Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Syafiudin Vifick dan Fotografi sebagai Bahasa Kemanusiaan

Dian Suryantini • Kamis, 13 November 2025 | 19:21 WIB

Syafiudin Vifick
Syafiudin Vifick

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Nama Syafiudin Vifick mungkin sudah tak asing di telinga para pecinta fotografi. Ia bukan sekadar fotografer, melainkan seorang visual storyteller — pencerita visual yang menggunakan kamera sebagai alat untuk memahami manusia dan lingkungannya. Dalam setiap bidikan lensanya, Vifick tak hanya menangkap gambar, tetapi juga menyimpan narasi tentang kehidupan, budaya, dan alam.

Lahir dari kegelisahan akan cepatnya dunia bergerak, Vifick memilih untuk memperlambat langkah. Ia percaya bahwa fotografi bukan sekadar perkara visual, tapi juga cara untuk merenung dan berempati. Karena itulah, karya-karyanya banyak menyoroti isu-isu kemanusiaan, sosial budaya, lingkungan, antropologi, hingga persoalan kontemporer yang menyentuh sisi kemanusiaan terdalam.

“Ada banyak persoalan lingkungan di Bali, seperti banjir, air bersih, sampah dan lain-lain. Sebagai warga, apapun keadaan lingkungan sekitarnya ya harus diterima, tapi juga harus diupayakan bersama apa solusinya. Agar kenyamanan itu terwujud,” kata dia, belum lama ini.

Tak heran jika karyanya sering menghiasi berbagai media nasional dan internasional. Sebut saja National Geographic Indonesia, Majalah Sriwijaya, Epicure, hingga berbagai media lain yang menampilkan dokumentasi kisah dan keindahan dalam kesederhanaan pandangannya. Namun dibalik segala pengakuan itu, Vifick tetap memegang prinsip bahwa kamera hanyalah jembatan, bukan tujuan.

Salah satu jejak penting dalam perjalanan kreatifnya adalah pembentukan Indonesianpinhole.org, sebuah proyek kolektif yang berfokus pada pengarsipan aktivitas seni fotografi lubang jarum (pinhole) di Indonesia. Fotografi pinhole sendiri adalah teknik yang menggunakan kamera sederhana tanpa lensa — hanya sebuah lubang kecil sebagai jendela cahaya.

Baca Juga: Tubuh, Seni, dan Ketuhanan: Jejak Panjang Diane Butler di Dunia Tari dan Kajian Budaya

Dari komunitas ini, lahir pula proyek besar yang mengguncang dunia fotografi alternatif Indonesia — #RekamMatahari. Pada tahun 2023, Vifick menggagas gerakan nasional untuk merekam lintasan matahari secara serentak di 500 lokasi di 34 provinsi. Dengan teknik suryagrafi dan kamera pinhole, ribuan peserta ikut terlibat merekam perjalanan harian sang surya selama berbulan-bulan.

Proyek ini bukan hanya soal eksperimen fotografi, tetapi juga refleksi tentang kesabaran, konsistensi, dan kebersamaan. Hingga kini, gerakan #RekamMatahari masih berjalan, menjadi bukti bahwa fotografi bisa melampaui batas individu dan berubah menjadi praktik kolektif yang mengikat banyak orang dalam satu semangat yang sama: melihat alam dengan kesadaran baru.

Selain pinhole, Vifick juga menggagas gerakan #SayaBercerita, yang mengajak masyarakat untuk menuturkan kisah pribadi melalui medium fotografi. Ia percaya bahwa setiap orang memiliki cerita, dan foto bisa menjadi cara untuk menyuarakannya tanpa banyak kata. Melalui program ini, Vifick menumbuhkan kesadaran bahwa fotografi bukan milik kalangan profesional saja, melainkan juga alat ekspresi bagi siapa pun.

Gerakan ini menjadi wadah bagi banyak peserta untuk mengabadikan kisah kecil yang sering luput — dari kehidupan sehari-hari, keluarga, hingga refleksi diri. Bagi Vifick, foto tak harus spektakuler, yang penting adalah kejujuran di balik setiap frame.

Tahun 2025 menjadi babak baru dalam eksplorasi visualnya. Bersama I Komang Adiartha, ia meluncurkan program HERBALOVA — sebuah proyek edukatif dan artistik di Desa Guwang, Gianyar, Bali. Program ini mengajak anak-anak untuk mendokumentasikan tanaman herbal di lingkungan sekitar dengan teknik scanografi, yaitu seni merekam objek menggunakan pemindai (scanner) alih-alih kamera tradisional.

Lewat HERBALOVA, Vifick ingin menanamkan rasa ingin tahu, kesadaran ekologis, dan cinta pada alam sejak dini. Hasil karya anak-anak itu kemudian dipresentasikan dalam pameran dan buku, menjadi bukti bahwa teknologi sederhana bisa menjadi jembatan antara seni, pendidikan, dan pelestarian lingkungan.

Dari lubang jarum hingga daun herbal, perjalanan Syafiudin Vifick adalah perjalanan mencari makna. Ia bukan sekadar fotografer yang mengejar keindahan visual, tapi seorang perenung yang menggunakan gambar sebagai sarana memahami kehidupan.

Karya dan gerakannya selalu punya benang merah yang sama: membumikan seni, menyentuh manusia, dan merayakan kesederhanaan. Dalam dunia yang semakin cepat dan bising oleh citra, Vifick justru mengajak kita berhenti sejenak — untuk melihat, mendengar, dan merasakan — karena di sanalah fotografi menemukan jiwanya yang sejati. ***

Editor : Dian Suryantini
#bali #lingkungan #sosial budaya #fotografi #fotografer #kemanusiaan #antropologi