Kegiatan ini mengusung tema Pelatihan Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Kurikulum Cinta Perspektif Hindu dengan Pendekatan Deep Learning. Seluruh kegiatan didukung penuh oleh pendanaan DIPA Dirjen Bimas Hindu, Kementerian Agama RI Tahun 2025.
Ketua tim pengabdian, Dr. I Ketut Suparya, M.Pd, bersama anggota tim I Wayan Wira Dharma, M.Pd.H, Gede Agus Jaya Negara, M.Pd.H (IAHN Mpu Kuturan), serta Komang Wisnu Budi Wijaya, M.Pd (UHN Sugriwa), berhasil memfasilitasi para guru Utama Widyalaya Astika Dharma dalam penguatan kapasitas penyusunan perangkat pembelajaran yang sesuai dengan arah pengembangan Kurikulum Cinta Perspektif Hindu serta tuntutan pembelajaran abad ke-21.
Menurut Dr. Suparya, kegiatan ini dirancang sebagai langkah strategis untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna, berkarakter, dan berorientasi pada nilai-nilai Hindu yang berlandaskan cinta.
Ia menegaskan bahwa Kurikulum Cinta menempatkan nilai kasih sayang universal sebagai fondasi pendidikan, mencakup cinta kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa, cinta kepada sesama manusia, cinta terhadap lingkungan, serta cinta terhadap negara.
“Guru perlu memahami bahwa kurikulum ini bukan hanya struktur administratif, tetapi sebuah kerangka nilai yang mesti hidup dalam setiap proses belajar. Pelatihan ini membantu guru menata ulang cara pandang dan keterampilan pedagogis mereka,” ujarnya.
Pendekatan deep learning diperkenalkan sebagai strategi inti pelatihan untuk mendorong peserta didik berpikir kritis, memahami konsep secara mendalam, serta mampu mengembangkan kecakapan kolaborasi, kreativitas, komunikasi, dan pemecahan masalah.
Melalui pendekatan ini, guru diharapkan tidak hanya mengajarkan konten, tetapi juga mampu menuntun siswa membangun pengalaman belajar yang reflektif dan transformasional.
Materi pelatihan yang diberikan meliputi; Konsep dan filosofi Kurikulum Cinta Perspektif Hindu; Dimensi profil lulusan; Prinsip-prinsip pembelajaran mendalam (deep learning); Pengalaman belajar yang mendalam; Penyusunan ATP, modul ajar, dan asesmen autentik berbasis nilai Hindu dan Integrasi spiritualitas, etika, dan ilmu pengetahuan dalam perangkat pembelajaran
Selama proses pelatihan, peserta terlibat aktif dalam praktik penyusunan perangkat pembelajaran, diskusi kelompok, serta sesi refleksi untuk mengidentifikasi tantangan yang mereka hadapi di kelas maupun alternatif solusinya. Antusiasme peserta menunjukkan komitmen besar untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih berkualitas.
Di akhir kegiatan, Dr. Suparya menyampaikan harapannya agar para guru Utama Widyalaya Astika Dharma mampu menjadi pelopor dalam implementasi Kurikulum Cinta di tingkat sekolah dasar hingga menengah. Ia menegaskan bahwa pendidikan yang berlandaskan cinta dan dharma akan mampu melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual sekaligus matang secara spiritual dan moral.
Kepala Sekolah Utama Widyalaya Astika Dharma dalam sambutannya menegaskan relevansi kegiatan ini dengan kebutuhan pendidikan masa kini. Menurutnya, guru dituntut lebih kreatif dan reflektif dalam merancang pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan nilai-nilai dharma.
“Melalui pelatihan ini, guru-guru merasa terbantu dalam menyusun perangkat pembelajaran berbasis Kurikulum Cinta dengan pendekatan deep learning. Perangkat yang dikembangkan benar-benar mampu menumbuhkan cinta, kesadaran, dan keadaban dalam diri murid,” ungkapnya.
Melalui terselenggaranya kegiatan ini, Utama Widyalaya Astika Dharma kembali menegaskan komitmennya untuk memajukan pendidikan Hindu yang berkarakter, spiritual, dan bermakna bagi generasi masa depan.
Program pengabdian ini juga memperkuat sinergi antarperguruan tinggi dalam memajukan inovasi pembelajaran serta mendukung agenda strategis Kementerian Agama RI dalam pengembangan Kurikulum Cinta di seluruh Indonesia. (dik)
Editor : I Putu Mardika