistik, dan psikologi pendidikan dalam satu produk yang nyata dan bermanfaat.
Bahkan, sejumlah peserta dari luar negeri sempat menanyakan apakah font tersebut akan dikomersialisasikan seperti font khusus disleksia lain yang berbayar. Namun, Trika memilih jalur berbeda.
“Bagi saya, tujuan utama penelitian ini adalah membantu anak-anak Indonesia yang mengalami disleksia agar mereka bisa belajar membaca tanpa hambatan. Karena itu, saya memutuskan untuk merilis TrikaIndoDyslexic Font secara gratis. Saya ingin semua guru, orang tua, dan anak yang membutuhkan bisa menggunakannya tanpa batas,” tutur Trika dengan penuh semangat.
Keputusan itu mendapat tepuk tangan dari para peserta konferensi. Salah satu peserta bahkan menyebut pendekatan Trika sebagai “perpaduan sempurna antara sains dan empati.”
Produk ini dinilai memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi, terutama di tengah masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kondisi disleksia. Tidak sedikit anak dengan disleksia di Indonesia yang mengalami perundungan (bullying) karena dianggap malas, bodoh, atau lambat belajar, padahal sebenarnya mereka hanya membutuhkan metode belajar yang berbeda.
Disleksia merupakan gangguan belajar spesifik yang memengaruhi kemampuan membaca, menulis, dan mengeja. Menurut data World Dyslexia Association, sekitar 10–15 persen populasi dunia mengalami disleksia dalam berbagai tingkat keparahan. Di Indonesia, angka pastinya belum diketahui karena masih minimnya alat deteksi dan kesadaran masyarakat.
“Anak-anak dengan disleksia sering kali terjebak dalam stigma. Mereka dianggap tidak mampu mengikuti pelajaran, padahal intelektualitas mereka normal, bahkan banyak yang sangat kreatif. Sayangnya, sistem pendidikan kita belum sepenuhnya ramah terhadap perbedaan cara belajar,” ungkap Trika.
Sebagai Sekretaris Pusat Unggulan Pendidikan Inklusif dan Perdamaian Undiksha, Trika memang aktif dalam berbagai kegiatan yang berfokus pada penguatan pendidikan inklusif. Bersama tim pusat unggulan, ia terus berupaya mengembangkan kebijakan, pelatihan, dan model intervensi untuk mendukung siswa dengan kebutuhan belajar khusus di sekolah-sekolah.
Melalui pengembangan TrikaIndoDyslexic Font, ia ingin memberikan alat bantu konkret bagi guru dan orang tua untuk mendukung anak-anak yang kesulitan membaca akibat disleksia visual. Ia percaya bahwa pendidikan inklusif tidak hanya berbicara soal menerima keberagaman, tetapi juga menyediakan sarana agar setiap anak bisa belajar sesuai kemampuannya.
Keberhasilan Trika di ajang internasional ini sekaligus menegaskan komitmen Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) sebagai kampus yang aktif mendorong inovasi dan riset berorientasi pada kemanusiaan.
Keberhasilan mengembangkan TrikaIndoDyslexic Font bukanlah akhir, melainkan awal dari langkah besar berikutnya. Trika berencana melanjutkan penelitian ini ke jenjang doktoral (S3) untuk menguji efektivitas font yang telah dibuatnya.
Trika berharap dapat mengembangkan strategi dan media pembelajaran berbasis TrikaIndoDyslexic yang dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah dasar. Salah satu fokus utamanya adalah membantu siswa disleksia mengurangi ketergantungan terhadap font khusus ini sehingga mereka bisa beradaptasi membaca teks dengan font standar seperti Times New Roman atau Arial.
“Tujuan akhir saya bukan hanya membuat anak-anak disleksia bisa membaca dengan font khusus, tetapi juga menumbuhkan kemampuan mereka agar nantinya bisa membaca teks umum seperti anak-anak lainnya. Jadi, font ini adalah jembatan, bukan tongkat permanen,” jelasnya.
Untuk mendukung rencana tersebut, Trika berencana melamar beasiswa studi lanjut di luar negeri. Ia berharap dengan penelitian lanjutan dan pendampingan akademik yang tepat, hasil penelitiannya dapat memberikan manfaat lebih luas bagi dunia pendidikan Indonesia. Bagi Trika, perjuangan membantu anak-anak disleksia bukan sekadar tugas akademik, tetapi misi hidup. Ia percaya bahwa setiap anak memiliki potensi unik yang layak mendapat kesempatan untuk berkembang.
“Anak-anak disleksia sering kali merasa gagal di sekolah hanya karena sistem belajar tidak sesuai dengan cara berpikir mereka. Saya ingin mengubah itu. Saya ingin mereka merasa bahwa belajar bisa menyenangkan, bahwa mereka juga mampu,” ujarnya dengan mata berbinar.
Selain menjadi dosen, Trika juga dikenal sebagai sosok yang aktif di berbagai kegiatan literasi dan edukasi publik tentang disleksia. Ia juga menjabat sebagai Sekretaris Yayasan Disleksia Bali, lembaga yang fokus mendampingi anak-anak disleksia agar dapat belajar di lingkungan inklusif dan penuh penerimaan.
Melalui kedua perannya, baik di Pusat Unggulan Pendidikan Inklusif dan Perdamaian maupun di Yayasan Disleksia Bali, Trika terus memperjuangkan hak anak-anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh akses pendidikan yang adil.
Keberhasilan I Ketut Trika Adi Ana bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi juga cerminan dedikasi para pendidik Indonesia yang bekerja keras untuk menciptakan dunia pendidikan yang lebih inklusif. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, ia membuktikan bahwa inovasi yang berakar pada empati dan nilai kemanusiaan tetap menjadi hal paling berharga.
“Bagi saya, penelitian ini bukan soal penghargaan, tetapi tentang bagaimana karya akademik bisa benar-benar membantu orang lain. Jika satu anak disleksia bisa membaca dengan lebih mudah karena font ini, maka itu sudah menjadi penghargaan tertinggi bagi saya,” pungkasnya.
Dengan semangat dan kepeduliannya, Trika telah membawa nama Undiksha dan Indonesia bersinar di kancah internasional, sekaligus memberi harapan baru bagi ribuan anak disleksia di tanah air yang kini bisa membaca dunia dengan lebih terang. (dik)
Editor : I Putu Mardika