Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lomba Ngelawar Meriahkan Festival Air Suwat ke-11, Pemuda Desa Adat Suwat Lestarikan Kuliner Tradisional

Putu Agus Adegrantika • Selasa, 30 Desember 2025 | 01:46 WIB
PENILAIAN : Penilaian lomba ngelawar di Desa Adat Suwat, Gianyar.
PENILAIAN : Penilaian lomba ngelawar di Desa Adat Suwat, Gianyar.

BALIEXPRESS. ID– Semangat pelestarian budaya kembali terasa kuat di Desa Adat Suwat, Kabupaten Gianyar. Sekaa Teruna Budhi Luhur Banjar Adat Suwat Kaja menggelar Lomba Ngelawar dalam rangka Festival Air Suwat (FAS) ke-11 Minggu (28/12), sebuah ajang tahunan yang tidak hanya meriah, tetapi juga sarat makna pelestarian kuliner tradisional Bali oleh generasi muda.

Kegiatan yang telah memasuki tahun ke-11 ini diikuti oleh empat kelompok Sekaa Teruna Teruni (STT) se-Desa Adat Suwat. Sejak pagi hari, suasana banjar dipenuhi kesibukan para peserta yang kompak mengolah bahan-bahan lawar, makanan khas Bali yang identik dengan kebersamaan dan gotong royong.

Salah satu juri lomba, I Putu Giri Yudha Putra, mengapresiasi kesiapan panitia dan peserta. Ia menilai pelaksanaan lomba berjalan sangat baik, mulai dari tahap persiapan hingga pelaksanaan di lapangan. Dukungan prajuru desa adat, masyarakat, serta antusiasme para pemuda menjadi kunci sukses terselenggaranya lomba ngelawar dalam Festival Air Suwat ke-11.

Meski demikian, ia mendorong agar lomba ini terus dikembangkan pada tahun-tahun mendatang. "Tantangan dalam pengolahan bahan maupun teknik penyajian dapat ditingkatkan, misalnya dengan memasukkan unsur pengolahan sate penyeneng atau inovasi lain yang masih berakar pada kuliner tradisional Bali, " tegasnya.

Dalam lomba kali ini, para peserta menyajikan beragam jenis lawar dengan bahan yang relatif serupa. Namun, kreativitas, kekompakan tim, serta konsistensi rasa menjadi pembeda utama dalam penilaian. Bahkan, ada kelompok yang menyajikan dua jenis lawar sekaligus, sehingga menantang juri untuk menentukan karakter rasa yang paling kuat dan seimbang.

I Putu Giri Yudha Putra menegaskan bahwa lawar kini tidak hanya dipandang sebagai makanan tradisional, tetapi juga memiliki potensi ekonomi dan daya saing. Menurutnya, cita rasa lawar hasil kreativitas pemuda Desa Adat Suwat sudah berani bersaing, tinggal dikembangkan dari sisi konsistensi rasa dan pengemasan agar bernilai lebih tinggi.

"Lebih dari sekadar ajang memasak, lomba ngelawar ini menjadi sarana penanaman nilai kebersamaan, komunikasi, kolaborasi, dan berpikir kritis bagi generasi muda. Nilai-nilai tersebut dinilai sejalan dengan keterampilan abad ke-21 yang penting dimiliki pemuda tanpa meninggalkan akar budaya lokal, " pungkas Yudha.

Festival Air Suwat ke-11 pun kembali menegaskan komitmen Desa Adat Suwat dalam menjaga tradisi dan memberdayakan generasi muda. Melalui lomba ngelawar, tradisi tetap terjaga, kreativitas pemuda tumbuh, dan warisan kuliner Bali terus hidup dari generasi ke generasi. *

Editor : Putu Agus Adegrantika