Kegiatan pengabdian yang diselenggarakan dari 14 s/d 16 November ini dipusatkan di Wantilan Pura Kawitan Widya Dharma, Desa Tosari Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Acara bertema Harmoni Nilai Agama dan Budaya dalam Penguatan Identitas Hindu ini menghadirkan enam orang narasumber internal yang merupakan akademisi dari Prodi Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan (IAK).
Mereka diantaranya Dr. Ida Made Windya, S.Ag, M.Ag yang memaparkan tentang Implementasi Nilai Tri Hita Karana dalam Tradisi Lokal Tengger sebagai upaya Penguatan Identitas Hindu.
Selanjutnya narasumber Dr. Ni Luh Gede Hadriani, M.Si memaparkan strategi penguatan Agama dan Budaya Lokal dalam upaya Pelestarian Identitas Hindu Tengger.
Materi seputar Dukun Pandita Penjaga Identitas Ritual Hindu Tengger dipaparkan oleh Dr. I Putu Mardika, M.Si.
Pemaparan materi bertema Upacara Yadnya Kasada sebagai Simbol Identitas dan Harmoni dengan Alam juga dilakukan narasumber Dr. I Gede Mahardika, S.Ag, M.Fil.H
Materi bertema Teologi Sosial dan Identitas Kolektif: Studi tentang Ketahanan Budaya Masyarakat Hindu Tengger dibawakan oleh Dr. I Nyoman Miarta Putra, M.Ag.
Sedangkan narasumber lainnya adalah Dr. Nyoman Suka Ardhiyasa, M.Fil.H yang memaparkan materi terkait Penguatan Hindu Nusantara dalam Perspektif Teks Teks Jawa Kuno.
Plt Kaprodi Ilmu Agama dan Kebudayaan, Dr. Hadriani menjelaskan, kegiatan pengabdian masyarakat ini memang menyasar tokoh Agama, tokoh adat dan Budaya di kawasan Tengger.
Bukan tanpa alasan kawasan Tengger dipilih sebagai lokasi pengabdian masyarakat. Menurutnya, Umat Hindu di Tengger memiliki karakteristik budaya yang unik dan tidak dimiliki di wilayah lain di Nusantara.
Selain itu, keunikan kebudayaan ini tentu harus dilestarikan dan diberikan penguatan agar Umat Hindu di Tengger semakin bangga dengan kebudayaan yang dimiliki.
“Tradisi-tradisi, kebudayaan umat Hindu di Tengger ini layak dipelajari, dilestarikan dan tentu harus diberikan penguatan-penguatan kepada masyarakat sebagai pemilik kebudayaan,” kata Hadriani.
Hadriani berharap, Pengabdian Masyarakat ini memberikan dampak positif kepada masyarakat Hindu Tengger. Selain itu, riset-riset akademisi di Institut Mpu Kuturan seputar Hindu Tengger diharapkan bisa memberikan kontribusi terhadap pengembangan keilmuan terkait kebudayaan.
Ia menyebut, agar kehadiran Prodi Magister IAK memberikan dampak, pihaknya juga sudah menandatangi MoU dengan tokoh Adat dan Agama di Tengger.
“Kami sudah melakukan penandatanganan MoU dengan para tokoh di Tengger. Semoga kegiatan ini bisa berdampak dan kami selalu hadir memberikan pendampingan kepada masyarakat,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua PHDI Pasuruan, Sukisman mengapresiasi kegiatan pengabdian yang dilaksanakan. Menurutnya, Umat Hindu di Tengger memiliki corak kebudayaan yang tidak bisa disamakan dengan Hindu lain di Nusantara.
“Semoga dengan pengabdian masyarakat ini semakin meneguhkan konsep Hindu Nusantara. Bahwa dimanapun Hindu tumbuh, pasti memiliki akar budaya sebagai cerminan kearifan lokal,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika