SINGARAJA, BALI EXPRESS - Kopi Lemukih, dengan cita rasa khas dan karakter rasa yang kuat, tengah berupaya memperoleh pengakuan lebih tinggi melalui sertifikat Indikasi Geografis (IG). Upaya besar itu kini didorong penuh oleh Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, bekerja sama dengan petani dan krama subak setempat.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Buleleng, Made Agus Adnyana, menyampaikan bahwa pemerintah daerah terus memperkuat seluruh rantai produksi kopi di Desa Lemukih—mulai dari proses budidaya di hulu hingga penguatan hilir. Menurutnya, penguatan ini bukan hanya soal menjaga mutu, tetapi juga memastikan nilai tambah yang dapat langsung dirasakan oleh petani.
“Seluruh proses mulai dari bibit unggul, pendampingan budidaya, sampai pengolahan pascapanen terus kami perkuat agar Kopi Lemukih memiliki standar yang siap bersaing di pasar nasional,” ujarnya, belum lama ini.
Salah satu langkah penting adalah penyediaan bibit berkualitas. Tahun ini, Dinas Pertanian memproduksi 10.000 bibit Kopi Lemukih di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Busungbiu. Bibit-bibit ini akan didistribusikan secara bertahap kepada petani sebagai upaya regenerasi tanaman dan peningkatan produktivitas kebun.
Di lapangan, para petani tidak dibiarkan berjalan sendiri. Pendampingan teknis rutin dilakukan oleh penyuluh pertanian lapangan (PPL) Desa Lemukih. Materi pendampingan pun tidak main-main: mulai dari teknik pemangkasan, cara mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT), hingga pemupukan sesuai standar budidaya kopi berkualitas. Pendekatan menyeluruh ini diharapkan mampu menjaga stabilitas mutu yang sedang diperjuangkan untuk meraih sertifikat IG.
Upaya pemerintah tidak berhenti pada sektor hulu. Di hilir, penguatan pengolahan pascapanen juga terus dilakukan. Jauh sebelum geliat Kopi Lemukih sebesar sekarang, Dinas Pertanian telah memberikan bantuan mesin sangrai pada tahun 2015 kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Galih Sari. Bantuan ini menjadi tonggak awal bagi petani di Lemukih untuk mulai mengolah produk kopi secara mandiri.
Selain bantuan alat, pemerintah juga memfasilitasi akses pembiayaan bagi petani sebelum masa panen. Tidak hanya itu, kerja sama dengan PD Swatantra Buleleng serta BPD Bali juga memberi jalan bagi penyerapan hasil panen agar petani tidak kesulitan dalam pemasaran.
Dengan pendampingan yang terus berproses dan strategi terstruktur dari hulu hingga hilir, Desa Lemukih kini semakin mantap menapaki jalur sebagai sentra Kopi Robusta unggulan di Bali. Upaya mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis pun menjadi langkah penting untuk mengukuhkan identitas Kopi Lemukih sebagai komoditas unggulan yang terlindungi dan diakui secara nasional. ***
Editor : Dian Suryantini