SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di Desa Sawan, Kecamatan Sawan, Buleleng, sosok Cening Jasa dikenal luas sebagai salah satu seniman sapi grumbungan yang konsisten menjaga dan merawat tradisi. Sejak pertama kali jatuh cinta pada dunia megrumbungan tahun 1988, namanya terus melekat sebagai pelaku yang tekun, telaten, dan total dalam menata setiap detail sapinya.
Bagi Cening Jasa, megrumbungan bukan sekadar adu ketangkasan sapi. Tetapi seni tempat ia mengekspresikan ketertarikan, keterampilan tangan, serta kedekatannya dengan hewan yang ia anggap sebagai mitra.
“Saya sudah dari lama suka megrumbungan,” ujarnya saat ditemui, Rabu (3/12).
Dari caranya merawat sapi, membuat perlengkapan, hingga melatih hewan-hewan itu di lapangan, terlihat jelas bahwa dunia megrumbungan telah menjadi bagian dari hidupnya.
Ia selalu memilih sapi jantan berumur sekitar tiga tahun. Semua sapinya divasektomi agar tetap jinak dan tidak agresif. Warna bulu kuning menjadi ciri khas pilihannya—menurutnya, warna itu lebih gagah saat sapi tampil di arena. Ia tidak memilih sapi betina karena tubuhnya lebih berat dan cenderung membuat gerakan kurang lincah.
Sebagai seniman grumbungan, Cening Jasa merancang sendiri ornamen utama yang melekat pada sapinya. Gerumbungan—kalung kayu besar yang berbunyi khas saat sapi berjalan atau berlari—ia buat sendiri dari kayu intaran. Uga yang dipasang pada badan sapi pun dirancang dengan tangannya sendiri.
“Harus disesuaikan dengan kesukaan sapi,” tuturnya. Baginya, setiap sapi punya karakter, dan ornamen yang digunakan harus mendukung kenyamanan hewan itu.
Baca Juga: Sapi Jumbo Milik Ketut Sukata, Dibeli Presiden Prabowo untuk Kurban Idul Adha di Bali
Mahkota sapi yang digunakannya juga memiliki nilai historis. Terbuat dari kulit sapi, mahkota itu tidak pernah ia ganti sejak pertama kali dibuat.
“Selama masih kuat dipakai, saya tetap pakai. Itu bagian dari sejarah,”" katanya dengan bangga. Keberlanjutan ornamen itu mencerminkan kesetiaannya menjaga identitas tradisi.
Namun perjalanan sebagai seniman sapi grumbungan tidak lepas dari pergantian hewan. Sapi-sapinya tumbuh, menua, dan pada akhirnya tidak lagi kuat melangkah.
“Kalau sudah agak tua, sapinya tidak kuat jalan,” ujarnya. Meski berat, ia harus menggantinya dengan yang lebih muda agar tetap bisa mengikuti tradisi dan lomba.
Latihan adalah bagian rutin dari kesehariannya. Di lapangan desa, ia melatih sapi seperti seorang pelatih melatih atlet. Ia berbicara, menyentuh, dan mengenali setiap reaksi hewannya.
“Sapi itu bisa paham kalau diajak bicara. Yang penting kita sayang,” katanya.
Lebih dari tiga dekade menekuni dunia megrumbungan, Cening Jasa telah menjadi bagian penting dari pelestari tradisi ini di Buleleng. Di tengah arus modernisasi, dentingan gerumbungan kayu intaran buatannya masih terus terdengar—menjadi bukti bahwa seni, ketekunan, dan cinta terhadap tradisi mampu bertahan lintas generasi. ***
Editor : Dian Suryantini