SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di sebuah sudut ruang pameran rempah, tergantung lukisan-lukisan. Sekilas, lukisan itu tampak tidak menarik. Namun, jika ditelusuri lebih jauh, lukisan-lukisan itu menyimpan proses yang tidak biasa. Gorenannya halus, lukisan berwarna lembut, dan klasik. Ternyata, lukisan itu sepenuhnya berasal dari alam.
Pelukisnya adalah I Ketut Supir. Sejak tahun 1980-an, namanya sudah akrab di lingkungan Undiksha. Ia dikenal sebagai dosen yang tekun meneliti dan mengajarkan seni kriya. Baik seni lukis, patung hingga ukiran. Namun, di balik kepakarannya dalam seni rupa, kini ia tengah mencoba hal baru. Ia melukis dengan pewarna alami dari rempah-rempah dan tumbuhan.
“Kalau pewarna alam, memang tidak bisa terlihat cerah dan mencolok. Harus ditumpuk dan dilakukan berkali-kali jika ingin warna yang pekat,” ujarnya sambil menatap karya lukisannya di ruang pameran Pelabuhan Tua Buleleng, Selasa (11/11).
Ada sekitar enam lukisan yang kini tergantung sebagai objek pameran. Warna-warna yang menari di atas kanvas itu berasal dari bahan yang tak biasa—kopi, kunyit, kemiri, daun indigo, daun pepaya, mengkudu, bahkan getah pohon. Semua diprosesnya sendiri. Dari menumbuk, merebus, hingga mengeringkan pigmen alami.
“Rempah-rempah itu tidak hanya untuk makanan. Fungsinya di bidang seni juga ada. Ya, memang tidak semuanya, tapi beberapa bisa digunakan,” katanya sambil menunjukkan satu kanvas berwarna kecoklatan dengan guratan lembut yang membentuk sosok Presiden ke-7 Rei, Joko Widodo.
Baca Juga: Bupati Sutjidra Kawal Revitalisasi Sekolah di Gerokgak, Dorong Hibah Tanah untuk Tambah Ruang Kelas
Dulu, sebelum pabrikan cat kimia mengambil alih, para seniman menggunakan kemiri untuk menciptakan gradasi warna hitam seperti tinta. Daun-daunan dan tanah liat pun dipakai untuk membuat lukisan dinding di pura atau rumah tradisional.
Namun, melukis dengan bahan alami tak semudah kedengarannya. Supir butuh waktu berjam-jam, bahkan berbulan-bulan, untuk mendapatkan warna yang diinginkan. Pewarna alami, kata dia, harus dirawat dan diikat agar tak mudah pudar.
“Kalau pewarna alam tidak diikat warnanya, cepat luntur. Tapi kalau pewarna kimia, itu tidak. Makanya banyak orang beralih ke pewarna kimia,” ungkapnya, tak menutupi kenyataan pahit bahwa teknologi telah membuat banyak seniman meninggalkan cara-cara tradisional.
Meski begitu, ia tidak ingin menyerah. Bagi Supir, tantangan justru menjadi ruang untuk belajar dan menegaskan makna seni yang sejati, seperti kepekaan terhadap alam dan proses.
Ia menyebut setiap lapisan warna alami yang menumpuk di kanvas sebagai simbol ketekunan—layaknya kehidupan yang perlu sabar dijalani, sedikit demi sedikit hingga membentuk keindahan.
Warna-warna dalam lukisan Supir tidak mencolok. Tidak ada merah menyala atau biru elektrik. Sebaliknya, yang muncul adalah nuansa lembut, natural, dan hangat—seolah lukisan itu menyimpan aroma rempah dan kenangan masa lalu.
“Warna alam itu jujur, tidak menipu mata. Tidak ada yang instan. Seperti daun indigo yang menghasilkan warna biru. Daun itu, kalau Bahasa Bali disebut Tarum. Saya dapatkan itu di sekitar pantai,” kata dia.
Kesan klasik itu membuat lukisan-lukisannya terasa berbeda di tengah dominasi karya-karya modern dengan pigmen sintetis. Ia bahkan mengaku bahwa banyak mahasiswa mulai tertarik mencoba teknik serupa, meski masih sebatas eksperimen kecil di kelas. ***
Editor : Dian Suryantini