Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jejak Hidup I Nyoman Mongol, Empu Arja dari Ole

Dian Suryantini • Kamis, 8 Januari 2026 | 09:00 WIB

Almarhum Nyoman Mongol semasa hidup.
Almarhum Nyoman Mongol semasa hidup.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS — Dunia seni tradisi Bali kembali kehilangan satu penopang sunyinya. I Nyoman Mongol, seniman arja, penari wijil, pengukir, sekaligus pengabdi adat dari Desa Adat Ole, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, berpulang pada Jumat, 2 Januari 2026. Upacara ngaben dilaksanakan pada Selasa, 6 Januari 2026, di desa kelahirannya, tempat ia menanamkan seluruh hidup dan karyanya.

Nama I Nyoman Mongol mungkin tak lagi sering disebut dalam peta seni Bali kontemporer. Namun bagi denyut arja tradisi, tari wijil, dan seni rupa upacara, ia adalah salah satu seniman wijil—seniman yang lahir dari keseharian rakyat, tumbuh tanpa panggung besar, dan berkarya dalam kesetiaan pada komunitas adat.

Lahir sekitar tahun 1942 di Ole, I Nyoman Mongol menempuh jalan kesenian bukan melalui pendidikan formal, melainkan lewat pengalaman hidup yang menyatu dengan kerja kolektif. Ia belajar menari, memahami gending, dan menyerap agem gerak melalui keterlibatan langsung dalam sekaa-sekaa arja. Pengetahuan yang ia miliki adalah pengetahuan hidup—diturunkan dari praktik, pengamatan, dan kebersamaan.

Pada dekade 1960-an, ia aktif menghidupi kesenian arja Cupak bersama berbagai kelompok seni. Di masa yang sama, kehidupan ekonominya bertumpu pada kerja agraris. Bersama sang istri, Ni Nyoman Mandiri (almarhum), yang juga seorang penari dan petani, ia tergabung dalam sekaa nandur, kelompok buruh tani penanam bawang putih yang bekerja lintas desa, bahkan lintas kecamatan—dari Marga hingga Penebel dan Baturiti.

Baca Juga: Menjejakkan Kata, Merajut Makna : Kiprah Made Adnyana Ole dalam Sastra Bali

Di ladang-ladang itulah, seni dan kerja berkelindan. Saat tangan menanam bawang, pikirannya menghafal ucapan penasar, gending, dan pola gerak tari wijil. Ladang menjadi ruang latihan tanpa dinding. Hasil kerja sebagai buruh tani digunakan untuk membeli properti pertunjukan arja.

"Bapak tidak pernah belajar secara akademik. Belajar sendiri saja di rumah, di sawah," ujar Made Adnyana, putra keduanya, belum lama ini.

Selain penari, I Nyoman Mongol dikenal sebagai pengukir dan pembuat perlengkapan upacara. Ia membuat bade ngaben, properti seni, hingga panggul dari kayu kemuning yang dibuat sepenuhnya dengan tangan. Panggul-panggul karyanya digunakan oleh anak-anak, sanggar, bahkan pelajar ASTI Bali (kini ISI Bali). Karyanya tidak pernah diberi nama.

Almarhum Nyoman Mongol semasa hidup.
Almarhum Nyoman Mongol semasa hidup.

Untuk menopang hidup, ia juga membuat alat permainan judi tradisional “bola adil". Permainan itu dirakit manual dengan ketelitian tinggi. Alat itu dibawanya berkeliling odalan dan arena sabung ayam, termasuk di Pura Natar Sari Apuan. Di sela keramaian, ia tetap siap ngayah—mengangkat ketungan, membawa kotak tari, dan meminjamkan properti kepada siapa pun yang membutuhkan. Kehilangan barang bukanlah soal baginya, selama seni tetap berlangsung.

"Pernah suatu hari, saat menggelar permainan bola adil, sekaa arja yang tampil kekurangan penari. Bapak saya dipanggil diminta menari. Jadinya bola adil itu dipercayakan ke orang lain lalu bapak menari," ujar Adnyana sambal tertawa, mengenang peristiwa lucu yang dialami ayahnya saat itu.

Dalam pementasan, ia kerap berpasangan dengan penari Penasar I Riyuh serta Penasar I Nyoman Santa (Walaka) atau Ida Sri Empu Daksasamyoga.

Pengabdian keluarga ini pada seni mencapai bentuk paling nyata pada 1990-an dengan berdirinya Sanggar Burat Wangi—ruang belajar dan pewarisan seni arja. Dari keluarga ini lahir generasi penerus yang berkesenian dalam berbagai medium. Mulai dari sastra, teater, tari, film, hingga musik akademik.

Seperti banyak seniman tradisi, nama I Nyoman Mongol perlahan memudar dari ingatan publik. Tidak meninggalkan arsip megah tetapi selalu hadir ketika dibutuhkan.

Mengingat kembali I Nyoman Mongol bukan sekadar mengenang satu nama, melainkan merawat kesadaran bahwa tradisi hidup karena kesetiaan orang-orang seperti dirinya—yang menjaga seni dari ladang, pura, hingga panggung adat, dalam kesunyian yang panjang. ***

Editor : Dian Suryantini
#Mongol #tradisi bali #ole #adat #wijilan #tabanan #Arja #Cupak