Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Koster Tegas Bantah Bali Sepi, Dispar Sebut Kunjungan Mulai Meningkat

Rika Riyanti • Senin, 22 Desember 2025 | 22:58 WIB

NORMAL: Aktivitas di Bandara Ngurah Rai kembali normal setelah sempat padam pada Jumat (10/10) malam
NORMAL: Aktivitas di Bandara Ngurah Rai kembali normal setelah sempat padam pada Jumat (10/10) malam

 

BALIEXPRESS.ID - Gubernur Bali Wayan Koster menepis anggapan bahwa sektor pariwisata Bali mengalami kelesuan pada masa libur Natal dan Tahun Baru 2026.

Ia menegaskan isu tersebut tidak benar karena tidak sesuai dengan data kunjungan wisatawan yang dimilikinya.

Pernyataan itu disampaikan Koster usai menghadiri Rapat Paripurna DPRD Bali, Senin (22/12).

Menurutnya, tren kedatangan wisatawan justru menunjukkan peningkatan setiap hari.

Baca Juga: Menakutkan! Karyawan Minimarket Dipeluk dan Dilecehkan Paksa di Benoa, Pemuda Bali Dibekuk Polisi

“Bohong, saya punya data. Setiap hari totalnya (kedatangan wisatawan) meningkat,” katanya.

Koster memaparkan, jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke Bali saat ini mencapai sekitar 17 ribu orang per hari.

Secara akumulatif, sejak Januari hingga 16 Desember 2025, total kunjungan wisatawan asing telah menembus angka 6,7 juta orang.

Dengan sisa waktu dua pekan menjelang akhir tahun, ia optimistis target 7 juta wisatawan dapat tercapai.

Baca Juga: Pembangunan TPST Desa Anturan Bertahap, Mesin Pilah Sampah Segera Masuki Tahap Uji Coba

“7 juta ini kan akan naik dia (jumlah wisatawan) masih ada sisa 2 minggu,” ucapnya.

Terkait adanya persepsi ketimpangan antara jumlah kunjungan wisatawan dengan tingkat hunian akomodasi, Koster menilai hal tersebut dipengaruhi oleh penggunaan penginapan nonhotel seperti airbnb.

Ia menyebut, sebagian wisatawan memilih tinggal di rumah kos atau akomodasi serupa yang tidak tercatat dan tidak membayar pajak, sehingga kenaikan kunjungan tidak sejalan dengan okupansi hotel dan restoran.

“Saya cek hotel terendah 60 persen, The Meru 80 persen, yang berbintang di Nusa Dua itu 80 persen, sebenarnya bisa tinggi dari itu,” ungkapnya.

Ia menambahkan, maraknya alih fungsi rumah kos menjadi penginapan turut berdampak pada data okupansi resmi.

Koster juga mengungkapkan telah menerima surat dari Kementerian Investasi terkait penyusunan Peraturan Gubernur (Pergub) yang mengatur airbnb.

Sementara itu, menanggapi keluhan sejumlah pengemudi pariwisata dan pemandu wisata yang merasa Bali sepi, Koster menduga kondisi cuaca turut memengaruhi aktivitas wisatawan.

Baca Juga: Dorong Pemulihan Ekonomi Denpasar Pascabencana, Bank BPD Bali Mendukung Penuh Denpasar Festival ke-18

Menurutnya, musim hujan yang disertai banjir di sejumlah wilayah membuat sebagian wisatawan memilih beristirahat di penginapan ketimbang berkeliling destinasi.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya, menyampaikan bahwa lonjakan wisatawan mancanegara sebenarnya sudah terlihat sejak pertengahan Desember.

Ia mencatat, sejak 14 Desember jumlah wisatawan asing yang masuk ke Bali telah melampaui 20 ribu orang per hari.

“Demikian juga wisatawan Nusantara sudah ada kenaikan sejak tanggal 19 Desember 2025,” katanya.

Baca Juga: Menuju Mandiri Energi di Utara Bali

Sumarajaya mengakui, faktor cuaca memiliki pengaruh signifikan terhadap pergerakan wisatawan.

Meski demikian, beberapa destinasi wisata di Bali dilaporkan mengalami peningkatan kunjungan.

“Kita tetap berusaha menciptakan pariwisata berkualitas dan bermartabat. Kita berkoordinasi dengan berbagai pihak, instansi vertikal, perangkat daerah dan kabupaten, termasuk pelaku usaha agar pelayanan kita dalam pariwisata Natal dan Tahun Baru ini bisa lebih bagus,” jelasnya.

Secara umum, ia menyebut kedatangan wisatawan tahun ini mengalami kenaikan dibandingkan periode 2024 dan 2025.

 

Untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem, Dinas Pariwisata Bali telah berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait layanan pariwisata.

Pihaknya juga mengeluarkan imbauan guna menjaga kenyamanan dan keamanan wisatawan selama musim hujan, serta meminta pelaku usaha menyiapkan SOP dan menyosialisasikan do and don’ts kepada wisatawan.

“Mungkin kan banyak sumber, saya tidak menjustifikasi. Tetapi mungkin kalau ritme kehadiran wisatawan per tahun memang di Bali ada yang high dan low season. Memang kita high season ada di juni, juli, Agustus, September. Setelah itu memang ada penurunan secara alami. Tapi tidak begitu tajam dan itu biasa dari tahun ke tahun. Nanti menjelang natal dan tahun baru akan naik kembali,” tutupnya.(***)

Editor : Rika Riyanti
#bali #wisatawan #wayan koster #tahun baru