BALI EXPRESS. ID – Pameran bertajuk “Soulart: Turn by Love into Heroe Soewarno’s Art Journey” digelar di Balimoon Art Space di Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Minggu (9/11). Pameran yang digelar sebulan ini menampilkan perjalanan batin seorang seniman bernama Heroe M. Soewarno.
Pameran berlangsung dari 9 November hingga 9 Desember 2025 dan menjadi refleksi mendalam tentang cinta, spiritualitas, serta makna hidup melalui medium lukisan dan patung. Acara dibuka secara resmi oleh Ni Wayan Sri Ekayanti, dengan diiringi pertunjukan musikal Tobi and Friends serta pembacaan puisi oleh Ayu Murniarti.
Momen ini menjadi penanda perjalanan panjang Heroe dalam dunia seni, setelah sebelumnya menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai advokat. Heroe Soewarno, yang lahir di Bondowoso pada 20 November 1964, mulai menekuni seni rupa secara serius sejak tahun 2001.
“Melukis bagi saya bukan sekadar keterampilan visual, tetapi penyelaman batin. Ini adalah perwujudan mimpi yang sempat tertunda,” ungkap Heroe dengan penuh perasaan.
Disebutkan karya bukan hanya imajinasi pribadi, melainkan sesuatu yang dia hidupkan melalui goresan. Dalam pameran Soulart ini, sekitar 40 karya dipamerkan, sebagian besar beraliran realis-surealis yang merefleksikan kepekaan Heroe terhadap kehidupan dan budaya Bali selama empat tahun terakhir.
Tradisi seperti Barong Bangkal, tajen, hingga ngelawang menjadi sumber inspirasi yang diolah secara retrospektif melalui pengamatan langsung, foto, dan video. Benang merah dari pameran ini, Soul Art, menggambarkan seni sebagai refleksi batin yang berakar dari pengalaman emosional, pergulatan pikiran, dan pencarian makna hidup.
Setiap karya menjadi catatan rasa antara manusia dengan dirinya sendiri, dengan Tuhan, dan dengan alam semesta. “Soul Art adalah perjalanan spiritual yang tidak bisa selalu diungkap dengan kata-kata,” ujar Heroe.
Pameran “Soulart” terbuka untuk umum setiap hari hingga 9 Desember 2025 di Balimoon Art Space, Gianyar sebuah ruang dimana seni dan jiwa berpadu dalam harmoni, mengajak pengunjung untuk tidak sekadar melihat karya, tetapi ikut merasakan perjalanan batin sang seniman. *
Editor : Putu Agus Adegrantika