BALIEXPRESS.ID-Di tengah perkembangan seni pertunjukan Bali yang terus bergerak, sosok I Putu Agus Rahul Khana—akrab disapa Rahul Khana—muncul sebagai penari Joged Lanang (muani) yang konsisten memperjuangkan seni joged klasik khas Buleleng. Meski kerap dicibir dan dianggap “tidak biasa”, Rahul justru menunjukkan keteguhan dan kecintaan mendalam pada dunia tari yang telah ia geluti sejak kecil.
Baca Juga: Kembalikan Martabat Joged Bumbung, Widya Putri Tampil dengan Pakem Bukan Sensasi
Kedekatan Rahul dengan tari Bali bermula sejak duduk di kelas 5 SD pada tahun 2010. Sebelumnya, ia justru dikenal sebagai penari lelaki dengan tarian Baris, Kebyar Duduk, hingga Jauk. Ketika tinggal di Denpasar, ia belajar di Sanggar Tari dan Tabuh Cakra Padang Sambian sejak TK hingga kelas 5 SD.
Ketika kembali ke kampung halaman, cinta Rahul pada tari tidak padam. Namun perjalanan menuju joged justru terjadi tanpa direncanakan. Saat pamannya menggelar upacara tiga bulanan, Rahul diminta menari sebagai hiburan. Awalnya ia menolak karena tidak bisa menari perempuan. Namun akhirnya luluh karena bujukan keluarga dan imbalan Rp50 ribu—jumlah besar bagi anak seusianya.
Dengan busana joged klasik khas Buleleng dan riasan sederhana, Rahul menarikan joged dengan gaya sepenuhnya laki-laki. Penampilannya mengundang tawa warga, namun justru menjadi titik awal dikenalnya Rahul sebagai joged muani. Sejak itu, ia sering diminta tampil pada berbagai upacara adat sebagai hiburan jenaka.
Bertemu Guru, Memahami Pakem Joged Sesungguhnya
Titik balik Rahul muncul saat ia bertemu Ketut Jingga, pelatih joged di kampungnya. Dari sang guru, Rahul belajar pakem-pakem joged klasik: mulai dari pengelembar, angsel gamelan, teknik memanggil pengibing, hingga cara menyudahi tarian.
Ia mendalami berbagai pengelembar klasik seperti:
- Puspawinangun
- Narakusuma
- Gelatik
- Sekar Jepun
dan lainnya.
Rahul juga mempelajari cara membuka kipas, teknik ngegol-ngitir, hingga isyarat dada-dadi yang khas dalam joged klasik Buleleng.
Memasuki masa SMP, Rahul sempat berhenti menari selama tiga tahun karena rasa malu dan masa pubertas. Namun ketika masuk SMK N 1 Sukasada (SMIK), jurusan Seni Tari, semangatnya kembali hidup. Ia mulai tampil kembali di acara-acara sekolah, belajar tata rias profesional, hingga menari tari Bali putri.
Baca Juga: STMIK Bandung Bali Gelar Wisuda ke-12, Tanda Kuatkan Langkah Menuju Kampus Berdaya Saing Global
Menjadi Joged Lanang bukan jalan mudah. Rahul mengaku sering dicibir, dinilai negatif, bahkan dianggap nyeleneh oleh sebagian orang. Namun dukungan orang tuanya—terutama sang ayah yang merupakan penabuh di seke joged—membuatnya bertahan.
“Selama pekerjaan kita halal dan bisa menghibur banyak orang, jalani saja.”
Pesan itulah yang menjadi pegangan Rahul hingga kini.
Seiring waktu, Rahul semakin mahir merias diri dengan cemara, lontroso, hingga riasan lengkap untuk mendukung perannya di panggung—semua dilakukan demi seni, bukan untuk kehidupan pribadi.
Kini Jadi Guru dan Inspirasi Generasi Muda
Setelah menamatkan pendidikan S1, kini Rahul Khana menjadi guru di SMK N 1 Sukasada. Ia tidak hanya berprofesi sebagai pendidik, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk berani berkarya dan menjaga seni tradisi.
Kisah Rahul membuktikan bahwa seni tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh ketekunan, keberanian, dan dedikasi.
Rahul Khana adalah bukti bahwa kecintaan terhadap warisan budaya mampu menembus batas-batas stigma sosial.
Editor : Wiwin Meliana