BALIEXPRESS.ID - Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, secara resmi melantik Dr. I Gusti Made Sunartha, S.Ag., M.M. sebagai Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali pada Selasa (30/12). Pelantikan ini menandai babak baru pengabdian Gusti Made Sunartha setelah menorehkan rekam jejak panjang di tingkat nasional sebagai Direktur Urusan Agama Hindu Ditjen Bimas Hindu Kemenag RI.
Putra kelahiran Kemenuh, Gianyar, 31 Desember 1969 ini dikenal sebagai salah satu figur sentral dalam pengembangan tata kelola agama Hindu, pendidikan keagamaan, serta pembinaan umat lintas daerah di Indonesia. Gusti Sunartha dipercaya memimpin Kemenag Bali di tengah tantangan penguatan moderasi beragama, layanan keagamaan, dan pendidikan berbasis kearifan lokal Bali.
Karier birokrasi Gusti Sunartha ditempa dari wilayah timur Indonesia, khususnya Papua. Ia memulai pengabdian sebagai penyuluh agama Hindu, penyelenggara Bimas Hindu, hingga Kepala Subbagian Tata Usaha Kemenag Kota Jayapura. Pengalaman lapangan tersebut mengantarkannya menjadi Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Papua, sebelum dipercaya menduduki jabatan strategis saat ini.
Gusti Sunartha menegaskan bahwa amanah jabatan yang diemban bukanlah beban pribadi, melainkan tanggung jawab bersama yang harus disyukuri dan dijalani dengan semangat kolektif. Di tengah kompleksitas kebijakan pusat yang harus disesuaikan dengan karakter dan kekhasan daerah, ia mengingatkan seluruh jajaran untuk tidak larut dalam tekanan maupun persoalan yang dihadapi.
"Keberhasilan manajerial sebuah organisasi tidak ditentukan oleh figur pejabat semata, melainkan oleh soliditas kerja tim, komunikasi yang efektif, serta kemauan untuk saling bekerja sama," tegasnya saat dikonfirmasi.
Gusti Made Sunartha juga menekankan bahwa organisasi formal bukanlah panggung individu, tetapi ruang kolaborasi yang menuntut keterlibatan seluruh elemen, termasuk kaum intelektual dan generasi muda, demi menjamin keberlanjutan budaya, seni, dan nilai-nilai keagamaan.
Dalam konteks perkembangan zaman, disoroti tantangan umat yang kian dihadapkan pada orientasi materialistis. Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi menggeser nilai spiritualitas jika tidak diimbangi secara bijak. “Manusia mungkin dapat hidup dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tanpa agama akan kehilangan arah. Karena itu, dibutuhkan keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa agama dan pendidikan agama memiliki peran strategis dalam melahirkan peradaban baru yang berkarakter. Meski minat masyarakat terhadap pembelajaran spiritual masih ada, pendekatan keagamaan ke depan perlu dibuktikan secara ilmiah dan aplikatif. Menurutnya, ajaran agama tidak cukup disampaikan secara konvensional atau mitologis semata, tetapi perlu ditunjukkan dampak nyatanya dalam kehidupan sosial, etika, dan pembangunan manusia.
Lebih lanjut, Kakanwil menyampaikan bahwa langkah awal kepemimpinannya akan difokuskan pada konsolidasi internal. Ia mengingatkan bahwa perubahan dalam sebuah lembaga tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan proses, kesabaran, dan kesepahaman bersama. Dengan fondasi kerja tim yang kuat, komunikasi yang terbuka, serta visi yang sama, ia optimistis Kemenag Bali mampu menjawab tantangan zaman sekaligus tetap menjaga jati diri keagamaan dan budaya Bali. *
Editor : Putu Agus Adegrantika