SINGARAJA, BALI EXPRESS - Nyoman Maker, seorang pande besi dan pande gong yang telah mengabdikan lebih dari tiga dekade hidupnya untuk menempa logam. Di rumah sederhananya yang juga menjadi workshop kecil-kecilan, tangan Maker tak pernah berhenti bekerja. Inilah ruang yang menjadi saksi perjalanan panjangnya sebagai penjaga tradisi metalurgi Bali Utara.
“Saya sudah bikin peralatan dari kecil sampai sekarang,” tuturnya, sambil sesekali memeriksa bilah besi yang baru saja disentuh api. Maker memang tumbuh dari lingkungan pekerja logam. Ayahnya dulu pande besi dan pande perunggu. Dari sanalah ia belajar pertama kali, bukan lewat kelas atau pelatihan, tetapi lewat pengamatan harian—melihat bagaimana ayahnya memalu besi panas, membentuk perunggu, dan mengolah suara gong sampai sempurna.
Karier Maker sebagai pande gong sebenarnya sempat bersinar. Ia pernah khusus menggarap perunggu, membuat gamelan dan gong—pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, perasaan, dan kesabaran. Namun perunggu bukan bahan yang bisa dikerjakan sembarangan, apalagi tanpa workshop yang memadai.
“Dulu saya pandai gong perunggu. Tapi saya tidak punya workshop. Saya kerjakan sendiri di rumah,” ujarnya.
Maker kini lebih banyak fokus menempa besi. Jika sedang senggang, ia bahkan bisa membuat sebilah pisau hanya dari iseng saat “bengong”.
Baca Juga: Di Balik Dentingan Besi, Ada Tubuh yang Terluka, Ada Perlindungan yang Siaga
Sebelum kembali menetap di Sawan, perjalanan hidupnya sempat berliku. Ia merantau ke Padang, menamatkan SMA di Sumatra Barat, lalu melanjutkan kuliah di Makassar jurusan Administrasi Perusahaan. Namun sebesar apa pun kota yang pernah ia datangi, denting besi selalu menjadi panggilan pulang. Pada 1995, ia memutuskan kembali ke desa untuk melanjutkan tradisi keluarga sebagai pande besi dan gong.
Pekerjaan ini bukan hanya menuntut keahlian, tetapi juga ketahanan fisik. Maker harus menghadapi suhu tungku yang bisa mencapai 3.000 kalori—panas yang bisa langsung melumerkan logam. Setiap pukulan martil membutuhkan tenaga besar dan ritme yang tepat.
“Kalau garap besi saya banyak luka. Banyak di antara kami ada besi di perut,” katanya. Serpihan logam panas seringkali beterbangan dan menusuk tubuh. Tak jarang masuk sampai ke dalam daging.
Risikonya berlipat ketika bekerja dengan perunggu. Serpihan perunggu, menurut Maker, lebih berbahaya karena sifatnya yang beracun. Luka kecil saja bisa membuat infeksi membandel.
“Kalau kena serpihan perunggu itu harus segera diobati. Lebih parah dari besi. Yang ketusuk juga ada. Itu harus ke rumah sakit untuk dicabut,” tuturnya.
Di balik semua risiko itu, Maker tetap setia pada pekerjaannya. Baginya, menjadi pande besi bukan sekadar profesi, tapi warisan. Warisan yang ia jaga dengan tangan penuh luka, mata yang pernah terserang serpihan logam, dan tubuh yang sudah puluhan tahun menyatu dengan panas dan denting. ***
Editor : Dian Suryantini