BALIEXPRESS. ID— Pengelolaan sampah berbasis sumber di Desa Taro, Tegallalang, terus menunjukkan hasil menggembirakan. Melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) Taro yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sejak 2019, desa ini kini menjadi salah satu percontohan pengolahan sampah terpadu di Provinsi Bali. Program berjalan dengan pendampingan dari yayasan lingkungan serta didukung penuh oleh sistem pararem desa, sehingga seluruh aturan berbasis adat maupun administratif mampu diterapkan dengan baik.
Ketua BUMDes Taro, Wayan Kerta, Selasa (9/12) menjelaskan bahwa sistem pengelolaan sampah di desa dilakukan dengan memisahkan sampah dari sumbernya, yaitu plastik, sampah organik untuk kompos, dan residu. “Pemahaman masyarakat sudah berjalan. Sampah tidak tercecer, tidak berbau, dan dipilah langsung dari rumah,” jelasnya.
Pararem desa juga memperkuat kedisiplinan warga, di mana setiap KK wajib membayar iuran Rp 10.000 per bulan untuk operasional TPS3R.
Uniknya, sebelum sistem dijalankan, desa melaksanakan edukasi selama tiga bulan melalui sangkep yang melibatkan seluruh KK serta Sekaa Teruna-Teruni (STT). Setelah disepakati bersama, barulah program diterapkan.
"Aturannya tegas, bila warga tidak memisahkan sampah dari rumah, petugas tidak akan mengangkut. Ketegasan ini justru membuat masyarakat semakin disiplin karena merasakan manfaat lingkungan yang jauh lebih bersih," paparnya.
Hasil pemilahan juga memberi nilai tambah. Sampah organik diolah menjadi pupuk yang dimanfaatkan kembali untuk menanam pohon di tegalan serta mendukung konsep ekoteologi desa. Plastik dikumpulkan untuk didaur ulang, sementara sampah residu tetap dibuang ke TPA sesuai standar. Desa wisata, villa, hingga warung-warung di Taro juga terlibat aktif karena saling membutuhkan dalam mewujudkan lingkungan yang lestari.
Penentuan besaran iuran juga disesuaikan dengan volume sampah. Warung dikenai tarif Rp 10.000 - Rp 15.000 per bulan, sementara villa dikenakan biaya Rp 50.000 per kamar mengingat volume sampah yang lebih besar. Meski demikian, pengelola mengakui masih terdapat tantangan, terutama meningkatnya volume sampah residu yang kerap menimbulkan protes. “Residu inilah yang paling sulit dikurangi, namun kami terus berupaya agar pemilahan tetap maksimal,” ujar Kerta.
Dengan sistem yang berjalan baik dan dukungan masyarakat yang kuat, TPS3R Taro kini menjadi contoh nyata bagaimana desa mampu mandiri mengelola sampah dari sumber, sekaligus menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berdaya guna bagi seluruh warganya. *
Editor : Putu Agus Adegrantika