Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Di Balik Dentingan Besi, Ada Tubuh yang Terluka, Ada Perlindungan yang Siaga

Dian Suryantini • Jumat, 28 November 2025 | 16:11 WIB

Pengerajin pandai besi, Made Martawan di Dusun Kawanan, Desa Sawan sedang menempa besi yang telah dipanaskan untuk menjadi golok.
Pengerajin pandai besi, Made Martawan di Dusun Kawanan, Desa Sawan sedang menempa besi yang telah dipanaskan untuk menjadi golok.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di sebuah gang kecil di Desa Sawan, Kecamatan Sawan, Buleleng, suara dentingan besi selalu terdengar sejak pagi. “Tang… tang… tang…”— ritme yang tidak pernah putus. Di dalam ruang kerja yang panas dan dipenuhi percikan api, Nyoman Maker—salah satu pande besi senior—menyeka keringat di dahi sambil tersenyum kecil.

“Kalau garap besi, saya banyak luka,” ujarnya saat ditemui, Kamis (27/11). Ungkapan itu menyiratkan seolah luka adalah bagian biasa dari kesehariannya.

Tangannya memperlihatkan bekas sayatan halus, kulit yang mengeras dan guratan yang menyimpan banyak cerita.

“Serpihan besi itu panas kalau kena badan. Ada banyak dari kami yang punya serpihan besi di perut, di tangan, di kaki. Dulu kan pengobatan tidak seperti sekarang,” ujarnya sambil memperlihatkan bagian perutnya yang kini telah keriput.

Maker bercerita sambil menunjukkan beberapa titik di lengannya. Sambil tertawa ia mengisahkan luka-luka yang menggores badannya yang kurus itu.

“Kalau kena mata, itu yang ngeri. Dulu banyak kejadian begitu. Sekarang sudah lebih sadar pakai kacamata, pakai baju panjang, sarung tangan juga,” kata Maker.

Dalam dunia para pandai besi, panas adalah sahabat sekaligus ancaman. Suhu tungku pembakaran mencapai sekitar 3.000 kalori, cukup untuk melunakkan besi agar dapat dibentuk menjadi pisau, golok, sabit, atau alat pertanian. Pukulan palu tidak bisa pelan. Ritmenya keras, tak kenal ampun.

Menempa besi resikonya besar. Begitu pula saat menempa perunggu yang digunakan untuk gong. Bahkan, lebih berbahaya. “Kalau kena serpihan perunggu itu harus segera diobati. Perunggu itu beracun,” katanya.

Nyoman Maker, pengerajin pandai besi dan perunggu di Desa Sawan, Buleleng
Nyoman Maker, pengerajin pandai besi dan perunggu di Desa Sawan, Buleleng

Nyoman Maker bukanlah satu-satunya yang merasakan goresan dan panasnya tungku. Ada Nyoman Wira yang juga mahir membuat peralatan dari besi. Tangan yang penuh sayatan halus dari menempa besi menjadi makanan sehari-hari.

“Saya buat pisau dapur, golok, dan lainnya. Terluka itu sudah biasa, tapi tidak sampai parah. Astungkara (Alhamdulillah),” ujar Nyoman Wira.

Kendati tak pernah terluka parah, Nyoman Wira selalu waspada. Ia lantas mendaftarkan diri sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Wira yang juga Kepala Desa Sawan, mendorong para pengerajin pandai besi dan perunggu di desanya agar memiliki jaminan.

Hingga saat ini hampir 90 persen masyarakat yang bekerja sebagai pandai besi dan perunggu telah memiliki BPJS Ketenagakerjaan. Mereka telah sadar akan pentingnya perlindungan pekerja. Terlebih buruh pandai besi termasuk kelompok pekerja rentan dengan resiko kecelakaan kerja yang tinggi.

“Kami kebanyakan sudah mempunyai BPJS Ketenagakerjaan yang dibayarkan oleh pemerintah. Ada juga yang terdaftar secara mandiri. Hal inilah yang sangat membantu dan memberi rasa aman saat terjadi kecelakaan kerja,” ujar Nyoman Wira.

Desa Sawan dikenal sebagai salah satu pusat kerajinan pandai besi terbesar di Buleleng. Nyoman Maker dan Nyoman Wira adalah dua dari ratusan warga yang masih menekuninya. Kerja turun-temurun ini diwariskan dari kakek ke ayah, dari ayah ke anak.

Hingga kini, ada 169 home industry pandai besi dan 5 pengerajin pandai gong (perunggu). Dari total populasi pengerajin yang mencapai 368 orang, terdapat 121 perapen (tungku) yang masih aktif berproduksi setiap hari.

