Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Angkat Tradisi Pertanian Bali, Anak -Anak Diajari Tahapan Panen Padi Secara Tradisional

Putu Agus Adegrantika • Selasa, 25 November 2025 | 03:41 WIB
PANEN : Praktek panen padi secara tradisional di acara Sayan Nguni, Minggu (23/11).
PANEN : Praktek panen padi secara tradisional di acara Sayan Nguni, Minggu (23/11).

BALIEXPRESS. ID– Di tengah pesatnya modernisasi dunia pertanian, tradisi panen padi secara turun-temurun di Bali tetap menjadi daya tarik sekaligus bukti kuatnya kearifan lokal masyarakat subak. Hal ini kembali dihidupkan melalui rangkaian edukasi budaya dalam ajang Sayan Nguni atau SanguFest, yang digelar Sekaa Teruna Banjar Mas Sayan, Ubud, Gianyar.

Ketua Panitia, I Wayan Putra Arimbawa menjelaskan bahwa pelestarian teknik panen tradisional adalah upaya menjaga jati diri masyarakat Bali yang sangat menghargai alam dan hasil bumi.

“Panen bukan hanya soal mengambil padi, tapi ada nilai spiritual dan kebersamaan yang diwariskan leluhur. Tradisi ini harus dikenalkan lagi kepada generasi muda,” ujarnya.

Proses panen dimulai dengan ngepik, yakni memetik bulir padi satu per satu menggunakan alat tradisional. Cara ini dianggap lebih halus dan menghormati kesucian padi sebagai anugerah dari alam. Setelah dipetik, padi diikat menjadi gelang, lalu dibersihkan pada tahap mereresik.

Tahap berikutnya yang tak kalah penting adalah nebuk padi, proses memisahkan bulir padi dari tangkainya dengan cara dipukul pada papan kayu atau tong bambu. “Nebuk dilakukan bersama-sama sambil bergurau, kadang sambil berdoa. Di sinilah rasa gotong royong sangat terasa,” jelas Arimbawa.

Usai gabah terlepas, padi melalui proses ngasah dan ngepor, yaitu pembersihan dan penjemuran di bawah matahari hingga siap menjadi beras berkualitas. Pada tahap akhir, hasil panen disimpan di jineng, lumbung tradisional yang dirancang agar padi tetap kering dan terlindungi dari hama.

Nebuk padi dilakukan dengan cara memukul malai padi pada papan kayu, tong bambu, atau alas anyaman yang telah disiapkan. Para petani memegang tangkai padi dan menghentakkannya berulang-ulang hingga bulir padi terlepas dari jeraminya. Suasana kebersamaan terasa kuat, sebab proses ini umumnya dikerjakan secara gotong-royong di sawah maupun di bale subak.

Selain berfungsi teknis, nebuk padi memiliki makna sosial dan spiritual yang kental. “Tradisi ini bukan sekadar pekerjaan di sawah, tetapi momen kebersamaan masyarakat sekaligus bentuk rasa syukur atas anugerah panen,” ujar Arimbawa.

Nebuk sering dilakukan sambil berdoa sebagai penghormatan kepada Dewi Sri, simbol kesuburan dan kesejahteraan bagi umat Hindu Bali.

Tujuan utama tahapan ini adalah untuk memisahkan bulir padi dari malainya sebelum masuk proses penjemuran. Setelah gabah terkumpul, padi kemudian dijemur di bawah sinar matahari hingga kadar airnya berkurang dan siap untuk disimpan atau digiling menjadi beras berkualitas.

Teknik tradisional yang diwariskan turun-temurun ini tidak hanya menjaga kualitas hasil bumi, tetapi juga melestarikan hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Tradisi nebuk padi menjadi pengingat bahwa setiap butir padi membutuhkan kerja keras dan kebersamaan dalam prosesnya.

Dengan terus dirawat dalam kegiatan subak, nilai filosofis nebuk padi tetap hidup di tengah masyarakat Bali, menjadi identitas budaya yang tetap mengajar meski zaman terus berubah.

Arimbawa menegaskan bahwa seluruh rangkaian panen ini tidak lepas dari unsur sakral. “Kami selalu mengiringi tahapan panen dengan rasa syukur kepada Dewi Sri sebagai wujud terima kasih atas kesuburan tanah. Inilah yang membedakan tradisi Bali dengan teknik modern,” katanya.

Melalui Sayan Nguni, ia berharap nilai-nilai luhur dalam dunia pertanian tidak hilang ditelan zaman. “Kami ingin anak-anak tahu bahwa sebelum ada mesin, para leluhur sudah mampu menghasilkan padi dengan cara yang penuh filosofi. Tradisi ini bukan untuk dikenang saja, tapi dijalankan dan dijaga,” tutupnya.

Festival budaya pertanian ini pun menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali hubungan harmonis manusia dengan alam sebagai ruh kehidupan masyarakat Bali.*

 

 

 

Editor : Putu Agus Adegrantika