SINGARAJA, BALI EXPRESS - Sebelum menjadi jurnalis visual yang dikenal di berbagai media nasional dan internasional, Dicky Bisinglasi hanyalah bocah kecil yang gemar menggambar di halaman buku sekolahnya. Pria kelahiran Malang tahun 1987 itu tumbuh dalam keluarga berdarah campuran. Nenek Minahasa, ayah dari Nusa Tenggara Timur, dan ibu berdarah Jawa. Campuran tiga darah itu seolah memberi warna pada karya-karyanya kelak — berani, jujur, dan penuh rasa.
“Sejak TK sampai SD saya suka banget gambar dan melukis. Bahkan waktu SD sudah mulai motret, tapi cuma sesekali,” kenang Dicky, belum lama ini.
Kamera pertamanya bukan DSLR, bukan pula mirrorless. Hanya kamera film point and shoot — atau yang biasa disebut “tustel” — merek Fujifilm. “Tinggal jepret tanpa mikirin exposure. Tapi waktu itu rasanya sudah keren banget,” ujarnya.
Namun, masa-masa menggambar dan memotret itu tak berlangsung lama. Begitu masuk SMP, Dicky pelan-pelan menjauh dari dunia visual. Ia beralih ke musik. “Agak ninggalin seni visual, karena pindah ke seni musik. Tapi sesekali masih menggambar,” tuturnya. Dunia nada sempat merebut hatinya hingga SMA. Kamera dan pensil warna pun tergantikan oleh gitar dan drum.
Tahun 2009 menjadi titik balik. Saat kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi, Dicky bertemu lagi dengan fotografi — kali ini lewat jalur akademik. Ada mata kuliah dasar-dasar fotografi yang membuka kembali kenangan lamanya dengan tustel Fujifilm.
“Dari situ mulai tumbuh lagi rasa penasaran. Saya belajar bukan cuma soal teknik, tapi juga makna di balik gambar,” katanya.
Baca Juga: Ini Dia Profil Kardian Narayana: Dari Guru Kontrak ke Film Pendek
Tak lama kemudian, Dicky bergabung dengan klub fotografi kampus bernama JUFOC (JUrnalistik FOtografi Club). Di sanalah semuanya berubah. Banyak senior JUFOC saat itu sudah menjadi fotografer profesional dan jurnalis foto di berbagai media.
“Awalnya cuma ikut-ikutan hype aja, belum punya arah mau jadi apa. Bahkan sempat cuti kuliah dan kerja di Bali di bidang lain, bukan fotografer, apalagi jurnalis foto,” ujarnya, terkekeh.
Namun, takdir seolah memanggilnya kembali. Tahun 2012, Dicky kembali aktif di JUFOC. Ia mulai menerima pekerjaan foto komersial kecil-kecilan, kadang juga membantu majalah otomotif sebagai freelancer. Semua itu menjadi batu loncatan menuju jalur yang lebih serius.
Tahun 2014, Dicky mendapat kesempatan ikut pelatihan foto story bersama seniornya di JUFOC, Lukman Bintoro, seorang jurnalis foto untuk media Australia yang berbasis di Bali. Tema liputannya saat itu, kehidupan para penyandang disabilitas.
“Dari situ saya mulai mengenal esensi fotografi jurnalistik. Bukan cuma soal teknis, tapi tentang mengapa orang memotret sesuatu, dan untuk apa. Tanpa pemahaman esensi itu, orang nggak akan paham makna jurnalisme foto,” ungkapnya.
Tiga bulan setelah pelatihan itu, pintu kesempatan terbuka. Sebuah harian lokal di Malang, Malang Post, membuka lowongan untuk posisi jurnalis foto. Tanpa ragu, Dicky melamar — dan diterima.
“Tahun 2014 itulah saya resmi kerja profesional di dunia jurnalistik,” tuturnya.
Di sana, Dicky benar-benar ditempa. Tak ada waktu manja atau alasan cuaca. Ia harus bisa memotret apa pun, di mana pun, dalam kondisi apa pun. Dari liputan kriminal, olahraga, politik, hingga feature budaya — semua dijalani.
“Bekerja di koran bikin saya keras dan tangguh. Nggak ada pilihan selain siap di lapangan. Tapi mental itulah yang ngebentuk karakter saya sampai sekarang,” katanya.
Lima tahun bekerja di Malang Post membuat Dicky kaya pengalaman. Namun, pada 2019, ia merasa waktunya untuk berubah. Ia memutuskan resign dan menjadi freelance visual journalist. “Saya pengin punya kebebasan bercerita, bukan sekadar memenuhi kuota berita,” ujarnya.
Menjadi fotografer lepas bukan perkara mudah. Apalagi bagi jurnalis foto yang harus bersaing di dunia global. Namun, bagi Dicky, tantangan itulah yang membuatnya tumbuh.
