BALIEXPRESS.ID - Mulai tahun 2026, Pemkot Denpsar bakal melakukan penataan kawasan pusat kota.
Penataan di titik 0 Kilometer Kota Denpasar ini pun meliputi taman kota, trotoar atau pedestrian, hingga lampu penerangan.
Hal ini dilakukan untuk memperkuat kualitas tata ruang kota.
Baca Juga: Luapan Air Lantai III Genangi Pasar Singamandawa Kintamani, 50 Pedagang Terdampak
Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa mengatakan, penataan ini akan dilakukan di Jalan Gajah Mada, Thamrin, Hasanudin, Sulwesi, dan Sumatera.
Perbaikan dilakukan pda taman kota, trotoar, dan lampu penerangan.
Ia menyebutkan, penataan pada trotoar rencananya akan digunakan batu andesit.
Baca Juga: Puncak HUT Mangupura, Masyarakat Diimbau Gunakan Transportasi Umum
Sementara untuk badan jalan maaih akan dilakukan pengkajian penggunaan bahan aspal atau paving.
“Arahan Bapak Wali Kota, pasca banjir ini menjadi momentum untuk kita mulai penataan menyeluruh di kawasan 0 kilometer pada tahun 2026,” ujar Arya Wibawa.
Dalam penataan ini, wajah pusat Kota Denpasar akan berubah lebih rapi, nyaman, dan mendukung aktivitas ekonomi.
Baca Juga: Target 2026, BWS Bali-Penida Tambah Pasir sepanjang 5 Km Bibir Pantai
Dari rencana penataan pada 2026, kedepan Wali Kota Denpasar juga akan bertemu langsung dengan para pemilik toko di Jalan Gajah Mada.
Pertemuan ini untuk memperkuat pola komunikasi serta mendorong transformasi bisnis agar ekosistem ekonomi di kawasan 0 Km dapat bergerak lebih dinamis.
“Kami berharap melalui komunikasi langsung dengan para pemilik toko, transformasi bisnis di Gajah Mada dapat berjalan dan menghidupkan kembali ekosistem ekonominya,” paparnya.
Dalam rencana penataan ini, Arya Wibawa mengaku, Pemkot Denpasar mendapatkan masukan dari masyarakat.
Salah satunya yakni menjadikan Jalan Gajah Mada sebagai area street food.
Hanya saja dirinya menilai hal tersebut kurang memungkinkan, sebab status jalan yang sangat vital.
Meski demikian, Pemkot Denpasar kini mengkaji alternatif lain, yakni menjadikan Jalan Sulawesi sebagai pusat kuliner UMKM.
Jalur yang lebih lengang dan aman dianggap ideal untuk dikembangkan sebagai kawasan street food sekaligus penggerak ekonomi lokal pada malam hari.
“Jalan Sulawesi lebih memungkinkan karena lebih lengang dan aman, sehingga bisa menjadi pusat kuliner UMKM sekaligus menghidupkan kota di malam hari,” jelasnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga