Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

2 Siswa Bali Direkrut Kelompok Teroris Lewat Game Online, 110 Anak Indonesia Masuk Grup Radikal

I Gede Paramasutha • Kamis, 4 Desember 2025 | 05:49 WIB
Konferensi Pers Penanganan Rekrutmen secara Online Terhadap Anak-Anak oleh Kelompok Terorisme. (Bali Express/Divisi Humas Polri)
Konferensi Pers Penanganan Rekrutmen secara Online Terhadap Anak-Anak oleh Kelompok Terorisme. (Bali Express/Divisi Humas Polri)

BALIEXPRESS.ID - Ideologi radikalisme, ekstrimisme dan terorisme (IRET) kini mulai merongrong generasi muda. Ratusan anak di seluruh Indonesi disebut direkrut oleh kelompok teroris pada 2025. Ironisnya, disebut-sebut ada dua orang yang merupakan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Bali.

"Kedua siswa Bali itu direkrut teroris dengan cara berinteraksi melalui game online dan media digital. Lalu, mereka dimasukan ke dalam sebuah grup untuk didoktrin paham radikal, hingga diberi pelatihan," beber sumber.

Dalam sebuah grup tertutup (WhatsApp), mereka diberikan materi ideologi, pelatihan teknis, simulasi gerilya, hingga mampu mempelajari cara merakit bom.

Hal itu diperkuat oleh unggahan Anggota DPD RI Dapil Bali Arya Wedakarna yang tampak bersama Kasatgaswil Densus 88 Anti Teror Bali Kombespol Antonius Agus Rahmanto Selasa, (2/11).

"Dua anak SMP Swasta di Bali Direkrut jaringan ISIS," tulis AWK. Masalah ini tentu menjadi ancaman serius bagi keamanan dan keselamatan masyarakat.

Terlebih lagi, masih membekas di benak warga Pulau Dewata yang pernah diguncang aksi teror dua kali, yaitu Bom Bali 1 dan Bom Bali 2. Peristiwa itu merenggut banyak nyawa, serta melumpuhkan sektor ekonomi yang bergantung pada pariwisata.

Juru Bicara Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana menerangkan, pada 2025 sudah ada 110 anak yang terindentifikasi direkrut kelompok teror. Mereka berusia mulai dari 10 sampai 18 tahun, dan berasal dari 23 provinsi.

Angka paling banyak dari Jawa Barat dan DKI Jakarta. Jumlah ini meningkat pesat dari periode 2011-2017, yang hanya 17 anak.

“Di tahun 2025 sendiri. kurang lebih ada 110 yang saat ini teridentifikasi. Jadi artinya kita bisa sama-sama menyimpulkan bahwa ada proses yang sangat masif sekali rekrutmen yang dilakukan melalui media daring,” ujarnya, dalam rilis resmi Divisi Humas Polri.

Propaganda untuk menarik anggota dilakukan melalui media daring, termasuk game online. Mereka dibuat tertarik terlebih dahulu, baru setelah itu diarahkan untuk mengikuti grup guna proses indoktrinasi. 

"Platform umum ini akan menyebarkan dulu visi-visi utopia yang mungkin bagi anak-anak bisa mewadahi fantasi mereka sehingga mereka tertarik," tuturnya. Sebagai tindak lanjut dan upaya deradikalisasi, anak-anak ditangani bersama Kementerian PPPA, KPAI, Kemensos, dan lembaga terkait lainnya.

Lima tersangka perekrut yang berperan mengendalikan komunikasi kelompok dan mendorong aksi teror melalui media sosial pun telah ditangkap oleh Densus 88.

Mereka adalah FW alias YT, 47, dari Medan; LM, 23, dari Banggai; PP alias BMS, 37, dari Sleman; MSPO, 18, dari Tegal; dan JJS alias BS, 19, dari Agam.

Sementara itu, adanya siswa Bali menjadi bagian kelompok teror, juga disampaikan Kepala Satgaswil Densus 88 AT Polri Bangka Belitung, AKBP Maslikan.

Dia bahkan mengatakan, terungkapnya 110 anak yang tergabung dalam grup tersebut justru bermula dari penanganan satu anak di Bali ini.

Hingga dalam pengembangannya, baru ditemukan keterkaitan dengan anak-anak lain di berbagai daerah, termasuk Babel.

“Awalnya satu anak di Bali. Setelah asesmen berkembang menjadi 18, lalu terus bertambah hingga total 110 anak di 22 provinsi,” jelasnya, dilansir Bangka Pos.

Bahkan, anak-anak yang tergabung sejak fase awal disinyalir terpapar ideologi kelompok teroris ISIS. Mereka sudah menyusun daftar belanja bahan pembuat bom.

Maka dari itu, perlu dilakukan penanganan secara serempak agar tidak ada reaksi berantai dari anak yang mempercepat rencana tersebut.

Di Bali sendiri, Kasatgaswil Densus 88 Anti Teror Bali Kombespol Antonius Agus Rahmanto gencar melakukan pencegahan penyebaran IRET dengan sosialisasi bela negara.

Kegiatan itu contohnya dilakukan di SMK PGRI 3 Denpasar yang diikuti 150 siswa, pada Selasa (2/12).

Kombespol Antonius mengatakan, Densus 88 memang lebih mengedepankan upaya pencegahan melalui berbagai kegiatan.

Pihaknya menyasar seluruh lapisan masyarakat, dengan tujuan mengajak dan berbagi pemahaman tentang bahaya paham IRET.

"Kita tidak boleh membiarkan intoleransi berkembang dan merajalela, agar tidak menjadi bibit yang memicu munculnya paham-paham berbahaya," katanya.

Ia juga sempat bertemu dengan Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga, untuk menyampaikan program sosialisasi wawasan kebangsaan bagi generasi muda, guna menangkal penyebaran paham radikalisme.

Inisiatif itu disambut baik Wabup Dirga, sebagai bentuk sinergi dalam membangun ketahanan ideologi di generasi muda. (*)

Editor : I Gede Paramasutha
#anak #bali #Teroris #siswa #radikal