Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Miris! Jembatan Bambu Nyaris Putus Masih Jadi Akses Utama Puluhan Warga Pendem Jembrana

I Gde Riantory Warmadewa • Kamis, 4 Desember 2025 | 14:10 WIB
Warga menyeberangi jembatan bambu yang kondisinya miring dan rawan ambruk di Kelurahan Pendem, Jembrana.
Warga menyeberangi jembatan bambu yang kondisinya miring dan rawan ambruk di Kelurahan Pendem, Jembrana.

BALIEXPRESS.ID – Puluhan warga dan siswa di Kelurahan Pendem, Kabupaten Jembrana, setiap hari harus menyeberangi jembatan bambu yang kondisinya nyaris ambruk.

Jembatan sederhana ini menjadi satu-satunya akses keluar-masuk bagi sekitar 15 kepala keluarga yang tinggal di wilayah tersebut.

Jembatan bambu yang melintang di atas sungai berarus deras itu terlihat sudah miring dan rapuh.

Meski demikian, warga tetap menggunakannya untuk berangkat kerja, sementara anak-anak sekolah dari tingkat TK hingga SMA harus melintasinya setiap pagi.

Komang Agus Suriyadi, salah satu warga Pendem, mengaku ketakutan setiap kali melintas, namun tidak punya pilihan lain.

“Ada sekitar 15 KK lebih yang memakai jembatan ini setiap hari, termasuk para siswa. Takut ya takut, tapi mau bagaimana lagi. Kami berharap jembatan ini bisa diperbaiki, minimal agar aman dilewati pejalan kaki,” ujarnya.

Tak hanya orang dewasa, anak-anak, salah satunya siswi SMP Ni Komang Wirantini juga bergantung pada jembatan tersebut.

Ia mengatakan warga yang melintas harus bergiliran karena takut jembatan runtuh jika dilewati bersama-sama.

“Biasanya ramai yang lewat, dari TK sampai SMA. Kalau menyeberang harus satu-satu, kalau bersama-sama takut ambruk. Harapannya jembatan ini cepat diperbaiki,” katanya.

Kepala Lingkungan Pendem, Nyoman Nala, menjelaskan bahwa jembatan tersebut awalnya dibangun lebih dari sepuluh tahun lalu.

Sejak itu, jembatan berkali-kali rusak dan bahkan hanyut terbawa banjir. Setiap kali hanyut, warga membangunnya lagi secara swadaya.

“Kami sudah beberapa kali mengusulkan bantuan, tapi sampai sekarang belum ada realisasi. Kalau banjir, jembatan ini sering hanyut. Warga terus memperbaiki dengan bambu seadanya sampai hampir habis,” jelasnya.

Ia menambahkan, satu-satunya alternatif jalur lain harus memutar jauh dan melewati pekarangan rumah penduduk, sehingga tidak bisa dijadikan akses utama.

Warga berharap pemerintah dapat segera turun tangan membangun jembatan permanen agar aktivitas masyarakat bisa berjalan dengan aman dan lancar. (*)

 

 

Editor : I Made Mertawan
#infrastruktur #jembatan bambu #jembrana