Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Seniman Badung Kembali Wakili Indonesia Ikuti Kompetisi Patung Es di Cina

Putu Resa Kertawedangga • Rabu, 31 Desember 2025 | 02:28 WIB

Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa saat melepas Himpunan Seniman Pecatu yang akan mengikuti gelaran kompetisi patung es di Harbin, Cina, Senin (29/12).
Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa saat melepas Himpunan Seniman Pecatu yang akan mengikuti gelaran kompetisi patung es di Harbin, Cina, Senin (29/12).

BALIEXPRESS.ID - Seniman asal Badung kembali akan mewakili Indonesia dalam kompetisi patung es di Harbin, Cina.

Dalam The 28th China Harbin International Snow Sculpture Competition di Harbin, China, pada Januari 2026 ini empat seniman asal Pecatu, Kuta Selatan akan membuat patung dengan tema Dewi Dewantari.

Meski harus menghadapi perbedaan cuaca, tak membuat seniman Badung gentar.

Baca Juga: Dr. I Gusti Made Sunartha Dilantik Jadi Kakanwil Kemenag Bali, Sempat Ditempa di Papua Kini Kembali ke Tanah Kelahiran

Koordinator tim seniman, I Nyoman Sungada mengatakan, Himpunan Seniman Pecatu akan menjadi delegasi Indonesia dalam kompetisi yang berlangsung pada 6-9 Januari 2026.

Tim yang diberi nama Garuda I ini beranggotakan empat seniman, yakni Nyoman Sungada, Ketut Suaryana, Gede Agus Kurniawan, dan Gede Agus Anggara Putra.

“Kami akan berangkat ke Cina pada 2 Januari 2026 untuk melakukan adaptasi cuaca ekstrem yang diperkirakan mencapai minus 16 derajat Celsius. Jadi sekalian juga kami menyisakan waktu untuk mempersiapkan peralatan dan strategi pengerjaan,” ujar Sungada.

Baca Juga: Prof. Dr. Ni Komang Sutriyanti,Akademisi Pendidikan Agama Hindu Kelahiran Gianyar, Sabet Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Etika Pendidikan

Pihaknya mengaku, delegasi Indonesia mengusung tema Dewi Dewantari, yakni figur sakral yang merepresentasikan kesuburan, penyelamatan, dan keseimbangan alam semesta.

Tema ini diangkat dari karya patung yang sebelumnya pernah dibuat Sungada di kawasan Batu Belig, Kerobokan.

“Menurut saya, filosofinya masih relevan dengan kondisi dunia saat ini yang gonjang-ganjing dan penuh ketidakpastian. Dewi Dewantari digambarkan dengan sepuluh tangan yang memegang berbagai simbol seperti cakra sebagai perputaran alam, daun sebagai alam, bayi sebagai penciptaan, uang sebagai rezeki, lontar sebagai pengetahuan, dan tirta amerta sebagai keabadian,” ungkapnya.

Baca Juga: Nuansa Lawas Warnai HUT ke-65 ST Werdi Yasa Penestanan Kaja, Angkat Nostalgia dan Kreativitas Pemuda

Sungada menerangkan, persiapan teknis juga menjadi tantangan tersendiri.

Sebab, kompetisi ini menggunakan es berukuran raksasa berbentuk silinder dengan diameter tiga meter dan tinggi empat meter, yang dicetak dan dipadatkan menggunakan eskalator khusus.

Proses latihannya pun menggunakan berbagai siasat.

Jika dulu mereka sempat berlatih menggunakan freezer sebesar kamar tidur, kini latihan dilakukan dengan media styrofoam berukuran lebih kecil setinggi 1,5 meter.

“Karena freezer kami rusak, jadi latihan dilakukan seperti itu. Persiapan dilakukan selama tiga bulan sejak tahap pencarian ide agar setiap anggota tim memahami perannya masing-masing. Kami juga harus membuat miniatur, sketsa berukuran detail, serta latihan pembagian kerja jauh hari sebelumnya,” terangnya.

Dalam kompetisi ini dirinya pun menargetkan setidaknya menembus tiga besar.

Sebab dari pengalamannya berdiskusi dengan para juri internasional, dua aspek terpenting dalam kompetisi ini adalah orisinalitas desain dan kekuatan filosofi.

Sungada bersama tim tentunya bukanlah pertama kali mengikuti kompetisi ini.

Ia telah mengikuti kompetisi patung es internasional sejak 2013, berlanjut pada 2015 hingga 2020.

Sempat terhenti akibat pandemi Covid-19, lalu kembali aktif dari 2023 hingga 2026.

Selama keikutsertaan tersebut, tim Indonesia pernah meraih satu gelar juara pertama, empat kali juara tiga, dua penghargaan best skill, tiga penghargaan commemorative prize, serta satu kali kegagalan pahit di Sapporo, Jepang, akibat kesalahan membaca perubahan suhu yang menyebabkan patung hancur sebelum penilaian.

Keberangkatan kali ini juga didukung dana pribadi sebesar Rp50 juta dari Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa.

Pihaknya memberikan apresiasi dan dukungan kepada Seniman Pecatu serta berdoa agar kembali menorehkan prestasi yang dapat mengharumkan nama Badung, Bali, dan Indonesia di kancah internasional.

Prestasi dan pengalaman yang didapat selama mengikuti ajang ini diharapkan dapat dikembangkan bagi seniman-seniman muda di Badung.

“Selaku kepala daerah, kami sangat bangga karena putra daerah Badung mampu berprestasi di forum internasional. Pemerintah Badung tidak menutup mata terhadap masyarakat yang berprestasi baik di tingkat nasional maupun internasional. Kami telah menyiapkan program bagi masyarakat berprestasi dengan nilai maksimal Rp100 juta. Ini sebagai bentuk apresiasi pemerintah kepada warga Badung yang berprestasi,” jelasnya. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#cina #seniman #harbin #patung #indonesia