Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dari Diskusi KEDASIH: Bahas Penataan Titik Nol Kota Singaraja dan Pelestarian Kawasan Bersejarah

I Putu Mardika • Minggu, 21 Desember 2025 | 02:02 WIB

Diskusi Kedasih yang dihadiri Wabup Buleleng, Gede Supriatna
Diskusi Kedasih yang dihadiri Wabup Buleleng, Gede Supriatna
BALIEXPRESS.ID— Kelompok Diskusi Asyik Intelektual Hindu (KEDASIH) Buleleng kembali menggelar ruang dialog publik yang membahas isu strategis daerah. Pada pelaksanaan KEDASIH ke-3, topik yang diangkat adalah penataan Titik Nol Kota Singaraja serta upaya pelestarian kawasan bersejarah yang menjadi identitas Kabupaten Buleleng. Diskusi ini menjadi forum penting dalam merespons arah pembangunan Kota Singaraja yang berkelanjutan dan berkarakter.

KEDASIH dipelopori oleh Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Buleleng, I Kadek Satria, S.Ag., M.Pd.H., sebagai wadah pertukaran gagasan kritis dan konstruktif terhadap isu-isu pembangunan daerah.

Kegiatan ini terselenggara melalui kolaborasi dengan organisasi kepemudaan Hindu, yakni PC KMHDI Buleleng, DPC Prajaniti, dan DPK Peradah. Kolaborasi tersebut mencerminkan kesadaran dan kepedulian pemuda Hindu terhadap isu-isu strategis yang menyangkut masa depan daerah.

Diskusi kali ini menghadirkan jajaran pemerintah daerah, pemangku kebijakan, serta berbagai pihak terkait untuk membahas penataan Titik Nol Kota Singaraja yang direncanakan menjadi ikon baru sekaligus simpul pelestarian sejarah kota. Topik ini dinilai relevan mengingat Singaraja memiliki kekhasan sebagai kota tua dengan jejak sejarah kolonial yang kuat dan berbeda dengan wilayah lain di Bali.

Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, S.H., menyampaikan apresiasinya atas inisiatif KEDASIH yang digagas oleh generasi muda Hindu. Ia mendorong agar ruang-ruang diskusi semacam ini terus diperluas dan digerakkan secara masif untuk mendukung program pembangunan di Kabupaten Buleleng.

Menurutnya, diskusi ini menunjukkan bahwa program strategis Pemerintah Kabupaten Buleleng, khususnya penataan Titik Nol Kota Singaraja, mendapat perhatian serius dari kalangan pemuda.

Ia juga berharap hasil diskusi dapat menjadi masukan konstruktif bagi pemerintah daerah dalam proses pengerjaan penataan Titik Nol Kota Singaraja.

“Penataan Titik Nol Kota Singaraja merupakan bagian dari arah kebijakan Pemerintah Kabupaten Buleleng dalam menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah kolonial,” ujarnya. Buleleng, lanjutnya, memiliki kekayaan bangunan bersejarah yang memerlukan kebijakan penataan ruang yang tepat agar nilai historisnya tetap terjaga dan semakin dikenal oleh masyarakat luas.

Pria yang akrab disapa Supit itu juga menekankan peran strategis generasi muda. “Sebagai generasi muda harus ikut berperan aktif mengembangkan kemampuan dan menyukseskan program pemerintah, khususnya penataan Titik Nol Kota Singaraja dan pelestarian kawasan bersejarah. Pemuda Hindu harus peka terhadap isu-isu hangat yang berkembang di daerah,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Buleleng, Ir. I Putu Adiptha Ekaputra, S.T., M.M., IPU, memaparkan urgensi penataan infrastruktur di kawasan Tugu Singa Ambara Raja. Kawasan ini dinilai memiliki nilai sejarah panjang sebagai pusat aktivitas dan pintu gerbang ekonomi Buleleng pada masa lalu, sehingga perlu ditata secara terencana dan berkelanjutan.

“Singaraja dikenal sebagai kota tua yang menyimpan banyak bangunan bersejarah, mulai dari gardu-gardu peninggalan di Kampung Tinggi, kawasan Peguyangan, Kampung Bugis, jembatan lengkung di eks Pelabuhan Buleleng, hingga Kantor Bupati Buleleng dengan arsitektur Belanda yang menyerupai istana negara,” jelas Adiptha.

Adipta juga menambahkan bahwa Singaraja berkembang sebagai kota pendidikan dengan kehadiran mahasiswa dari berbagai daerah yang turut menggerakkan dinamika sosial dan ekonomi.

Dalam diskusi KEDASIH, ditegaskan bahwa penataan Kota Singaraja tidak semata berfokus pada aspek sejarah, tetapi juga mencakup estetika kota, penanganan permasalahan banjir, serta penyediaan ruang publik yang inklusif.

Rencana penataan meliputi kawasan Palemahan Kangin, Palemahan Dauh, hingga area tengah Tugu Singa Ambara Raja, termasuk pengembangan ruang terbuka hijau (RTH) sebagai ruang interaksi sosial masyarakat.

Forum diskusi juga mengungkapkan rencana teknis penataan yang dijadwalkan mulai Januari 2026 dan ditargetkan rampung pada Juli 2026. Beberapa rencana strategis antara lain pelebaran trotoar untuk mendukung aktivitas pejalan kaki serta penanaman kabel listrik dan jaringan provider di bawah tanah guna menciptakan tata kota yang lebih rapi, aman, dan estetis. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#diskusi #kota singaraja #Kedasih #Titik Nol #kmhdi buleleng #penyuluh agama hindu #buleleng