Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Desa Adat Munggu Kembali Gelar Tradisi Mekotek: Warga Dilarang Menaiki Kayu Pulet

Putu Resa Kertawedangga • Minggu, 30 November 2025 | 01:50 WIB

Masyarakat tumpah ruah mengikuti tradisi mekotek di Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, Sabtu (29/11).
Masyarakat tumpah ruah mengikuti tradisi mekotek di Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, Sabtu (29/11).

BALIEXPRESS.ID - Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, Sabtu (29/11) kembali menggelar tradisi mekotek.

Tradisi yang dilaksanakan setiap Hari Raya Kuningan ini pun diikuti seluruh krama.

Mekotek yang awalnya digelar sebagai perayaan kemenangan Kerajaan Mengwi dalam perang di Blambangn ini, dipercaya sebagai penolak bala.

Baca Juga: Keren! Pondok Literasi Sabih Pedawa Terima Kunjungan dari Universitas Murdoch Australia

Namun berbeda dengan sebelumnya, masyarakat Munggu dilarang menaiki kayu pulet yang menyatu.

Hal ini pun dinilai tidak ada dalam tradisi bahkan tidak bermakna.

Hanya saja dari hasil pemantauan, antusias masyarakat dalam melaksanakan tradisi mekotek tidak dapat dibendung.

Baca Juga: Tahun 2026 Meningkat, Pemkab Badung Pastikan Bantuan Dana Ogoh-ogoh Sebesar Rp 40 Juta

Bendesa Adat Munggu, I Made Suwinda mengatakan, tradisi ini bukan sekadar ritual saja, namun dalam meekotek merupakan penanda kemenangan dalam mempertahankan kekuasaan di Blambangan.

Tradisi ini digelar setiap enam bulan sekali, yaitu saat Saniscara Kliwon Kuningan.

“Makna tersendiri memang tradisi mekotek itu sebagai penolak bala, kalau kami tidak melaksanakan mekotek niscaya akan terkena kegeringan atau grubug lebih parah daripada Covid-19,” ujar Suwinda.

Baca Juga: Iran Boikot Undian Piala Dunia 2026 di AS gara-gara Donald Trump

Pihaknya menyebutkan, dalam sejarahnya tradisi ini sempat tidak diperbolehkan oleh tentara Belanda.

Sebab saat itu dinilai sebagai bentuk pembrontakan. Hanya saja sempat terjadi musibah atau wabah penyakit di desa tersebur.

“Memang pernah diberhentikan, karena dikatakan kami akan menyerang, tetapi ada suatu wabah penyakit,” ungkapnya.

Dalam pelaksanaannya, sejatinya masih sama dengan sebelumnya.

Hanya saja, Suwinda menerangkan, ada sebuah larangan yang kini diterapkan.

Larangan tersebut meminta masyarakat tidak menaiki kayu pulet saat disatukan.

Sebab sempat ada sebuah kejadian yang menyebabkan warga mengalami luka-luka.

“Dari segi sejarah itu tidak ada gunanya, memang kami larang sekarang agar tidak mencedrai tradisi mekotek tersebut,” terangnya.

Lebih lanjut, Suwinda menjelaskan, tradisi ini rutin digelar sebagai bentuk meningkatkan kebersamaan masyarakat.

Sehingga dapat meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan antas banjar. “Kami mengimbau agar seluruh masyarakat dapat mengikuti tradisi-tradisi di Desa Adat Munggu, khususnya mekotek. Harapannya tradisi mekotek ini semoga ajeg kedepannya,” imbuhnya. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#mekotek #munggu #tradisi