BALIEXPRESS.ID – Desa Adat Kuta, Minggu (14/12) menggelar upacara nangluk merana dan pecaruan sasih, bertepatan dengan kajeng kliwon uwudan sashi kaenem.
Upacara ini digelar dengan dipusatkan di depan Pura Segara, Pantai Kuta.
Namun untuk pecaruan dilakanakan di masing-masing persimpangan setiap banjar.
Baca Juga: Putusan Praperadilan Akui Status DPO Paulus Tannos Berakhir, Kuasa Hukum Desak KPK Segera Mencabut
Dalam pelaksanaan upacara, sejatinya hampir sama dengan tahun sebelumnya.
Hanya saja saat ini pelaksanaan upacara dilaksanakan di bawah guyuran hujan.
Krama desa adat pun tetap antusias untuk mengikuti prosesi nangluk merana.
Baca Juga: Jalan Kunti Seminyak Kembali Banjir, Sejumlah Wisatawan Dievakuasi
Bendesa Adat Kuta, Komang Alit Ardana mengatakan, prosesi upacara nangluk merana dan pecaruan sasoh tetap berjalan meski cuaca tidak bersahabat.
Rangkaian upacara diawali dengan Caru Tawur Agung di Catus Pata Desa Adat Kuta.
Kemudian dilaksanakan pamelepeh atau pecaruan sasih di masing-masing persimpangan banjar dengan Pelawatan Ida Bhatara dari setiap banjar.
Baca Juga: Tukad Mati Meluap, Legian Kembali Jadi Pusat Banjir
“Pukul 06.30 Wita pecaruan pelepeh sasih tetap berjalan seperti biasa walaupun sempat diguyur hujan. Antusiasme krama desa, terutama banjar penyangra dan para pengayah desa, sangat tinggi. Seluruh ayahan swadharma yang ditugaskan oleh Desa Adat dapat diselesaikan dengan baik,” ujar Alit Ardana.
Pihaknya menyebutkan, setelah rangkaian pecaruan di persimpangan selesai, prosesi dilanjutkan dengan upacara nangkuk merana di Pantai Kuta.
Namun prosesi upacara sempat tertunda lantaran adanya hujan deras.
Alhasil prosesi yang dijadwalkan pukul 10.00 Wita terpaksa mundur.
“Ida Pedanda munggah untuk muput upacara setelah hujan sedikit mereda,” ungkapnya.
Alit Ardana menerangkan, dalam pelakanaan upacara Pelawatan Ida Bhatara tidak diiring untuk prosesi di Pura Dalem.
Sebab upacara kali ini sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya, terlebih saat ini tidak lagi melaksanakan upacara pemahayu jagat.
“Upacara ini dipuput oleh Ida Pedanda dari Griya Telabah. Usai prosesi mapakelem ke tengah laut, tirta segara dibagikan kepada seluruh krama Desa Adat Kuta untuk dipercikkan ke wewidangan dan pawongan masing-masing,” terangnya.
Lebih lanjut dirinya menambahkan, nangluk merana dipercaya sebagai upaya penanggulangan wabah serta memohon kerahayuan.
Terlebih pada Sasih Kenem dikenal sebagai sasih sakit dengan musim pancaroba.
“Melalui upacara ini, kami memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar senantiasa menjaga dan menganugerahkan kerahayuan serta menjauhkan masyarakat dari marabahaya dan bencana,” imbuhnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga