SINGARAJA, BALI EXPRESS – Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) kembali menunjukkan perannya sebagai perguruan tinggi yang berkomitmen pada pengembangan kepemimpinan nasional. Hal ini tampak saat kampus negeri di Bali Utara tersebut menjadi tuan rumah pelaksanaan Indonesia Future Leaders Camp (FLC) Regional V. Kegiatan tersebut merupakan sebuah program strategis Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk mencetak calon pemimpin bangsa.
Di Auditorium Sumber Daya Pembelajaran (SDP) Undiksha, sebanyak 60 peserta FLC—ketua dan pengurus BEM serta organisasi ekstra kampus dari Bali, Kalimantan, NTB, dan NTT—mendapatkan pembekalan langsung dari Mendiktisaintek, Brian Yuliarto. Keberadaan kegiatan ini di Undiksha sekaligus menegaskan posisi kampus tersebut sebagai pusat lahirnya generasi pemimpin muda yang berpikir global, kritis, dan adaptif.
Dalam pemaparannya, Menteri Brian menekankan pentingnya pemahaman wicked problems—tantangan global yang saling terhubung dan tidak mudah dipecahkan. “Krisis iklim, ketimpangan ekonomi, revolusi digital, hingga disrupsi nilai akibat kecerdasan buatan menuntut Indonesia untuk bergerak lebih cepat dan lebih berani,” tegasnya. Ia menilai stagnasi industri manufaktur nasional dan ketergantungan pada negara lain menjadi hambatan serius yang harus diatasi dengan keberanian melakukan lompatan besar.
Menteri Brian menegaskan bahwa transformasi bangsa menuju negara maju sangat bertumpu pada generasi muda, terutama mahasiswa. FLC di Undiksha disebutnya sebagai langkah konkret untuk memperkuat wawasan global dan kapasitas kepemimpinan para pemimpin masa depan. “FLC ini adalah cara untuk menanamkan paradigma dan wawasan global sejak dini. Tanpa pemimpin muda yang ambisius dan visioner, bangsa ini akan sulit sejajar dengan negara-negara maju,” ujarnya.
Undiksha sendiri tidak hanya berperan sebagai tuan rumah, tetapi juga menghadirkan inspirasi melalui sambutan Rektor, Prof. I Wayan Lasmawan. Dalam kisah pribadinya, Rektor Lasmawan menegaskan bahwa kepemimpinan bukanlah bakat bawaan, melainkan buah dari perjalanan, perjuangan, dan kemampuan mengolah potensi diri. Lahir dan besar di desa terpencil, ia tak pernah membayangkan menjadi Rektor atau Profesor. Namun kerja keras membawanya meraih gelar Profesor pada usia 36 tahun—sebuah capaian yang ia jadikan pesan penting bagi mahasiswa.
“Esensi kepemimpinan adalah mengenal potensi diri dan mengorkestrasi kompetensi agar selaras dengan masa depan. Jadilah pemimpin, bukan pengikut. Untuk apa jadi followers kalau bisa jadi trendsetter?” tegasnya, disambut antusias para peserta.
Keberhasilan penyelenggaraan FLC Regional V di Undiksha menunjukkan kapabilitas kampus ini dalam mendorong munculnya pemimpin berwawasan global dari kawasan timur Indonesia. Dengan fasilitas yang memadai, lingkungan akademik yang progresif, dan kultur kependidikan yang kuat, Undiksha semakin menegaskan perannya sebagai kampus penggerak kepemimpinan strategis nasional.
Program FLC sendiri diselenggarakan di lima kawasan dari akhir Oktober hingga akhir November: Regional I (Jakarta, Jawa Barat, Banten), Regional II (Sumatera), Regional III (Sulawesi, Papua, Maluku), Regional IV (Jawa Tengah, Jawa Timur), dan puncaknya Regional V yang digelar di Undiksha untuk wilayah Bali, Kalimantan, NTB, dan NTT. ***
Editor : Dian Suryantini