Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini dapat terlaksana berkat kerja sama erat antara Jaringan Ekowisata Desa (JED), Kayoman Pedawa, dan Pondok Literasi Sabih.
Selama berada di Pedawa, para mahasiswa asing menyelami kehidupan masyarakat desa adat melalui serangkaian aktivitas yang dirancang untuk memberikan pengalaman langsung.
Mereka memperoleh pengenalan Budaya Bali (khususnya Pedawa), melakukan studi lapangan untuk melihat proyek-proyek konservasi air yang dijalankan oleh Kayoman Pedawa, serta ikut terlibat dalam pembuatan bibit tanaman endemik Pedawa.
Selain belajar, para mahasiswa juga berbagi pengetahuan dengan mengajari anak-anak setempat tentang budaya Australia. Program ini diharapkan memperkuat pemahaman lintas budaya antara kedua belah pihak.
Kayoman Pedawa merupakan komunitas pelestari sumber-sumber air yang berdiri sejak 2016 dan rutin menjalankan berbagai kegiatan konservasi di wilayah tersebut. Aktivitas mereka berbasis riset, bukan sekadar penanaman pohon.
Komunitas ini telah memetakan keberadaan 85 titik sumber air di Pedawa dan menemukan 33 jenis air yang digunakan dalam berbagai ritual adat. Dari basis data tersebut, Kayoman mampu menentukan skala prioritas konservasi secara lebih tepat dan terukur.
Adapun Pondok Literasi Sabih yang berdiri pada 2018 merupakan komunitas yang fokus mengembangkan kegiatan literasi di Desa Adat Pedawa.
Selain memberikan pembelajaran bahasa Inggris dan Jepang, komunitas ini juga memperkuat pemahaman budaya dan adat melalui berbagai program. Baik Kayoman Pedawa maupun Pondok Literasi Sabih dikenal aktif berkolaborasi dengan lembaga nasional dan internasional.
Kayoman pernah bekerja sama dengan Profauna Foundation, Asia Environmental Alliance, serta sejumlah komunitas lingkungan lainnya. Pondok Literasi Sabih juga pernah berkolaborasi dengan penggiat budaya dari Kota Hita Oita Jepang, Toyo University, hingga relawan dari Jepang.
Ketua Pondok Literasi Sabih, I Wayan Sadyana, menilai kegiatan ini sangat bermakna bagi anak-anak yang tergabung dalam komunitas tersebut. Menurutnya, mereka memperoleh pengalaman berharga dengan belajar menjelaskan tentang desanya kepada orang asing, sekaligus mendapatkan wawasan baru mengenai budaya Australia.
“Kami senang bisa menerima kunjungan dari Universitas Murdoch Australia. Tentu dalam lawatan ini kami bisa sharing dan berbagi serta memperkenalkan budaya dan kearifan lokal masyarakat Pedawa,” jelasnya.
Ia mengapresiasi kepercayaan pihak luar yang memilih Pedawa sebagai lokasi pembelajaran, karena hal ini menunjukkan bahwa Desa Adat Pedawa memiliki keunikan budaya yang layak dikenal lebih luas.
Kegiatan ini ditutup dengan penanaman pohon konservasi secara simbolis, bertepatan dengan Hari Internasional Pohon pada 28 November, sebagai wujud komitmen bersama dalam menjaga kelestarian alam. (dik)
Editor : I Putu Mardika