Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Teatrikal Sloka Iringi Prosesi Nunas Taru di Pura Dalem Silapegat, Bumi Bajra Padukan Ritual dan Seni Bali Kuno

I Gede Paramasutha • Minggu, 4 Januari 2026 | 21:53 WIB
Teatrikal Bumi Bajra saat Upacara Nunas Taru di Pura Dalem Silapegat, Desa Adat Lepang. (Bali Express/I Gede Paramasutha)
Teatrikal Bumi Bajra saat Upacara Nunas Taru di Pura Dalem Silapegat, Desa Adat Lepang. (Bali Express/I Gede Paramasutha)

BALIEXPRESS.ID — Prosesi sakral Nunas Taru di Pura Dalem Silapegat, Desa Adat Lepang, Desa Takmung, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Minggu (4/12), berlangsung berbeda dari biasanya. Kali ini, ritual pengambilan bagian pohon untuk dijadikan Tapakan/Pelawatan Ida Betara tersebut diiringi sebuah pementasan teatrikal sloka yang digarap khusus oleh Komunitas Bumi Bajra asal Batubulan, Gianyar.

Ketua Komunitas Bumi Bajra, Ida Made Dwipayana, menjelaskan bahwa pementasan ini merupakan permintaan langsung dari krama dan seniman setempat. Komunitasnya diminta menginterpretasikan prosesi Nunas Taru ke dalam bentuk pertunjukan, namun tetap berpijak kuat pada nilai-nilai tradisi dan idiom Bali.

“Ini pengalaman yang sangat jarang bagi kami. Baru kali ini kami diminta terlibat langsung dalam prosesi Nunas Taru. Karena ini menyangkut sungsungan Desa Adat, kami sangat hati-hati agar konsepnya kuat, tidak asal tampil,” ujar Dwipayana.

Pementasan tersebut dikoreografikan oleh Ida Ayu Wayan Arya Satyani, koreografer sekaligus Dosen Tari ISI Denpasar. Ia meramu pertunjukan sebagai satu kesatuan ritual, bukan sekadar tontonan, dengan memadukan beberapa konsep tua Bali yang sarat makna filosofis.

Konsep pertama yang diangkat adalah Kanda Pat, yang meyakini bahwa tidak hanya manusia, tetapi juga pohon dan unsur alam memiliki penjaga spiritual. Konsep ini kemudian diperkaya dengan teks Wiswakarma, yang divisualkan melalui kain kasa dalam tarian.

Wiswakarma dipahami sebagai Begawan perancang semesta, dewa para undagi dan sangging tapel, sehingga relevan dengan proses penciptaan tapel dari kayu yang dinunas.

Unsur berikutnya adalah Wayang Beber, media wayang kuno berbentuk lukisan di atas kain, yang menampilkan figur-figur dalam Kanda Pat seperti, Mrajapati, Banaspa, Banaspati Raja dan Angga Patih.

Setelah itu, pementasan berlanjut dengan Legong yang membawakan Pasuk Wetu, yang memaknai napas keluar-masuk manusia sebagai energi yang bersinergi dengan semesta.

Tak kalah penting, konsep Yantra turut dihadirkan. Pola pembacaan teks Wiswakarma yang menyerupai Padma, berkembang dari pusat ke sisi-sisi, layaknya menggambar bunga. Usai prosesi Nunas Taru selesai, Legong kemudian mengiringi pemundut menuju tempat yang telah disiapkan sebagai penutup pementasan.

“Pementasan ini memang tidak berdiri pada satu konsep tunggal, tapi beberapa konsep yang kami rajut agar menyatu dengan tahapan upacara. Harapannya, ke depan ini bisa menjadi cikal bakal pementasan yang baru dalam menghormati pohon sebelum dijadikan ciptaan sakral,” jelas Dwipayana.

Dalam pementasan ini, sekitar 15 seniman dilibatkan, termasuk penari dan penabuh. Instrumen yang digunakan antara lain gender wayang, suling gambuh, kangsi, gentorag, dan gong.

Menariknya, para pelaku seni dituntut bersifat ngeraweg, tidak hanya bisa menari, tetapi juga bisa menabuh dan mekidung.

Persiapan pementasan dilakukan dalam waktu sekitar satu minggu, dimulai dari penggalian literasi, pemilihan teks yang sesuai, hingga proses plotting yang diselaraskan dengan situasi dan tahapan upacara. Menurut Dwipayana, narasi yang kuat menjadi kunci agar pementasan ini tidak kehilangan konteks sakralnya.

“Kalau ada yang bertanya ini ngapain, narasinya harus jelas dan kuat. Tidak cukup hanya indah, tapi harus nyambung dengan yadnya-nya. Setiap upacara punya ruh yang berbeda,” tegasnya. (*)

Editor : I Gede Paramasutha
#Bumi Bajra #Pura Dalem Silapegat #Nunas Taru