SINGARAJA, BALI EXPRESS - Aroma cengkih, pala, dan jahe menyambut setiap langkah pengunjung yang memasuki area Museum Sunda Ketjil di Pelabuhan Tua Buleleng. Di antara sekat ruang museum, UPTD Gedong Kirtya Singaraja menggelar sebuah pameran yang bertajuk “Rempah Ring Urip Lan Budaya” — Rempah dalam Kehidupan dan Budaya Masyarakat Bali.
Pameran ini tidak hanya memajang deretan rempah di meja kayu. Namun, rempah-rempah itu digunakan sebagai alat untuk menelusuri sejarah panjang bangsa Indonesia, melalui butiran kecil yang beraroma tajam dan berharga tinggi.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Nyoman Wisandika, menegaskan bahwa rempah bukan hanya bumbu dapur, melainkan bagian dari identitas bangsa.
“Rempah adalah komoditas yang sangat lekat dengan kehidupan kita. Melalui rempah, kita bisa mengungkap perjalanan sejarah, tradisi, dan budaya bangsa Indonesia,” ujarnya, Senin (10/11).
Pernyataan Wisandika ini sejalan dengan pemikiran Jack Turner, dalam bukunya Sejarah Rempah: Dari Erotisme sampai Imperialisme. Turner menulis bahwa rempah bukan sekadar bahan untuk menyedapkan makanan, tetapi simbol pencarian manusia terhadap kenikmatan, kekuasaan, dan makna. “Dunia modern lahir karena rempah,” tulisnya. Dari rempah, lahir rute dagang, ekspedisi besar, bahkan penaklukan.
Jika dulu rempah menjadi alasan bangsa-bangsa Eropa berlayar ke Timur, kini pameran di Pelabuhan Tua Buleleng ini seolah mengembalikan wangi sejarah itu ke tempat asalnya — pelabuhan yang pernah menjadi titik penting perdagangan di Bali Utara pada masa lampau.
Baca Juga: Seksualitas di Jalur Rempah
Salah satu yang menarik perhatian adalah pameran ramuan penglanang — ramuan herbal tradisional untuk menjaga stamina pria, serta ramuan kewanitaan yang diformulasikan dari berbagai bahan alami, untuk menjaga area intim perempuan. Kedua jenis ramuan itu bersumber dari Lontar Rukmini Tatwa, salah satu manuskrip klasik Bali yang menuliskan pengetahuan tentang pengobatan tradisional, keseimbangan dan perawatan tubuh.
Di sudut pameran, seorang juru lontar menjelaskan setiap rempah yang dipamerkan. Tidak lupa juga penjelasan tentang porsi dan kegunaan rempah di berbagai bidang. Lembaran lontar yang berusia ratusan tahun itu dibaca ulang, dihidupkan kembali melalui demonstrasi peracikan herbal dengan bahan dasar rempah seperti kunyit, jahe, temulawak, dan kayu manis.
“Rempah dalam lontar bukan hanya obat. Benda-benda itu juga bagian dari filosofi keseimbangan antara raga dan jiwa. Banyak cara untuk mengomunikasikan rempah dalam lontar ini. Baik berupa pameran atau cara lainnya,” ujar Wisandika.
Rempah di Bali bukan hanya urusan dapur atau jamu, tetapi juga ritual. Bunga cengkih, kulit kayu, dan minyak atsiri dari sereh sering dipakai dalam upacara keagamaan — sebagai persembahan, pembersih, hingga pelengkap banten. Dalam konteks budaya, rempah menjadi medium antara manusia dan alam, wujud syukur atas anugerah bumi.
Jack Turner pernah menyebut, “Spices are the soul of civilization.” Kalimat itu seolah menemukan maknanya di tengah pameran ini. Di Bali, jiwa peradaban itu bukan hanya pada rasa dan aroma, tetapi juga pada tatwa — pengetahuan mendalam tentang kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Memilih Pelabuhan Tua Buleleng sebagai lokasi pameran bukan tanpa alasan. Tempat ini dulunya adalah jalur utama perdagangan Bali Utara dengan dunia luar. Kapal-kapal dari Makassar, Bugis, dan bahkan Eropa pernah singgah di sini, menurunkan dan memuat rempah. Kini, melalui pameran ini, pelabuhan itu kembali “hidup”, menjadi ruang bagi publik untuk merenungi kembali aroma sejarah yang sempat terlupa. ***
Editor : Dian Suryantini