Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pertama Kalinya Sanur Village Festival Hadirkan Lomba Lawar, Peserta Tampilkan Lawar Bulung Unik

Rika Riyanti • Minggu, 9 November 2025 | 02:31 WIB

LOMBA: Peserta lomba lawar menyiapkan hidangan masing-masing
LOMBA: Peserta lomba lawar menyiapkan hidangan masing-masing

 

 

BALIEXPRESS.ID - Lomba lawar yang digelar di Muntig Siokan, Pantai Mertasari, Sanur, Sabtu (8/11), menjadi salah satu ajang paling menarik dalam rangkaian Sanur Village Festival (SVF) ke-18.

Dari berbagai kreasi yang dihadirkan para peserta, lawar berbahan dasar bulung atau rumput laut mencuri perhatian karena keunikannya yang memadukan cita rasa laut dengan kekayaan tradisi kuliner Bali.

Salah satu peserta lomba dari STT Sindu Putra, Banjar Sindu Kaja, Indra Dharma, memilih untuk menghadirkan lawar bulung katoni dengan tuna—menu khas pesisir yang jarang ditemui.

Ia mengatakan ide ini berangkat dari tradisi lama masyarakat pesisir yang menggunakan hasil laut sebagai pengganti daging babi dalam pembuatan lawar.

Baca Juga: Sanur Village Festival ke-18 Resmi Dibuka, Jaya Negara: 32 Persen PAD Denpasar Disumbang dari Sanur

“Sebelumnya, kenapa kita memakai bulung itu salah satunya ide dari petuah kita dulu. Dulu kan orang ngelawar itu pasti ada setiap momen upacara. Nah, petuah-petuah kita di pesisir, khususnya yang tidak bisa beli babi, memanfaatkan hasil laut untuk dijadikan lawar,” jelas Indra. 

Bulung yang digunakan, katanya, diambil langsung dari laut kemudian dikeringkan selama dua hingga tiga hari sebelum diolah.

Proses panjang ini dilakukan agar rumput laut benar-benar kering dan bebas dari bau amis.

Baca Juga: NAHAS! Kenekatan Membawa Petaka, Pelajar SMP Tewas di Pusaran Air Dam Subak Tegan Mengwi

“Prosesnya lama, makanya dari situ juga seni prosesnya. Kita manfaatkan alam setempat. Dari rasanya nanti agak ‘kertak-kertak’, tapi tidak amis karena kita pakai basa genep dengan tambahan merica hitam, kemiri, dan jahe,” tutur Indra.

Menurut Indra, lawar bulung yang mereka buat bukan hanya sekadar kuliner, tapi juga bentuk pelestarian kearifan lokal pesisir Sanur.

“Kita ingin memperkenalkan bahwa di Sindu juga ada lawar khas seperti ini. Jarang ada yang jual, jadi kita perkenalkan di sini,” ujarnya.

Ketua Panitia Pelaksana Lomba Lawar, Chef Bayu Kristiawan, menjelaskan bahwa lomba ini bertujuan untuk melestarikan tradisi melawar yang kini mulai jarang dilakukan oleh generasi muda.

Ia melibatkan sejumlah STT dari tiga desa dinas di kawasan Sanur, yakni Sanur Kauh, Sanur Kaja, dan Kelurahan Sanur. 

“Lomba lawar ini sebenarnya saya buat untuk menjaga tradisi yang sudah mulai pudar di Banjar-banjar dan STT. Makanya hari ini saya gelar acara mebat dan ngelawar ini tanpa sentuhan sedikit pun dari orang tua mereka,” ujar Bayu.

Baca Juga: Pujawan Nilai Pemilihan Ketua OSIS Jadi Miniatur Pemilu bagi Siswa

Menurutnya, sebanyak enam tim ikut berpartisipasi dalam lomba ini, di mana setiap tim beranggotakan lima orang dan diberi waktu 120 menit untuk membuat lawar dari awal.

Para peserta bebas berkreasi dengan bahan dasar hasil laut khas Sanur, seperti ikan, gurita, hingga bulung.

“Keunikan bahan juga akan kita lihat. Yang tidak biasa dipakai lawar contohnya kayak bulung seperti itu, agak jarang dilihat untuk digunakan sebagai lawar,” katanya.

Chef Bayu menambahkan, bahan-bahan yang digunakan peserta diharapkan dibeli langsung dari nelayan sekitar Sanur agar kegiatan ini turut memberi dampak ekonomi bagi masyarakat pesisir.

Baca Juga: BRI Dorong UMKM Lokal: Erildya Cemilan Family Buktikan Kreativitas Bisa Raup Omzet

“Kita push agar nelayan-nelayan ini juga mendapatkan efek dari acara-acara ini,” ujarnya. 

Dalam penilaian, juri menitikberatkan pada keaslian pakem melawar tradisional Bali dengan komposisi cakarangan jangkep.

Tiga juri yang diundang berasal dari kalangan profesional kuliner, yakni Ida Bagus Laba dari Sanur Chef Community, Gede Anom Ranuara seorang budayawan, dan Nang Etonk pelaku dan pemerhati kuliner.

Baca Juga: Bupati Adi Arnawa Pastikan Program Reward Lansia Tetap Berjalan, Tunggu Penyesuaian Regulasi

Chef Bayu menegaskan, melalui lomba ini pihaknya ingin memastikan regenerasi tradisi kuliner Bali tetap berjalan.

“Anak-anak muda yang tadinya awam dengan ngelawar sekarang bisa belajar langsung. Beberapa turis juga sudah mulai datang menyaksikan. Inilah cara kita memperkenalkan lawar sebagai kekayaan kuliner Bali,” ujarnya.

Para pemenang lomba akan mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp1,5 juta untuk juara pertama, Rp1 juta untuk juara kedua, dan Rp750 ribu untuk juara ketiga, serta hadiah favorit yang akan diumumkan di media sosial Sanur Village Festival.(***)

Editor : Rika Riyanti
#pantai mertasari #muntig siokan #lawar #Sanur Village Festival