Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Desa Sidan Jadi Tempat Belajar Pertanian Organik dan Pengelolaan Sampah Terpadu

Putu Agus Adegrantika • Jumat, 14 November 2025 | 03:39 WIB
PENGOLAHAN : Desa Sidan Gianyar yang menjadi tempat study tiru pertanian organik dan pengolahan sampah.
PENGOLAHAN : Desa Sidan Gianyar yang menjadi tempat study tiru pertanian organik dan pengolahan sampah.

BALIEXPRESS.ID - Desa Sidan, Kecamatan Gianyar, menjadi tempat study tiru pertanian organik dan pengelolaan sampah terpadu. Desa yang dikenal sebagai pelopor pertanian organik di Bali ini menjadi lokasi model praktik lapangan (field study), dalam rangka program pelatihan internasional yang digelar Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI bekerja sama dengan lembaga internasional di bidang pengelolaan keuangan desa dan ketahanan pangan berkelanjutan.

Kepala Desa Sidan, Made Sukra Suyasa, mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas kepercayaan yang diberikan kepada desanya.

“Hari ini kami menerima delegasi dari BPK Pusat bersama peserta pelatihan internasional. Mereka ingin melihat langsung bagaimana Desa Sidan menerapkan sistem pertanian organik, pengelolaan sampah terpadu, dan penguatan ekonomi melalui BUMDES,” ujar Sukra Suyasa, Kamis (13/11).

Kunjungan dimulai dari Kelompok Tani Sami Asih, tempat berdirinya Unit Pengolahan Organik. Di lokasi ini, para delegasi menyaksikan langsung bagaimana limbah ternak diolah menjadi pupuk padat berkualitas tinggi yang menjadi fondasi bagi sistem pertanian organik di desa.

Perjalanan berlanjut ke TPS 3R Desa Sidan, pusat pengelolaan sampah terpadu yang memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi kompos. Sistem ini dikolaborasikan dengan pertanian desa sehingga menciptakan siklus ramah lingkungan dari sampah kembali ke sawah.

Rombongan juga meninjau BUMDES Desa Sidan, yang menurut Sukra Suyasa berperan sebagai “ibu kandung” bagi petani desa.

“BUMDES menyediakan bibit, pupuk, dan modal usaha bagi petani. Setelah panen, hasilnya dibeli kembali untuk dipasarkan. Jadi sistemnya berputar petani terbantu, BUMDES tumbuh, dan desa sejahtera,” jelasnya.

Tak hanya itu, para delegasi turut mengunjungi lahan pertanian organik, menyaksikan proses pembibitan, pemilihan bibit unggul, hingga teknologi filterisasi air alami melalui kolam eceng gondok yang menjaga kesucian lahan dari bahan kimia.

Menurut Sukra Suyasa, model pertanian organik terpadu di Desa Sidan bukan sekadar mendukung ketahanan pangan, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi berkelanjutan berbasis sumber daya lokal. *

Editor : Putu Agus Adegrantika