BALIEXPRESS.ID — Menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, polemik terkait penjor kembali mencuat dan memantik perhatian sejumlah pihak.
Ketua Umum Paiketan Krama Bali, Dr. Ir. I Wayan Jondra, menilai kegaduhan ini memperlihatkan kurangnya pemahaman pejabat PLN terhadap karakter masyarakat Bali yang selama ini menjadi pelanggan teladan tanpa tunggakan.
“Pejabat PLN jangan omong saja, mesti beri contoh, danai desa adat untuk membuat contoh pemasangan penjor yang aman tanpa kehilangan makna, dengan menggandeng tokoh agama dan tokoh adat,” tegas Jondra yang juga Dosen Jurusan Teknik Elektro, Program Studi Teknik Listrik Politeknik Negeri Bali (PNB) di Denpasar, Minggu (16/11).
Menurut Jondra, persoalan tersebut muncul karena masih banyak jaringan PLN di Bali yang belum sepenuhnya aman.
Ia menyebutkan bahwa sejumlah jalur listrik masih menggunakan kabel terbuka yang seharusnya diganti atau diberi pelindung.
PLN juga diminta memberi sosialisasi yang lebih jelas, terutama terkait jenis kabel yang aman bersentuhan dengan penjor.
Baca Juga: Begini Kronologi Detik-detik Kecelakaan Maut Tewaskan Pemotor di Depan Indomaret Kalibukbuk Buleleng
Jondra menyampaikan, kabel berisolasi seperti medium voltage twisted insulated cable (MVTIC) maupun low voltage twisted cable (LVTC) sebenarnya tidak berbahaya jika ditempel penjor.
“Tidak semua kabel PLN tenget (harus bebas dari sentuhan penjor). Jika ada kabel berisolasi tersebut terkelupas dan mengakibatkan fatal, tentu 100% akibat kelalaian PLN,” ujarnya.
Ia pun mengimbau umat Hindu tetap melaksanakan tradisi penjor seperti biasa, namun dengan memperhatikan keamanan dan memastikan jenis kabel di sekitar lokasi pemasangan.
“Jika tidak kenal atau tidak paham telp PLN dengan nomor 123. Jika gegabah dan kesetroom yang rugi kita sendiri. Atas nama Ketua Umum Paiketan Krama Bali saya menyampaikan Selamat Merayakan Hari Raya Galungan dengan khidmat, cerdas, damai dan selamat,” tambahnya.
Jondra menekankan perlunya PLN melakukan edukasi menggunakan cara yang lebih tepat, termasuk melibatkan tokoh adat dan agama serta menyampaikan pesan dengan intonasi yang tidak terkesan memerintah.
Di sisi lain, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali juga angkat bicara.
Ketua PHDI Bali, I Nyoman Kenak, mengajak masyarakat agar tidak memperpanjang polemik soal penjor dan kembali fokus pada kekhidmatan perayaan Galungan.
“Mari cukupkan, jangan diperpanjang lagi. Kita maknai hari raya Galungan ini dengan kedamaian,” kata Kenak, Minggu, 16 November 2025.
Kenak meminta umat memasang penjor sebagaimana biasanya, termasuk seperti enam bulan lalu saat perayaan sebelumnya.
Baca Juga: Pemkab Badung Gelar Apel Peringatan HUT Ke-16 Ibu Kota Mangupura
Ia mengingatkan agar masyarakat tetap memperhatikan faktor keselamatan.
“Saya kira umat Hindu sudah tahu bagaimana pemasangan penjor itu. Lakukan seperti sebelumnya, seperti 6 bulan lalu dan selalu utamakan keselamatan. Misalnya jangan pakai bambu yang lapuk karena itu berbahaya kalau patah,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa penjor Galungan merupakan penjor upacara, yang wajib dilengkapi unsur-unsur sakral seperti pala bungkah, pala gantung, dan komponen lainnya.
Baca Juga: Dua Remaja di Bawah Umur Terlibat Aksi Begal, Korban Pelajar Usia 13 Tahun
Kenak menyayangkan beberapa komentar di media sosial yang menyebut enggan memasang penjor karena adanya imbauan PLN.
Ia menegaskan bahwa tradisi ini tidak boleh ditinggalkan.
“Saya juga lihat di komentar ada yang bilang tidak menjor karena imbauan itu. Ada yang mau pasang di tengah jalan. Jangan sampai seperti itu. Harus menjor dan lakukan seperti sebelumnya. Apalagi sudah rutin setiap enam bulan,” tegasnya.
Ia berharap ke depan PLN berkoordinasi lebih baik dengan pemuka agama dan adat agar setiap imbauan terkait keselamatan dapat diterima tanpa menimbulkan pro dan kontra.
“Saya kira imbauan dari PLN itu baik, tujuannya untuk keselamatan bersama. Namun ke depan mungkin bisa koordinasi dengan pemuka agama atau adat sehingga penyampaiannya bisa lebih manis dan elegan sehingga tidak ramai,” tutupnya.(***)
Editor : Rika Riyanti