SINGARAJA, BALI EXPRESS - Seorang lansia duduk bersila, bertongkat, berada tepat di sela-sela barisan penabuh. Dialah I Made Kranca, maestro tari dan tabuh dari Jagaraga—sang penjaga memori kesenian desa yang ditahbiskan sebagai pusat sejarah Gong Kebyar.
Tahun lalu, Made Kranca ikut tampil dalam PKB 2024. Meski tidak ikut menabuh, keberadaan Made Kranca seperti suluh yang menyalakan semangat penabuh lainnya. Usianya renta, ingatannya pun tak lagi sekuat masa mudanya. Namun begitu gong mulai berdentum, seolah ada pintu waktu yang terbuka.
Kranca terlihat beberapa kali memberi kode halus kepada penabuh yang keliru memukul nada. Tatapan matanya yang semula sayu seketika hidup, penuh gairah, ketika alunan tabuh mencapai puncaknya. Adegan itu kemudian viral di media sosial. Banyak komentar memuji sosok maestro tua yang tetap setia menjaga tradisi hingga akhir usianya.
Saat itu, penampilan Sekaa Gong Jaya Kusuma dibuka dengan Tabuh Manik Amutus. Tabuh kreasi itu diciptakan tahun 1970 oleh Made Kranca bersama almarhum Maestro Gde Manik. Sebuah karya musikal yang lahir dari proses diskusi panjang dua tokoh karawitan besar dari Jagaraga.
Baca Juga: Undiksha Jadi Episentrum Pembentukan Pemimpin Muda dalam Future Leaders Camp Regional V
Komposisi tabuh ini mengambil unsur Gender Wayang, Lelonggoran, dan Gambang, menjadikannya satu kesatuan orkestrasional yang kaya, dinamis, dan sarat spiritualitas khas Buleleng.
Made Kranca, sang maestro gong kebyar Desa Jagaraga, cucu Pan Wandres yang legendaris, dan murid sang legenda Gde Manik.
Seiring dentuman yang kembali dilatih, para penabuh sepuh itu pun perlahan membuka ingatannya. Nada demi nada muncul kembali seperti kawan lama yang diketuk dari tidur panjangnya.
Tabuh kedua yang dibawakan malam itu ialah Tabuh Pepanggulan Baratayuda, karya monumental almarhum Maestro Gde Manik. Terinspirasi dari perang besar dalam epos Mahabrata, tabuh ini lahir tahun 1950 sebagai komposisi baru di masa itu.
Gde Manik mengemas karya ini dengan pendekatan bebas namun tetap berakar pada tradisi. Unsur gilak, kebyar, pengadeng, hingga gegenderan dirajut dengan tempo dan dinamika yang mengikuti dramaturgi perang Baratayuda. Karya ini memperlihatkan kecakapan Gde Manik sebagai komposer yang tidak hanya menguasai estetika tradisi, tetapi juga memiliki visi musikal yang jauh lebih modern dari zamannya.
Sebagai penutup, para penabuh Jaya Kusuma menampilkan Tari Teruna Jaya—tarian legendaris yang akarnya mengarah pada tahun 1915. Tahun itu pula perdebatan tentang lahirnya Gong Kebyar mengerucut pada satu nama: I Wayan Peraupan atau Pan Wandres, seniman tabuh dan tari dari Jagaraga.
Ia menciptakan Tari Kebyar Legong, karya monumental yang menandai awal pergeseran besar dalam perjalanan seni pertunjukan Bali. Kolaborasi elemen Baris, Jauk, dan Legong yang dipadu dengan irama Kebyar menjadi identitas baru yang melejitkan nama Jagaraga sebagai pusat inovasi.
Dua penari pertama tarian tersebut—I Gde Manik dan Mangku Ongka—menjadi legenda. Pada 1950-an, Gde Manik bahkan menari di hadapan Presiden Sukarno. Sang presiden, terkesima oleh energi dan keberanian gerak, memberikan nama baru: Tari Teruna Jaya. Nama yang melekat hingga kini sebagai simbol kepemudaan, gairah, dan ledakan dinamika tari Bali utara.
Di balik gemerlap panggung dan dentuman gong yang mengguncang dada, sosok Made Kranca duduk dengan tenang. Barangkali ia tidak lagi mengingat semua detail kehidupan, namun ia masih mengingat jalur nada yang pernah ia ciptakan, rawat, dan ajarkan.
Dalam dirinya, Jagaraga menemukan cermin masa lalu yang terus menyala. Dalam tatapannya yang penuh cinta pada seni, generasi muda menemukan teladan. Dan dalam dentuman gong malam itu, Bali mengingat kembali bahwa sejarahnya tidak hanya ditulis oleh para raja, melainkan juga oleh para maestro desa—yang dengan kesetiaan mereka menjaga warisan tetap hidup. Made Kranca adalah salah satunya. Sebuah ingatan yang tak pernah padam. ***
Editor : Dian Suryantini