Nyoman Wira, pengerajin pandai besi dan Kepala Desa Sawan, Kecamatan Sawan, Buleleng
Nyoman Wira, pengerajin pandai besi dan Kepala Desa Sawan, Kecamatan Sawan, Buleleng

Setiap rumah pengerajin memiliki ritme mirip. Dari subuh menyalakan tungku, pagi mulai menempa, siang menyelesaikan detail, sore membersihkan dan menyiapkan bahan untuk esok hari. Tidak ada hari kerja yang ringan. Tidak ada hari tanpa resiko. Siklus juga yang dilakukan Made Martawan, Pengerajin Pandai Besi dari Dusun Kawanan, Desa Sawan, Buleleng.

“Sekarang sudah mulai pakai kacamata, masker, sarung tangan. Dulu tidak ada begitu. Dulu kerja itu ya, langsung saja. Pokoknya panas, pukul, selesai. Sekarang sudah lebih hati-hati,” kata dia.

Sebagian besar luka terjadi pada tangan karena bagian itulah yang paling sering bersentuhan langsung dengan besi panas, palu, atau serpihan logam.

“Sekarang saya sudah punya BPJS Ketenagakerjaan. Jadi tidak was-was lagi. Kalau terluka dan harus butuh penanganan serius, tidak khawatir soal biaya,” ungkapnya.

Bagi mereka, BPJS Ketenagakerjaan bukan hanya kartu identitas jaminan sosial—tapi rasa aman yang selama ini tidak pernah mereka miliki. Bahkan untuk pekerjaan yang sudah dilakukan secara turun-temurun, sistem perlindungan baru ini menjadi angin segar.

Di banyak tempat, perlindungan pekerja informal sering kali hanya menjadi wacana. Namun di Desa Sawan, perlindungan itu justru menjadi paying bagi ratusan pengerajin pandai besi.

“Kami memberikan pemahaman tentang keselamatan kerja. Dan kami memfasilitasi transportasi kalau ada warga yang kecelakaan kerja,” jelas Kepala Desa Sawan, Nyoman Wira.

Desa tidak mengeluarkan biaya pengobatan—semua mengandalkan jaminan yang mereka miliki. Namun dukungan moral, logistik, dan kehadiran pemerintah desa membuat perlindungan itu terasa lengkap.

Jaminan kerja tidak boleh hanya untuk mereka yang bekerja di gedung tinggi, mengenakan seragam rapi. Perlindungan kerja harus mencakup semua lapisan—termasuk pekerja tradisional, pengerajin kecil, buruh informal, atau pekerja lepas yang selama ini sering tidak dianggap.

“Kecelakaan kerja tidak memilih status pekerjaan. Risiko dapat terjadi pada siapa saja,” imbuh Wira.

Di Desa Sawan, jaminan kerja bukan konsep kosong. Akses pengobatan, perlindungan dari risiko, penanganan cepat, dan kenyamanan psikologis bagi para pengerajin adalah yang utama. BPJS Ketenagakerjaan membantu mereka tetap bekerja tanpa rasa takut kehilangan pendapatan ketika kecelakaan terjadi.

“Beberapa warga kami sudah merasakan manfaatnya,” kata Wira.

Meskipun kesadaran meningkat, ancaman masih tetap ada. Percikan logam panas bisa memantul ke wajah. Serpihan kecil bisa menembus kulit. Dan perunggu—jika melukai—dapat menimbulkan infeksi serius karena sifatnya yang beracun.

Sore hari, ketika tungku perapen perlahan padam, suara dentingan mulai berkurang. Para pengerajin duduk di teras rumah masing-masing, menikmati angin sambil melemaskan otot tangan yang lelah.

“Capek? Jelas! Tapi kalau kerja kami aman, dan ada yang melindungi, itu membuat kami terus semangat,” tutur Nyoman Maker.

Dengan perlindungan yang tepat, pekerjaan mereka bukan hanya produktif, tetapi juga bermartabat. Dengan jaminan kerja, tradisi menempa logam bukan hanya bisa bertahan, tetapi juga berkembang. Dan dengan fasilitas sosial yang memadai, para pandai besi dan pandai gong di Desa Sawan bisa terus memalu masa depan mereka dengan lebih aman, lebih percaya diri, dan lebih sejahtera. ***

Editor : Dian Suryantini
#pandai besi #bpjs ketenagakerjaan #perunggu #sawan #rentan #buleleng