SINGARAJA, BALI EXPRESS — Desa Adat Pedawa kembali menjadi ruang belajar lintas budaya. Selama dua hari, 28–30 November 2025, sejumlah mahasiswa dan dosen dari Universitas Murdoch, Australia, terjun langsung mengikuti berbagai kegiatan budaya, literasi, dan konservasi alam. Kegiatan ini terselenggara melalui kolaborasi tiga pihak: Jaringan Ekowisata Desa (JED), Kayoman Pedawa, dan Pondok Literasi Sabih.
Kehadiran rombongan mahasiswa asing ini bukan sekadar kunjungan wisata, tetapi sebuah proses pembelajaran mendalam. Mereka diajak menyelami kehidupan masyarakat adat Pedawa melalui rangkaian aktivitas, mulai dari pengenalan budaya Bali—khususnya tradisi Pedawa—hingga studi lapangan mengenai proyek-proyek Kayoman Pedawa dalam pelestarian sumber air. Para mahasiswa juga ikut mempraktikkan pembuatan bibit tanaman endemik Pedawa, sebuah langkah kecil untuk memahami bagaimana konservasi dilakukan berbasis adat dan kearifan lokal.
Tak hanya belajar, para mahasiswa dari Australia juga turut berbagi pengalaman. Mereka mengajar anak-anak di Pondok Literasi Sabih tentang budaya Australia, membuka ruang dialog agar pemahaman lintas budaya tumbuh dari kedua arah. Interaksi hangat itu menjadi salah satu bagian paling dinantikan oleh anak-anak Pedawa yang selama ini aktif mengikuti kegiatan literasi dan penguatan bahasa asing.
Baca Juga: Perluas Jaringan Pendidikan; Pondok Literasi Sabih Lakukan Kolaborasi dengan Universitas Toyo Jepang
Kayoman Pedawa, komunitas pelestari sumber-sumber air yang berdiri sejak 2016, menjadi salah satu motor penting kegiatan ini. Selama bertahun-tahun mereka melakukan riset dan konservasi air. Kayoman telah memetakan 85 titik sumber air di Pedawa dan mengidentifikasi 33 jenis air yang digunakan dalam berbagai ritual adat. Data ini menjadi dasar penetapan skala prioritas pelestarian, sehingga setiap langkah konservasi memiliki arah yang jelas.
Sementara itu, Pondok Literasi Sabih—didirikan pada 2018—menjadi pusat penguatan literasi dan pemahaman lintas budaya di Pedawa. Komunitas ini rutin menggelar kelas bahasa Inggris, Jepang, serta pendalaman budaya desa. Berbagai kolaborasi telah mereka lakukan, baik dengan lembaga luar negeri maupun dalam negeri. Pondok Literasi Sabih pernah bekerja sama dengan penggiat budaya dari Hita Oita Jepang, Toyo University, dan sejumlah relawan Jepang.
Kolaborasi kedua komunitas lokal ini dengan Universitas Murdoch bukan yang pertama, namun menjadi momen penting bagi keberlanjutan upaya pelestarian dan pengembangan kapasitas generasi muda di Pedawa.
Ketua Pondok Literasi Sabih, I Wayan Sadyana, menegaskan bahwa kegiatan ini memberi dampak besar bagi anak-anak Pedawa.
“Mereka mendapatkan kesempatan berlatih menjelaskan tentang desa mereka kepada orang asing. Ini pengalaman yang sangat berarti,” ujarnya.
Anak-anak juga mendapat pengetahuan baru tentang budaya Australia yang sebelumnya mungkin hanya mereka lihat lewat buku atau layar gawai.
Sadyana juga mengapresiasi kepercayaan pihak asing memilih Pedawa sebagai ruang belajar. “Ini menunjukkan bahwa desa adat Pedawa punya keunikan budaya yang layak diketahui orang lain,” tambahnya.
Sebagai penutup kegiatan, dilakukan penanaman pohon konservasi secara simbolis bertepatan dengan Hari Pohon Internasional yang jatuh pada 28 November. Aksi ini sekaligus menegaskan komitmen bersama untuk menjaga kelestarian lingkungan Pedawa.
Editor : Dian Suryantini