Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kayoman Pedawa Genap Sembilan Tahun: Gerakan Akar Rumput Penjaga Sumber Air dan Budaya Lokal

I Putu Mardika • Senin, 8 Desember 2025 | 00:18 WIB

Komunitas Kayoman Pedawa saat merayakan HUT ke 9 sembari melakukan refleksi
Komunitas Kayoman Pedawa saat merayakan HUT ke 9 sembari melakukan refleksi
BALIEXPRESS.ID – Perkumpulan Wanayana Kayoman Pedawa (Kayoman) memasuki usia kesembilan sejak didirikan pada Desember 2016. Komunitas lingkungan berbasis desa ini terus meneguhkan komitmennya menjaga sumber air, pepohonan, dan nilai-nilai kearifan lokal Desa Pedawa yang kini menghadapi tekanan besar akibat pembangunan dan modernisasi.

Pendiri Kayoman Pedawa, I Wayan Sadyana, menegaskan bahwa gerakan ini lahir dari kegelisahan kolektif anak-anak muda Pedawa melihat kondisi lingkungan desa yang terus menurun. Tanah dan sumber air yang dulu menjadi dasar kehidupan masyarakat, kini mengalami degradasi.

“Kami gelisah ketika melihat tanah dan air di desa kami mulai kehilangan fungsinya. Rasanya berdosa kalau kami hanya diam. Pedawa terlalu indah dan terlalu mulia untuk menanggung semua beban keserakahan kita,” ujar Sadyana dalam refleksi sembilan tahun Kayoman.

Menurut Sadyana, Pedawa bukan sekadar wilayah adat, tetapi ruang spiritual yang membentuk identitas masyarakatnya.

Desa ini memiliki 85 titik sumber air dan setidaknya 33 jenis air yang digunakan dalam berbagai upacara adat. Keberadaan sumber-sumber air tersebut menjadi dasar bagi kehidupan ekologi dan spiritual masyarakat Pedawa.

“Kami tumbuh dari sari tanah dan air Pedawa. Identitas kami melekat pada kayu, air, dan akar-akar pepohonan. Jika sumber air rusak, maka rusak pula kehidupan spiritual kami,” jelasnya.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Desa Pedawa menghadapi tekanan berat akibat pariwisata, pembangunan properti, dan penetrasi budaya luar. Sadyana menyebut kondisi ini sebagai “pertarungan sunyi” desa untuk bertahan di tengah arus perubahan.

Sadyana yang juga dosen Bahasa Jepang di Undikhsa menjelaskan selama sembilan tahun Kayoman merangkum empat capaian besar.

Pada masa awal berdiri, Kayoman hanya fokus pada penanaman pohon sebanyak mungkin. Namun evaluasi tahun 2018 menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan penanaman hanya sekitar 15 persen.

Dari situlah Kayoman menyadari bahwa menanam tidak cukup tanpa memahami ekosistemnya.“Itu tamparan keras untuk kami. Kami sadar harus belajar pada alam,” kata Sadyana.

Dari hasil pendataan lapangan, Kayoman menemukan bahwa tanaman jenis ficus seperti bingin, loa, bunut, amplas, dan gintungan adalah spesies paling cocok untuk ditanam di sekitar sumber air Desa Pedawa. Kayoman mulai membuat bibit sendiri, menentukan musim tanam, dan menetapkan bulan-bulan khusus untuk perawatan tanaman.

Kayoman kemudian memperluas pendekatan konservasi ke arah edukasi, film, keterlibatan masyarakat, hingga program insentif.

Komunitas ini memproduksi film fiksi bertema lingkungan, membuat film semi-dokumenter tentang air, serta menjalin kolaborasi dengan berbagai lembaga lokal maupun internasional.

Salah satu program inovatif adalah “Asuh Kayuan”, yakni program mengasuh sumber air bagi individu, perusahaan, atau kelompok. Program ini memberikan insentif kepada petani agar tidak menebang pepohonan di sekitar sumber air.

“Melalui Asuh Kayuan, kami ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap konservasi. Saat ini sudah ada tujuh kayuan yang diikutsertakan,” ungkap Sadyana.

Kayoman juga bekerja sama dengan Profauna Foundation untuk memetakan titik-titik sumber air, serta bersama Sekolah Adat Manik Empul untuk mengkaji jenis-jenis air yang digunakan dalam ritual.

Kayoman Pedawa saat merayakan HUT ke sembilan
Kayoman Pedawa saat merayakan HUT ke sembilan

Sebagai gerakan komunitas, Kayoman menyadari perlunya penguatan organisasi agar dapat menjawab tantangan modern.

“Kami butuh energi baru, anak-anak muda yang bisa mengelola media sosial, membuat konten, IT, humas, hingga website. Itu kebutuhan mendesak untuk masa depan Kayoman,” kata Sadyana.

Rencana pengembangan website resmi Kayoman kini menjadi prioritas, disertai rekrutmen anggota baru untuk memperkuat struktur organisasi.

Selama ini Kayoman banyak bergerak berdasarkan kebutuhan lapangan. Ke depan, Sadyana menekankan pentingnya perencanaan program yang lebih matang, terukur, dan berorientasi jangka panjang.

“Kami perlu rencana kerja yang jelas. Desa membutuhkan upaya berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan sesaat,” ujarnya.

Di usia sembilan tahun, Kayoman Pedawa berharap gerakan ini dapat menjadi inspirasi bahwa pelestarian alam tidak harus dimulai dari hal besar. Gerakan kecil berbasis komunitas akar rumput justru mampu bertahan karena berangkat dari rasa memiliki.

“Pedawa sudah memberi segalanya kepada kami, air, tanah, budaya, bahkan identitas kami. Sekarang giliran kami menjaga. Kami mungkin kecil, tapi cinta kami pada desa ini yang membuat kami bertahan,” tutup Sadyana. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#desa pedawa #pohon #air #kayoman pedawa