BALIEXPRESS.ID – Sanur Village Festival (SVF) ke-18 resmi dibuka pada Jumat (7/11) di Muntig Siokan, Pantai Mertasari, Sanur.
Festival tahunan yang menjadi ikon kawasan pesisir Kota Denpasar ini kembali digelar hingga Minggu (9/11) dengan mengusung tema “Guna Dusun”, yang bermakna pengabdian diri dan pemanfaatan ilmu pengetahuan demi kesejahteraan masyarakat.
Pembukaan festival berlangsung meriah dengan dihadiri ratusan pengunjung serta sejumlah tokoh masyarakat, seniman, dan pelaku pariwisata.
Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, hadir secara langsung untuk membuka kegiatan tersebut.
Baca Juga: Pamit Beli Perlengkapan Sembahyang, Lansia Ditemukan Tak Bernyawa di Tukad Guming Denpasar
Dalam sambutannya, Jaya Negara mengapresiasi konsistensi Yayasan Pembangunan Sanur (YPS) yang terus menggelar SVF sebagai wadah kebangkitan ekonomi dan budaya masyarakat pesisir.
“Kita patut memanjatkan rasa syukur, dalam 18 kali penyelenggaraan, event ini selalu berjalan dengan luar biasa. Sanur adalah salah satu destinasi wisata utama di Kota Denpasar. Dapat saya sampaikan, dari total PAD Denpasar sekitar Rp2 triliun, 32 persen di antaranya berasal dari Sanur, yakni sebesar Rp647 miliar,” ujarnya.
Menurut Jaya Negara, dengan kontribusi sebesar itu, menjaga keberlanjutan Sanur menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.
“Tentu kami wajib merawat dan menjaga Sanur ini. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga para pengusaha serta kolaborasi dengan pemerintah pusat dan lintas sektor,” katanya.
Baca Juga: Pujawan Nilai Pemilihan Ketua OSIS Jadi Miniatur Pemilu bagi Siswa
Ia juga mengenang masa pandemi COVID-19, di mana sinergi kuat antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat Sanur menjadi kunci kebangkitan pariwisata Bali.
“Saat itu Sanur menjadi contoh nasional, karena vaksinasi dilakukan serentak di sini dua kali. Berkat kolaborasi itu, pariwisata mulai pulih dan bahkan kita berhasil mengundang 100 wali kota datang ke Sanur dalam kondisi pandemi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Jaya Negara menyebut SVF menjadi simbol nyata kebangkitan ekonomi dan pariwisata Kota Denpasar.
Ia menuturkan, Pemkot Denpasar kini juga tengah menata kawasan Sanur agar semakin nyaman dan berkelanjutan.
“Kita tata jogging track, menata kawasan depan Danau Tamblingan, menurunkan kabel udara, serta menyiapkan shuttle listrik agar kawasan bebas parkir dan kemacetan bisa berkurang. Semua ini demi pelayanan lalu lintas dan kenyamanan wisatawan,” katanya.
Ia juga menyinggung tema Guna Dusun yang diangkat dalam festival tahun ini, dengan mengutip filosofi spiritual karya Ida Pedanda Gede Made Sidemen.
“Beliau sudah sejak dahulu memikirkan pentingnya menanam ilmu pengetahuan dalam diri sendiri untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Itu relevan sekali dengan semangat kita membangun Sanur,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pembangunan Sanur (YPS), Ida Bagus Gede Sidharta Putra, mengatakan SVF menjadi ruang bagi masyarakat Sanur untuk merayakan seni, budaya, dan kreativitas lokal.
“Tujuan festival ini agar orang datang menikmati Sanur Festival sekaligus mengenal destinasi lain di sekitarnya,” ujarnya.
Ia menuturkan, tema Guna Dusun diangkat dari karya sastra geguritan Selampah Laku yang ditulis oleh tokoh spiritual Sanur, Ida Pedanda Gede Made Sidemen.
Baca Juga: Bupati Adi Arnawa Pastikan Program Reward Lansia Tetap Berjalan, Tunggu Penyesuaian Regulasi
“Bagi kami, ini sebuah penghargaan luar biasa. Guna Dusun bukan sekadar istilah, tetapi filosofi hidup bagaimana seseorang memelihara diri dengan ilmu agar berguna bagi orang lain,” katanya.
Filosofi itu, lanjut Sidharta, berakar dari ajaran tokoh spiritual yang menulis bahwa dirinya tidak memiliki karang sawah, melainkan karang awak—diri sendiri—yang harus ditanami ilmu pengetahuan dan keutamaan hidup.
“Artinya, beliau mengisi dirinya dengan ilmu agar bermanfaat bagi masyarakat luas,” ujarnya.
Dalam SVF 2025, berbagai kegiatan digelar mulai dari festival kuliner dengan lomba ngelawar bertema laut Sanur, lomba barista, fruit carving, hingga Sanfest Sandikala Run.
Di bidang seni dan musik, sejumlah musisi lokal dan nasional turut tampil, seperti Navicula dan Sandrina Malakian, Gugun Blues Shelter, Pongki Barata feat Fatur, hingga Yovie & Nuno.
“Kami juga menjajaki olahraga yang sedang populer seperti padel, serta menghadirkan seni instalasi dan lomba fotografi. Kami menyadari untuk menjadi ajang tahunan yang dinanti masyarakat maupun wisatawan mancanegara diperlukan kreativitas dan inovasi yang selalu berkembang,” ujar Sidharta.
Ia menegaskan, SVF bukan sekadar ajang hiburan, melainkan ruang reflektif dan gerakan komunitas untuk keberlanjutan Sanur.
“Nilai-nilai luhur budaya, sosial, dan lingkungan tetap kami jaga agar pariwisata Sanur berkelanjutan,” tegasnya.
Baca Juga: Tubuh, Seni, dan Ketuhanan: Jejak Panjang Diane Butler di Dunia Tari dan Kajian Budaya
Sidharta pun berharap, SVF ke-18 mampu menegaskan kembali peran Sanur sebagai destinasi yang aman, kreatif, dan inspiratif.
“Sejak awal, Sanur Festival telah menjadi simbol bahwa Sanur tetap hidup, aman, dan terbuka bagi siapa pun untuk berkarya,” ujarnya.(***)
Editor : Rika Riyanti