“Sebagai freelancer, saya dituntut lebih. Media asing punya standar tinggi — dari orisinalitas ide, kualitas foto, sampai cara bercerita. Tapi justru di situ saya banyak belajar,” katanya.
Bagi Dicky, kamera bukan sekadar alat kerja. Kamera adalah medium komunikasi — cara menyampaikan perasaan, kritik sosial, dan harapan. Ia percaya, foto yang baik bukan sekadar tajam atau terang, tapi punya jiwa.
“Jurnalisme visual bukan soal siapa paling keren angle-nya, tapi siapa yang paling jujur,” katanya.
Menariknya, meski kini dikenal sebagai fotografer dokumenter, Dicky mengaku masih membawa “darah seni” masa kecilnya. Tak heran, foto-fotonya sering memiliki komposisi yang tenang tapi kuat, berlapis makna namun tak berlebihan.
Setelah keluar dari Malang Post, Dicky memilih Bali sebagai rumah baru. Pulau ini, katanya, memberi ruang yang luas untuk seniman dan jurnalis visual berkembang. Ia pun semakin dikenal di kalangan jurnalis foto nasional dan internasional. Beberapa karyanya pernah tampil di media luar negeri, sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan fotografer dan dokumenteris lain.
Baca Juga: Menjejakkan Kata, Merajut Makna : Kiprah Made Adnyana Ole dalam Sastra Bali
Bila menelusuri daftar media yang pernah memuat karyanya, tak sulit menyimpulkan bahwa Dicky telah melangkah jauh. Foto-fotonya telah menghiasi halaman Associated Press (AP), Agence France-Presse (AFP), BBC, DW, News Corp Australia Group, Xinhua News, The Guardian, The Washington Post, The Times, hingga Mongabay. Media besar seperti Spiegel, Stern, dan South China Morning Post pun ikut mencatat namanya. Dari dalam negeri, Antara Foto menjadi rumah profesional yang sesekali masih ia sambangi.
Tak hanya media cetak, karya visual Dicky juga menembus ranah penyiaran internasional. Asahi TV, TBS TV, Ruptly TV, AFPTV, hingga APTV pernah menayangkan hasil liputannya. Di luar dunia editorial, ia juga dipercaya menangani proyek-proyek visual untuk berbagai lembaga dan korporasi besar seperti WWF Indonesia, Pertamina, Standard Chartered Bank, Citibank, Traveloka, Lippo Mall, hingga KIAT (Kemitraan Indonesia–Australia untuk Infrastruktur). Ada juga proyek kemanusiaan bersama Sahabat Anak Kanker serta dokumentasi olahraga bersama Liga 1 Indonesia.
Bukan hanya menekan tombol rana, Dicky juga aktif menapaki jalur edukasi dan pameran. Ia pernah menggelar dan terlibat dalam berbagai pameran fotografi seperti “100 Days Performances of Jokowi JK” di Jakarta (2015), “Grubug Ageng” di Bali (2020), hingga “City vs Quarantine” di Lviv, Ukraina, pada tahun yang sama — sebuah pencapaian global yang membuktikan bahwa karyanya tak berhenti di batas kepulauan Indonesia.
Karyanya juga telah diabadikan dalam sejumlah buku fotografi penting. Tahun 2015, ia ikut dalam proyek buku “Ekspedisi Samala” oleh Malang Post. Enam tahun kemudian, pada 2021, fotonya terpilih menjadi bagian dari buku “The Year Time Stopped” terbitan HarperCollins dan Scopio Images di Amerika Serikat, yang mendokumentasikan pandemi global dari perspektif para fotografer dunia.
Selain berkarya, Dicky juga terus mengasah kemampuan dan membagi pengalaman. Ia pernah mengikuti Bengkel Foto Jawa Pos (2016), menjadi peserta Training of Trainers for Photography Mentor oleh PannaFoto Institute (2020), serta Holistic Safety Training for Journalist di Bangkok bersama IREX (2023). Semua itu menjadi bagian dari komitmennya untuk terus tumbuh — tidak hanya sebagai fotografer, tapi juga sebagai pendidik dan penjaga etika profesi jurnalistik.
Prestasi demi prestasi pun menghiasi perjalanan kariernya. Pada 2020, ia meraih juara dua Tangguh Award oleh BNPB. Setahun kemudian, ia memenangkan kategori Best Spot News Essay Photo dalam ajang Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI). Tahun 2022 menjadi momen emas, ketika ia meraih dua penghargaan sekaligus: Best Nature and Environment Single Photo dan Best Nature and Environment Essay Photo di ajang yang sama. Lalu pada 2023, Dicky kembali mencatatkan prestasi dengan meraih Award of Excellence kategori Spot News di POY Asia, sebuah kompetisi foto bergengsi tingkat Asia.
Baginya, jurnalisme visual adalah cara menyentuh nurani tanpa banyak kata. “Kalau orang bisa merasakan sesuatu dari foto saya, entah sedih, marah, atau tergerak — berarti saya berhasil,” katanya. ***
Editor : Dian Suryantini