BALIEXPRESS.ID - Dr. I Gusti Made Sunartha, S.Ag., M.M. merupakan salah satu figur sentral dalam pengembangan tata kelola agama Hindu di Indonesia. Lahir di Kemenuh, Gianyar, Bali, pada 31 Desember 1969, ia saat ini mengemban amanah sebagai Direktur Urusan Agama Hindu pada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI, dengan pangkat Pembina Utama Muda (IV/c). Karier panjangnya di lingkungan Kementerian Agama menunjukkan dedikasi konsisten dalam penguatan layanan keagamaan, pendidikan, serta pembinaan umat Hindu lintas wilayah.
Mengawali pengabdian dari Papua, Sunartha pernah menduduki berbagai posisi strategis, mulai dari penyuluh agama, penyelenggara Bimas Hindu, hingga Kepala Subbagian Tata Usaha Kemenag Kota Jayapura. Pengalamannya kemudian berlanjut sebagai Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Papua. Ia juga pernah menjabat Direktur Pendidikan Hindu sebelum akhirnya menjadi Direktur Urusan Agama Hindu Ditjen Bimas Hindu.
Di bidang akademik, Sunartha menempuh pendidikan hingga jenjang doktoral (S3) Ilmu Agama di IHDN Denpasar yang diselesaikan pada tahun 2022. Selain itu, ia aktif sebagai dosen tidak tetap dan dosen tamu di berbagai perguruan tinggi, seperti Universitas Cenderawasih Jayapura, Poltekkes Jayapura, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, hingga lembaga pendidikan keperawatan di Papua. Kiprahnya sebagai pendidik memperlihatkan komitmen kuat dalam integrasi ajaran Hindu dengan pengembangan sumber daya manusia dan kesehatan.
Tak hanya di birokrasi dan akademik, Dr. I Gusti Made Sunartha juga dikenal luas dalam organisasi keumatan. Ia aktif di Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dari tingkat kota, provinsi, hingga pusat, serta menjabat berbagai posisi penting, termasuk Wakil Ketua I PHDI Provinsi Papua dan Anggota Sabha Walaka PHDI Pusat. Ia juga berperan dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Jayapura serta berbagai lembaga lintas iman yang mendorong Papua sebagai tanah damai.
Salah satu prestasi monumental Sunartha adalah mendirikan Pasraman Sutasoma di Kabupaten Nabire, Papua, pada tahun 2015. Pasraman ini tercatat sebagai pasraman formal pertama di Indonesia dengan sistem berasrama (boarding school), mencakup jenjang Pratama, Adi, hingga Madyama Widya Pasraman. Model pendidikan ini kemudian menginspirasi pendirian pasraman formal di berbagai provinsi, termasuk Bali, sebagai bagian dari penguatan pendidikan Hindu yang terstruktur dan berkelanjutan.
Dalam ranah kebijakan nasional, Sunartha juga berkontribusi langsung dalam perumusan regulasi strategis, termasuk Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 2 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Widyalaya. Regulasi ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan pendidikan umum berciri khas agama Hindu di Indonesia. Ke depan, ia mendorong penguatan pendidikan Hindu di Bali melalui model hibrida, yakni penggabungan widyalaya dan pasraman dari tingkat TK hingga SMA/SMK, guna melahirkan generasi Hindu yang cerdas, berkarakter, serta berakar kuat pada adat, seni, dan budaya Bali.
Atas pengabdian panjangnya, Dr. I Gusti Made Sunartha dianugerahi Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya XX Tahun oleh Presiden Republik Indonesia pada tahun 2018. Hingga kini, selain menjalankan tugas negara, ia juga masih mengabdi secara spiritual sebagai mangku di Pura Agung Surya Bhuwana Jayapura Papua dan aktif membina kehidupan keagamaan umat Hindu di berbagai daerah di Nusantara. *
Editor : Putu Agus Adegrantika