Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tubuh, Seni, dan Ketuhanan: Jejak Panjang Diane Butler di Dunia Tari dan Kajian Budaya

Dian Suryantini • Sabtu, 8 November 2025 | 16:00 WIB
Photo
Photo


BALIEXPRESS.ID - Empat dekade bukan waktu yang singkat untuk seorang seniman menempuh perjalanan lintas benua demi satu tujuan, menemukan harmoni antara seni, budaya, dan spiritualitas.

Itulah kisah hidup Dr. Diane Butler, seniman tari-gerak, pendidik, sekaligus direktur program budaya asal Amerika Serikat yang berkat karunia hidup telah tinggal di Bali sejak tahun 2001.

Lulusan The Juilliard School dan Wesleyan University ini bukan hanya seorang penari, tetapi juga seorang perenung gerak yang menjadikan tubuh sebagai bahasa universal lintas budaya. “Untuk dialog antarbudaya, jembatan adalah bahasa seni,” katanya.

 


Sejak menetap di Desa Bedulu, Gianyar, dan Desa Tejakula, Buleleng pada tahun 2001, Diane hidup di tengah denyut masyarakat Bali yang kaya dengan ritual dan seni.

Kedua desa itu menjadi sumber inspirasinya, tempat kesenian tidak hanya dipertunjukkan, tetapi juga dihayati sebagai cara hidup rukun.


Pada 1980-an, Diane tinggal di New York dan bekerja bersama koreografer Ruby Shang dalam karya-karya site-specific yang dipentaskan di situs bersejarah di Amerika Serikat, Prancis, Jepang, dan Inggris.

 

 

Namun, saat ini ketika menengok ke belakang, Diane menyadari bahwa benih dialog kreatif antara Barat dan Timur telah ditanam.


Benih itu membawanya ke Indonesia pada tahun 1997 dan mempertemukannya dengan Suprapto Suryodarmo, pendiri Padepokan Lemah Putih, Solo. Pertemuan itu menjadi titik terang dalam hidupnya.

Bersama Suprapto, Diane mendirikan Dharma Nature Time, sebuah yayasan internasional yang berfokus pada dialog antarbudaya melalui sharing dalam kesenian, ketuhanan, dan alam.

Organisasi ini memiliki anggota kooperatif di delapan negara dan bahkan mendapat consultative status dari Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC) pada 2009.


“Bagi saya, Pak Prapto adalah penyiram benih,” kata Diane, mengenang rekan seniornya. Dari sang maestro Joged Amerta, Diane lebih yakin bahwa pendekatannya tari-gerak bukan sekadar ekspresi tubuh, tetapi juga sebagai jalan menuju kesadaran jiwa-raga.


Pada tahun 2002, atas saran Suprapto, Diane diperkenalkan kepada Prof. Edi Sedyawati dan Prof. I Gusti Ngurah Bagus, tokoh pendiri Program Doktor Kajian Budaya Universitas Udayana (Unud). Dari sanalah perjalanan akademiknya di Indonesia dimulai.


“Awalnya saya tidak yakin. Saya bukan peneliti, saya praktisi,” kenang Diane. Namun dengan kesabaran para mentor, ia mulai menyadari bahwa pengalaman praktiknya di dunia seni bisa menjadi dasar penelitian partisipatif—penelitian yang bukan hanya “tentang” manusia, tapi “bersama” manusia.


Tanggal 2 Mei 2003, Diane resmi diterima sebagai mahasiswa Program Doktor Kajian Budaya Unud.

Ia menjadi satu-satunya mahasiswa asing di angkatannya. Meski sempat tersandung dalam proses penyusunan disertasi dan gagal dalam seminar hasil, Diane tak menyerah.


Berkat kesabaran promotor dan ko-promotor seperti Prof. I Wayan Ardika, Prof. I Gde Parimartha, dan Prof. Edi Sedyawati, dan juga pembinaan dari Prof. Sulistyawati, ia akhirnya berhasil menyelesaikan disertasi berjudul “Religiosity in Art Inspired by Samuan Tiga and Tejakula, Bali: Unity in Diversity.” Pada 25 Januari 2011, ia menjalani ujian promosi doktor, disaksikan langsung oleh para tokoh adat dan seniman dari Bedulu dan Tejakula.


Sebulan kemudian, 26 Februari 2011, ia resmi diwisuda dan menjadi karyasiswa asing pertama yang meraih gelar Ph.D. Kajian Budaya dari Universitas Udayana. Rektor saat itu, Prof. I Made Bakta, bahkan menyebutnya sebagai “diplomat untuk Universitas Udayana.”


Bahasa Indonesia menjadi bagian penting dalam perjalanan akademik Diane. Ia mempelajarinya secara otodidak hingga akhirnya mengikuti Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) dan meraih tingkat Madya Atas.

Pada tahun 2014, Rektor Unud menetapkannya sebagai Lektor Kepala sukarela di Program Doktor Kajian Budaya.


Dalam kapasitas itu (2014-2023), Diane membantu mengajar, membimbing mahasiswa, serta memfasilitasi kerjasama penelitian dan dialog antarbudaya. Ia juga aktif menulis dan menjadi anggota dewan penelaah akademik di berbagai jurnal nasional dan internasional seperti Jurnal Kajian Bali, Kawistara, Mudra, hingga International Journal on Interreligious & Intercultural Studies.


Pada 2016, Direktur Jenderal Kebudayaan RI Dr. Hilmar Farid mempercayakan Diane untuk menyempurnakan versi Bahasa Inggris pidato kunci Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dalam Pembukaan World Culture Forum di Bali. Bagi Diane, kesempatan itu merupakan penghargaan atas dedikasi panjangnya terhadap kebudayaan Indonesia.


Selain aktif menulis, Diane kerap menjadi pembicara utama di berbagai konferensi internasional. Ia juga berperan dalam memperkenalkan mazhab Kajian Budaya Udayana ke kancah global—mazhab yang dirintis almarhum Prof. I Gusti Ngurah Bagus dengan ciri khas keterlibatan langsung para pembawa ilmu kearifan lokal, kesenian, dan spiritualitas.

 


Dalam pandangan Diane, Universitas Udayana bukan hanya lembaga akademik, tetapi juga ruang dialog antara pengetahuan lokal dan wacana global. “Pendekatan Kajian Budaya di Bali adalah kehadiran penting di ranah akademik dunia,” ujarnya.


Maka, setelah mengabdi sembilan tahun pada prodi—status Diane sejak Januari 2023 adalah sebagai periset independen dibawah naungan Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN untuk membantu menerjemahkan ke bahasa Inggris Ensiklopedia Arsitektur Tradisional Bali karya Prof. Sulistyawati.


Kini, di usianya yang matang, Diane Butler terus menari—bukan di panggung megah di kota besar, melainkan di ruang-ruang kehidupan di Bali, di antara masyarakat lokal yang ramah, seniman dari propinsi Indonesia lain, dan dari beragam negara. Dalam setiap langkah dan gerak tubuhnya, ia merayakan pesan sederhana, bahwa dialog melalui sharing dalam kesenian, ketuhanan, dan alam adalah satu tarian panjang tentang kemanusiaan. ***

Editor : Iqbal Kurnia
#ketuhanan #seni #dunia tari #budaya